- KSAD Maruli Simanjuntak mempertanyakan sumber pendanaan film dokumenter Pesta Babi yang mengangkat isu masyarakat adat di Papua.
- Film dokumenter tersebut menyoroti dampak negatif pembukaan hutan skala besar bagi kehidupan dan tanah masyarakat adat Papua.
- Masyarakat adat suku Marind, Yei, dan Awyu melakukan aksi penolakan ekspansi industri melalui simbol pemasangan salib merah.
Suara.com - Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Maruli Simanjuntak menjadi sorotan publik setelah menyinggung pendanaan film dokumenter berjudul “Pesta Babi” dalam sebuah pernyataan kepada awak media.
Pernyataan tersebut kemudian memicu berbagai tanggapan karena berkaitan dengan isu sensitif mengenai produksi film dokumenter yang mengangkat kehidupan masyarakat adat di Papua.
Dalam wawancara tersebut, Maruli Simanjuntak mempertanyakan sumber dana pembuatan film yang menurutnya menampilkan adegan-adegan dengan skala produksi besar.
Ia menyinggung proses pembuatan film yang dianggap melibatkan perjalanan dan pengambilan gambar di berbagai lokasi.
“Sekarang permasalahannya orang sampai membuat video. Bagaimana ceritanya seperti ini segala macam, duitnya dari mana? Jawab aja ya kan,” ujarnya kepada awak media.
Ia juga menambahkan bahwa proses produksi dokumenter tersebut tampak melibatkan banyak aktivitas, termasuk perjalanan ke lokasi tertentu dengan biaya yang tidak sedikit.
“Sampai datang ke sana, bikin video terbang sini terbang sana, orang berduitlah,” sambungnya.
Saat wartawan mencoba menanyakan lebih lanjut mengenai dugaan adanya pihak yang mendanai film tersebut, Maruli Simanjuntak merespons dengan pernyataan yang lebih santai.
Ia tidak memberikan penjelasan lebih jauh, namun menegaskan bahwa pertanyaan mengenai pendanaan bukan berasal darinya secara langsung.
Baca Juga: Sinopsis Pasar Setan yang Dibintangi Audi Marissa, Tayang Malam Ini di ANTV
“Silakan aja ya. Kan Anda yang bilang ada yang mendanai loh, bukan saya,” katanya sambil tertawa.
Film dokumenter “Pesta Babi” sendiri mengangkat kisah kehidupan masyarakat adat di wilayah Papua.
Film ini menyoroti perubahan besar yang terjadi akibat pembukaan hutan dalam skala luas untuk proyek pangan dan bioenergi yang sedang berjalan di kawasan tersebut.
Cerita dalam dokumenter ini berfokus pada pengalaman masyarakat adat yang terdampak langsung, termasuk tokoh-tokoh seperti Yasinta Moiwend dari suku Marind, Vincen Kwipalo dari suku Yei, serta komunitas Awyu.
Mereka digambarkan sebagai kelompok yang berusaha mempertahankan tanah leluhur mereka dari ekspansi industri besar.
Dalam narasinya, film ini memperlihatkan bagaimana kawasan hutan adat perlahan berubah menjadi perkebunan skala besar.
Berita Terkait
-
Film Terbaru Garapannya Diulas Negatif dengan Diksi Menohok, Baim Wong: Kaget Bacanya
-
Happy Asmara Bikin Pokemon Dangdutan, Debut Jadi Pengisi Suara Anime hingga Punya Goyang HePika
-
Saputra Kori Bawa Jimat dari Bali demi Syuting Film Horor di Korea
-
Sinopsis Train Dreams: Kisah Penebang Kayu yang Menembus Nominasi Oscar, Tayang di Netflix
-
Ria Ricis Tampil di Film Keluarga Suami Adalah Hama, Netizen Penasaran Reaksi Keluarga Teuku Ryan
Terpopuler
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 30 Wakil Menteri Rangkap Jabatan Jadi Komisaris BUMN, Ini Daftar Namanya
- 4 Moisturizer di Alfamart untuk Hempas Flek Hitam Berdasarkan Review Pengguna
- 5 Kipas Angin Sedingin AC Lebih Murah dan Irit Listrik
- Ramalan 12 Shio Bulan di Juli 2026: Peruntungan Karier, Keuangan, Asmara, dan Kesehatan
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Teaser Poster "Bapakmu Kiper" Dirilis, Fedi Nuril Jadi Kiper Tarkam di Film Komedi Terbaru
-
Disambut Penonton BIFAN 2026, Film 402 Rumah Sakit Angker Korea Gelar Premiere
-
Melawan Arus Viral, Agushafi Gandeng Satrio ALEXA Lahirkan Pop Ballad Grande 'Tunggu Apa Lagi'
-
Fancon Kim Myungsoo di Jakarta Tinggal Hitungan Jam, Simak Rundown dan Jadwal Benefitnya
-
Momen Haru Ruben Onsu dan Igun di Tanah Suci: dari Cuaca 50 Derajat hingga Me-Time di Depan Kabah
-
Kisah TikToker Kiki Jupe, dari Guru Honorer Kini Jadi Pengusaha Kuliner Sukses
-
Prambanan Jazz Festival 2026 Rayakan Sukacita Lewat Tema Celebrate The Joy
-
Prambanan Jazz 2026 Siapkan Konsep 'Playing Jazz', Sejumlah Musisi Lintas Genre Akan Tampil Beda
-
Boby Berliandika X Factor dan Istri Rajut Karier Musik hingga Bisnis di Tengah Gempuran Digitalisasi
-
Pulang Umrah, Ruben Onsu Akhirnya Buka Suara soal Gugatan Hak Asuh Anak ke Sarwendah