Makna Mendalam Surah Ad-Duha yang Viral Dibaca Demi Hadiah Miras di The Sounds Project

Selasa, 11 Agustus 2026 | 18:53 WIB
Makna Surah Adh-Duha yang Viral Berhadiah Miras di The Sounds Project [Istimewa]
  • Majelis Ulama Indonesia mengecam keras promosi minuman keras menggunakan tantangan hafalan Al-Qur'an di festival musik.
  • Kasus tersebut terungkap setelah sebuah akun Threads membagikan video booth produk minuman beralkohol di The Sound Project.
  • Tindakan tersebut memicu kecaman publik karena dianggap telah melewati batas kepatutan keagamaan dan moral.

Suara.com - Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengecam keras promosi minuman keras (miras) yang menggunakan tantangan hafalan Al-Qur'an.

Ketua MUI Bidang Fatwa, Prof KH Asrorun Niam Sholeh, mengatakan penggunaan ayat suci untuk mempromosikan minuman beralkohol telah melewati batas kepatutan.

“Tindakan tersebut tidak bisa dibenarkan, baik secara keagamaan, moral etika, maupun secara hukum. Pelaku harus mempertanggungjawabkan perbuatannya,” tegas Prof Niam dinukil dari laman resmi MUI.

Kasus tersebut mencuat setelah akun Threads @JARRKOJARR membagikan pengalamannya ketika menghadiri festival musik The Sound Project.

Dalam unggahannya, akun tersebut memperlihatkan sebuah booth produk miras New Port yang mengadakan tantangan hafalan Surah Ad-Duha.

Peserta tantangan disebut diminta menghafalkan ayat Surah Ad-Duha dengan imbalan berupa sebotol minuman beralkohol.

Konten tersebut kemudian menyebar luas di media sosial dan memicu reaksi maraj publik.

Booth Newport di The Sounds Project (Bidikan layar video viral/diedit dengan AI).

Makna Surah Ad-Duha

Frasa “waḍ-ḍuḥā, wal-laili iżā sajā” yang diucap pengunjun acara The Sounds Project di booth Newport demi mendapatkan hadiah sebotol miras memiliki makna yang sangat suci.

waḍ-ḍuḥā, wal-laili iżā sajā, merupakan dua ayat pertama Surah Ad-Duha, surah ke-93 dalam Al-Qur'an.

Ayat tersebut bermakna “Demi waktu dhuha” dan “Dan demi malam apabila telah sunyi.”

Surah Ad-Duha sendiri memiliki pesan yang sangat erat dengan penguatan hati dan penegasan kasih sayang Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW.

Surah tersebut turun dalam konteks ketika Nabi Muhammad SAW mengalami masa terhentinya wahyu.

Kaum musyrik kemudian mengejek beliau dengan mengatakan bahwa Tuhannya telah meninggalkannya.

Melalui ayat-ayat berikutnya, Allah SWT menegaskan bahwa Dia tidak meninggalkan dan tidak membenci Nabi Muhammad SAW.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com