- Yayasan Rumah Harapan Melanie menyalurkan bantuan kemanusiaan untuk korban kebakaran hutan di Kalimantan Tengah.
- Kebakaran hutan meluas hingga 800 ribu hektar dan memicu penetapan status tanggap darurat bencana.
- Bantuan yang didistribusikan meliputi pasokan air bersih serta ruang oksigen bagi anak-anak dan lansia.
Suara.com - Warga di Flores masih membutuhkan bantuan setelah gempa besar melanda wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) beberapa hari lalu.
Gempa susulan masih terus terjadi, kebanyakan warga masih berdiam diri di tenda-tenda pengungsian.
Dalam waktu yang sama kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Kalimantan semakin membesar. Melanie Subono pecah konsentrasi untuk membantu.
Karhutla yang terjadi di wilayah Kalimantan khususnya Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur sudah terjadi sejak beberapa waktu lalu.
Namun tidak tersentuh bantuan, dan kini api yang membumi hangus hutan pun semakin meluas.
Lewat yayasan yang didirikannya, Rumah Harapan Melanie, ia bergerak menuju wilayah kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.
Total lahan yang terbakar mencapai 800 ribu hekar dan ditetapkan status tanggap darurat bencana karhutla.
"Ini membesar bersamaan dengan bencana lain (NTT) yang juga kita pegang, namun Kalimantan ini ketutupan. Padahal banyak anak-anak yang terimbas. Inilah sebab anak-anak terlahir dan tumbuh dengan ISPA, yang seharusnya enggak terjadi. Belum lagi lansia, ibu-ibu, semua terimbas," ujar Melanie dalam ketereangan resmi.
Bantuan yang diturunkan meliputi distribusi air kepada warga yang terdampak kekeringan, dan juga ruang oksigen untuk mereka yang terdampak kabut asap.
Kebanyakan mereka anak kecil dan lansia yang lebih rentan sakit, apalagi jika paparan tersebut benar-benar terjadi setiap saat bahkan ketika tidur.
Sementara itu satgas darat yang sudah berminggu-minggu tidak berhenti memadamkan api mulai membutuhkan dukungan logistik seperti masker, air mineral juga vitamin.
Api yang terus membesar juga berbahaya jika terus merambat ke area pemukiman warga yang kebanyakan berbahan kayu.
"Ini kalau hutan habis, kemana-mana lagi masalahnya. Banjir datang lebih mudah, binatang kehilangan makanan dan tempat tinggal nanti ke area warga jadi buruan," imbuh Melanie.
"So sad sih mereka kehilangan rumahnya. Ini solusinya cuma sesaat soalnya. Kalau ada kebakaran ayo padamkan, saat enggak ada kebakaran deforestasi jalan terus," katanya menyambung.
Di wilayah yang sama kebetulan adalah habitat dari orangutan. Banyak orangutan yang kini tersingkir karena rumahnya telah terbakar habis.
Sementara hewan liar yang kehilangan tempat mereka mencari makan dan tinggal pun kemungkinan banyak akan mulai mendekati pemukiman dan jadi masalah baru bagi warga sekitar