Film Indonesia Makin Jadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri, 531 Karya Masuk FFI 2026

Jum'at, 04 September 2026 | 19:28 WIB
Ketua Umum Komite Festival Film Indonesia (FFI) 2026 Ario Bayu (kiri) dan Duta Festival Film Indonesia (FFI) 2026 Nirina Zubir (kanan) saat media visit FFI 2026 di kantor Suara.com, Jakarta Barat, Jumat (4/9/2026). (Suara.com/Mohammad Rhadzaki Ramadhan)

FFI 2026 juga menyiapkan program yang tidak berhenti pada malam penghargaan. Salah satunya adalah Masterclass yang menghadirkan sejumlah profesional perfilman sebagai mentor.

Program ini melibatkan Joko Anwar sebagai mentor penyutradaraan, Tumpal Tampubolon untuk penulisan skenario, Faozan Rizal untuk sinematografi, Hendra Adhi untuk penyuntingan, Aktris Handradjasa untuk tata rias, Hagai Pakan untuk tata busana, serta Rukman Rosadi untuk akting.

Materi Masterclass akan dipublikasikan secara terbuka melalui platform FFI sehingga dapat diakses masyarakat yang ingin belajar tentang perfilman. Program ini direncanakan hadir dalam 10 episode dan mulai tersedia sekitar akhir September 2026.

Nirina menilai akses terhadap pengetahuan penting untuk memperluas kesempatan di industri film, terutama bagi mereka yang berada di luar Jakarta atau belum memiliki kesempatan bertemu langsung dengan para profesional.

Knowledge itu mahal. Kesempatan untuk mendapatkan knowledge juga tidak selalu datang,” kata Nirina.

Bagi Nirina, FFI tidak seharusnya hanya menjadi ruang untuk mengumumkan siapa yang memenangkan Piala Citra. Pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki pelaku industri juga perlu diteruskan kepada generasi berikutnya.

Penonton Bisa Kenal Film yang Masuk Nominasi

FFI 2026 turut menghadirkan Nomination Week sebagai respons terhadap salah satu pertanyaan yang kerap muncul dari masyarakat.

Ario mengatakan FFI menerima komentar dari publik yang mempertanyakan mengapa mereka belum pernah menonton film yang masuk nominasi. Karena itu, FFI menyiapkan pemutaran film-film nominasi bersama mitra ekshibisi.

Program ini akan menghadirkan film dari berbagai kategori, termasuk film cerita panjang, film pendek, dokumenter panjang dan dokumenter pendek. Detail jadwal serta mekanisme pendaftaran akan diumumkan melalui kanal resmi FFI.

Langkah ini diharapkan membuat masyarakat tidak hanya mengenal pemenang pada malam penghargaan, tetapi juga memahami karya-karya yang menjadi bagian dari proses penjurian.

Bangun Sistem Penjurian yang Meritokratis

Ario juga menekankan pentingnya sistem penjurian yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan. Menurutnya, FFI harus memastikan penghargaan diberikan berdasarkan kualitas karya, bukan popularitas atau kedekatan personal.

Ia mengatakan proses pembenahan dilakukan bersama komite penjurian dan berbagai pemangku kepentingan perfilman. FFI juga membuka ruang diskusi melalui forum group discussion (FGD) dengan asosiasi serta pihak lain di dalam ekosistem.

“Kenapa yang menang itu-itu lagi? Dulu saya juga pernah bertanya begitu. Tapi ketika masuk ke dalam, kita sadar sistemnya memang harus diperbaiki,” kata Ario.

Baginya, FFI memiliki tanggung jawab sebagai bagian dari ekosistem perfilman Indonesia. Festival ini bukan hanya memberi penghargaan, tetapi ikut membangun reputasi, membuka ruang apresiasi dan mendorong perkembangan para pembuat film.

Askala, Cahaya yang Menjadi Harapan

Semangat itu kemudian dirangkum melalui tema FFI 2026, “Askala Karya Sinema Indonesia.”

Nirina menjelaskan, “Askala” berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti cahaya. Baginya, cahaya selalu menemukan celah untuk hadir, bahkan ketika seseorang berada dalam kondisi gelap.

“Cahaya itu kayak harapan. Apapun itu, cahaya memberikan harapan,” ujar Nirina.

Dalam konteks perfilman Indonesia, cahaya itu hadir melalui cerita yang mampu memberikan kehidupan, menghadirkan kembali memori, sekaligus membawa penonton merasakan sesuatu dari pengalaman manusia.

Ario menambahkan, konsep “karya” dalam tema FFI 2026 berkaitan dengan gagasan Ki Hajar Dewantara tentang cipta, rasa dan karsa. Karya diharapkan menjadi sesuatu yang lahir dari proses berpikir, merasakan dan berkarya, lalu memberikan cahaya bagi perkembangan sinema Indonesia.

Bagi keduanya, film tidak hanya menjadi hiburan. Film dapat menjadi cara untuk melihat kehidupan, membaca kondisi sosial, mengangkat persoalan masyarakat, sekaligus memperkenalkan identitas Indonesia kepada dunia.

Karena itu, FFI 2026 ingin mendorong semakin banyak cerita lahir dari Indonesia, dengan semakin banyak talenta, genre dan perspektif.

Nirina juga mengajak penonton memberi ruang bagi eksperimen. Menurutnya, kemunculan genre baru seperti zombie, alien hingga perkembangan visual effects dapat menjadi bagian dari proses belajar dan pertumbuhan industri.

“Kalau kita pengen coba, kenapa tidak?” kata Nirina.

FFI 2026 akan memasuki Malam Nominasi pada pekan ketiga Oktober 2026, sebelum ditutup melalui Malam Anugerah FFI pada 20 November 2026.

Melalui rangkaian program itu, FFI 2026 ingin menjadikan perayaan film Indonesia sebagai proses yang lebih panjang, dari penciptaan karya, pembelajaran, apresiasi penonton hingga penghargaan.***

Kontributor: Mohammad Rhadzaki Ramadhan

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com