- Simbang Kulon Night Carnival 2026 di Kabupaten Pekalongan pada Kamis menuai polemik karena menampilkan ritual pemujaan setan.
- Acara tersebut menampilkan adegan teatrikal penyembelihan kambing hidup hingga berdarah serta penggunaan atribut pentagram terbalik di jalanan.
- Dampak acara memicu insiden pengeroyokan pemuda dan kematian seorang talent pengena kostum iblis raksasa berinisial AF.
Suara.com - Gelaran Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 di wilayah Buaran, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, berujung pada polemik panjang di tengah masyarakat.
Acara karnaval malam yang diselenggarakan pada Kamis (10/9/2026) tersebut menuai sorotan tajam dan viral di media sosial lantaran dinilai menampilkan properti serta adegan yang sangat identik dengan ritual pemujaan setan atau Satanic.
Istilah SK Night Pekalongan NU kini ramai diperbincangkan oleh warganet. Kritik keras mengalir deras mengingat wilayah Simbang Kulon selama ini dikenal sebagai kawasan yang menjunjung tinggi nilai agama dan merupakan salah satu basis kuat jemaah Nahdlatul Ulama (NU).
Melansir berbagai sumber, SKNC sendiri disebut sebagai salah satu perayaan Maulid Nabi Muhammad sekaligus menjadi bagian dari rangkaian khitanan massal ke-61.
Banyak pihak menyayangkan bagaimana konsep bernuansa gelap tersebut bisa lolos untuk dipertontonkan di ruang publik, meskipun bukan aksi benar-benar berkaitan satanisme, namun teatrikal menyerupai pemujaan satanic ini menuai kritik.
Saking ramainya, sejumlah netizen menyandingkan insiden ini dengan kontroversi karnaval di Brazil yang juga kerap memamerkan simbol-simbol kelam.
Teatrikal Pemenggalan dan Simbolisme Gelap
Berdasarkan rekaman video amatir yang beredar luas, parade SKNC 2026 menampilkan deretan talent yang mengenakan karakter dan kostum menyeramkan.
Salah satu sorotan utama jatuh pada sosok berkostum iblis raksasa yang membawa obor serta replika kitab berlambangkan mata satu yang kerap diidentikkan dengan sosok Dajjal.
Puncak kontroversi terjadi saat panitia menyuguhkan adegan teatrikal yang memicu perdebatan publik, yakni teatrikal penyembelihan seekor kambing hidup di tengah pertunjukan. Belakangan diketahui bahwa kepala kambing bukanlah disembelih langsung melainkan hanya teatrikal.
Atribut karnaval di lokasi juga dipenuhi dengan ornamen kelam seperti Pentagram Terbalik (Inverted Pentagram). Secara penelusuran sejarah, lambang bintang lima (pentagram) pada era Mesopotamia dan Yunani Kuno sejatinya bermakna pergerakan planet.
Namun, pemaknaan ini berubah drastis pada tahun 1855 ketika okultis asal Prancis, Éliphas Lévi, secara sengaja mengaitkan bintang terbalik tersebut dengan representasi entitas gelap dan makhluk berkepala kambing, Baphomet.
Simbolisme ini makin melekat kuat dengan kejahatan modern setelah Anton LaVey, tokoh pendiri Gereja Setan pada tahun 1966, mengadopsi modifikasi okultisme Lévi menjadi lambang resmi aliran sesatnya yang kini dikenal dunia sebagai Sigil of Baphomet.
Kematian Talent dan Insiden Kekerasan Post-Karnaval
Kontroversi SKNC 2026 tidak berhenti pada perdebatan konsep acara semata, melainkan merembet pada rentetan insiden nahas.