Beautiful Pain Angkat Perjuangan Perempuan Hadapi KDRT hingga Pelecehan Seksual

Kamis, 24 September 2026 | 20:25 WIB
Sutradara Dimas Brodjonegoro dan Dimas Aditya. (Suara.com)

Suara.com - Film Beautiful Pain hadir dengan cerita yang mengangkat perjuangan seorang perempuan dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Tak hanya soal bertahan setelah keluar dari hubungan rumah tangga, film garapan sutradara Dimas Brodjonegoro ini juga menyoroti isu KDRT, pelecehan seksual, hingga ketimpangan kuasa di lingkungan kerja.

Dimas Aditya selaku salah satu pemeran mengaku tertarik bergabung karena tema cerita yang mengangkat perjuangan seorang perempuan dalam menghadapi konflik keluarga dan kehidupannya.

"Pertama memang ini film drama yang mengangkat tentang perjuangan dari seorang perempuan, bagaimana jalan hidup nya, konflik keluarga yang dihadapinya, tapi dia berusaha untuk struggling, ya inti pertama nya itu yaa dari tema ceritanya," ujar Dimas Aditya pada saat berkujung ke kantor Suara.com di Jakarta Selatan, Kamis (24/9/2026).

Menurut Dimas Brodjonegoro, Beautiful Pain tidak hanya menampilkan perjuangan seorang ibu tunggal yang berusaha membangun kembali kehidupannya dari nol. Film ini juga menghadirkan sejumlah persoalan yang banyak dialami perempuan.

"Sebenarnya, intinya adalah dari alur ceritanya itu tentang seorang ibu itu. dan yang dipaparkan disini juga banyak, ngga cuman perjalaan dia yang struggling aja tapi ada masalah-masalah yang terkandung message di dalamnya," kata Dimas Brodjonegoro.

"Didalam ya terdapat pelecehan sexual, tentang kuasa juga di dunia kerja nya dia, dan Sebelumnya dia mengalami trauma KDRT," lanjutnya.

Tantangan Selama Produksi

Bagi Dimas Brodjonegoro, Beautiful Pain menjadi tantangan tersendiri karena merupakan film panjang pertamanya karena sebelumnya lebih banyak mengerjakan produksi iklan dan video klip.

"Tantangannya adalah kalau ke filmnya sendiri itu bagaimana menyamakan vision kita terhadap scene yang ingin di take gitu," ujarnya.

Sementara untuk Dimas Aditya tantangan yang di hadapi adalah memahami gaya penyutradaraan serta menyatukan emosi para pemain dalam setiap adegan.

"Kalau di film ini memang dia maunya itu senatural mungkin, selight mungkin, tapi yang dimaksud dalamnya adalah bagaimana emosi kita terpendam tapi bisa disampaikan ke penontonnya," kata Dimas Aditya.

Ia berharap Beautiful Pain dapat membuat penonton merasa dekat dengan cerita yang disampaikan.

Dimas Brodjonegoro juga berharap film ini dapat membuka mata penonton, baik perempuan maupun laki-laki, mengenai pentingnya keberanian untuk mengambil sikap.

"Bahwa perempuan itu harus berani untuk mengambil sikap untuk dirinya sendiri, salah satunya adalah speak up atau kayak membuat sesuatu keputusan yang walaupun berat tapi setidaknya itu mencukupi dirinya dulu untuk nextnya terdepannya biar kehidupan itu lebih enak lagi sebenarnya," tuturnya.

Selain itu, Dimas Brodjonegoro mengingatkan pentingnya peran orang-orang terdekat sebagai support system bagi mereka yang sedang menghadapi masalah.

"Tolong menjadi support system yang baik, tolong menjadi kawan yang bisa mendengarkan dulu gitu tanpa harus ngejudge apa pun," kata Dimas Brodjonegoro.

Melalui Beautiful Pain, para pemain dan tim film berharap kisah yang dihadirkan dapat terasa dekat dengan pengalaman penonton sekaligus membuka ruang untuk memahami perjuangan seseorang dalam menghadapi persoalan hidup. Karena menghadapi persoalan tidak selalu harus dilakukan seorang diri, dan dukungan dari orang-orang terdekat dapat menjadi bagian penting dalam proses seseorang untuk kembali menata kehidupannya. ***

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com