UMKM Perempuan Mulai Berbenah, Buka Toko Online hingga Siapkan Strategi Pemasaran Digital

Kamis, 24 September 2026 | 15:22 WIB
Ilustrasi UMKM perempuan. (Freepik)
BACA 10 DETIK
  • Sebanyak 30 perempuan pelaku UMKM dari berbagai wilayah mengikuti program GROW with RupiahCepat Womenpreneurship Business Bootcamp 2026.
  • Peserta mendapatkan pelatihan bisnis digital, strategi pemasaran, dan literasi keuangan untuk meningkatkan transaksi serta pengembangan usaha.
  • Tujuh hingga sepuluh peserta terpilih akan menerima dukungan dana pengembangan usaha dengan total nilai Rp30 juta.

Suara.com - Bagi pelaku usaha kecil, masuk ke dunia digital bukan sekadar membuat akun media sosial atau membuka toko di marketplace. Tantangan yang sebenarnya adalah bagaimana membuat calon pembeli tertarik, percaya, hingga akhirnya melakukan transaksi.

Persoalan itulah yang jadi salah satu pembahasan yang dihadapi 30 perempuan pelaku UMKM dari 26 kota/kabupaten di 14 provinsi dalam program GROW with RupiahCepat Womenpreneurship Business Bootcamp 2026.

Puluhan peserta tersebut terpilih dari lebih dari 270 pendaftar. Setelah mengikuti rangkaian pelatihan bisnis dan pemasaran digital, mereka mulai menerapkan materi yang diperoleh ke dalam usaha masing-masing.

Sejumlah peserta, misalnya, membenahi tampilan dan informasi produk di marketplace, menyusun business model canvas, mengevaluasi strategi pemasaran, hingga mencari afiliator yang dinilai sesuai dengan karakter produk mereka.

Salah satu tantangan yang banyak dibicarakan adalah keterbatasan anggaran pemasaran. Pelaku UMKM dituntut bisa memanfaatkan kanal digital secara efektif tanpa harus mengeluarkan biaya besar.

UMKM perempuan mengikuti program GROW with RupiahCepat Womenpreneurship Business Bootcamp 2026. (Dok. ist)

Di sisi lain, mendapatkan perhatian di media sosial juga belum tentu langsung menghasilkan penjualan. Karena itu, pelaku usaha perlu memahami siapa konsumennya, bagaimana membangun merek, serta kanal mana yang paling sesuai dengan karakter bisnis mereka.

Mentor Business Training, Perry Primanda, mengatakan pelaku UMKM perlu melihat bisnis secara lebih menyeluruh, bukan hanya dari sisi produk dan penjualan.

“Melalui rangkaian Business Training, peserta diajak untuk melihat bisnis tidak hanya dari sisi produk dan penjualan, tetapi juga memahami siapa konsumennya, bagaimana membangun brand, serta bagaimana mengelola operasional, keuangan, dan model bisnis,” ujar Perry.

Sementara itu, Mentor Digital Marketing Training Nugraha Andaf menilai pemanfaatan kanal digital juga perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing usaha.

“Pemanfaatan kanal digital perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing usaha. Peserta tidak hanya belajar membuat konten, tetapi juga memahami bagaimana mengoptimalkan marketplace, mengembangkan strategi affiliate, serta memanfaatkan digital advertising untuk mendukung pemasaran dan penjualan,” katanya.

Salah satu peserta, Soffariati Ummi Rosyidah, pemilik usaha Nyambelin dari Malang, Jawa Timur, mengaku langsung mencoba menerapkan materi yang diperoleh. Ia melakukan sejumlah perubahan pada toko Nyambelin di marketplace, termasuk memperbaiki tampilan dan informasi produk.

Menurut Ummi, perubahan tersebut kemudian diikuti peningkatan pesanan di marketplace.

“Saya sangat bersyukur bisa mengikuti GROW with RupiahCepat karena ilmu yang diberikan sangat bermanfaat dan langsung bisa saya terapkan dalam usaha saya,” ujarnya.

Selain pemasaran, peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai pengelolaan keuangan dan literasi finansial, termasuk memahami perbedaan layanan pinjaman daring legal dan ilegal serta penggunaan layanan keuangan secara bertanggung jawab.

Direktur PT Kredit Utama Fintech Indonesia (RupiahCepat) Anna Maria Chosani mengatakan pembelajaran dalam program tersebut diharapkan tidak berhenti pada pelatihan, tetapi diterapkan sesuai kebutuhan setiap usaha.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com