Oke Atmaja | Angga Budiyanto
Jum'at, 03 Juli 2020 | 16:21 WIB
Pekerja menyelesaikan pembuatan roti skala rumahan di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta, Jumat (3/7). [Suara.com/Angga Budhiyanto]
Aktivitas pekerja menyelesaikan pembuatan roti skala rumahan di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta, Jumat (3/7). [Suara.com/Angga Budhiyanto]
Pekerja menyelesaikan pembuatan roti rumahan di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta, Jumat (3/7). [Suara.com/Angga Budhiyanto]
Pekerja mengeluarkan roti dari mesin pemanggang di rumah produksi roti di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta, Jumat (3/7). [Suara.com/Angga Budhiyanto]
Pembuatan roti dari mesin pemanggang di rumah produksi roti di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta, Jumat (3/7). [Suara.com/Angga Budhiyanto]

Suara.com - Pekerja menyelesaikan pembuatan roti skala rumahan di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta, Jumat (3/7). Menurut pekerja, sebelum pandemi COVID-19 mereka mampu membuat 4.000 hingga 5.000 roti per hari, namun saat ini pembuatan hanya 1.000 roti per hari karena masih banyaknya warga yang beraktivitas di rumah serta masih banyaknya pasar yang tutup mengakibatkan penurunan omset.

Hal tersebut ditambah dengan sebagian tempat konsumen mereka seperti sekolah, pabrik dan warung-warung kelontong mendapatkan peraturan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB). Menteri Koperasi dan UMKM, Teten Masduki, mewanti-wanti para pelaku UMKM di Indonesia untuk bisa cepat melakukan adaptasi bisnis dan inovasi produk.

Pasalnya, pola permintaan dari pasar konsumen baik di dalam negeri maupun luar negeri akan berubah akibat wabah virus Corona. [Suara.com/Angga Budhiyanto]