Foto / News
Kamis, 30 April 2026 | 15:36 WIB
Penumpang menaiki kereta Commuterline di Stasiun Manggarai, Jakarta, Kamis (30/4/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
Penumpang menaiki kereta Commuterline di Stasiun Manggarai, Jakarta, Kamis (30/4/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
Penumpang menaiki kereta Commuterline di Stasiun Manggarai, Jakarta, Kamis (30/4/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
Penumpang menaiki kereta Commuterline di Stasiun Manggarai, Jakarta, Kamis (30/4/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
Penumpang menaiki kereta Commuterline di Stasiun Manggarai, Jakarta, Kamis (30/4/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
Penumpang menaiki kereta Commuterline di Stasiun Manggarai, Jakarta, Kamis (30/4/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
Penumpang menaiki kereta Commuterline di Stasiun Manggarai, Jakarta, Kamis (30/4/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
Penumpang menaiki kereta Commuterline di Stasiun Manggarai, Jakarta, Kamis (30/4/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]

Suara.com - Penumpang menaiki kereta Commuterline di Stasiun Manggarai, Jakarta, Kamis (30/4/2026). Gerbong khusus wanita KRL menjadi sorotan publik usai kecelakaan kereta argo bromo dengan KRL di Bekasi Timur.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mengusulkan gerbong wanita ditempatkan di tengah rangkaian untuk mengurangi risiko saat kecelakaan. Usulan ini muncul sebagai respons terhadap insiden yang dinilai berdampak besar pada gerbong di posisi ujung.

Namun, sejumlah pihak menilai solusi tersebut belum menyentuh akar masalah. Kritik menyebut keselamatan transportasi tidak cukup dengan memindahkan posisi gerbong, melainkan harus melalui perbaikan sistem operasional, persinyalan, dan pengawasan secara menyeluruh.

Di sisi lain, PT KAI menegaskan belum ada perubahan kebijakan terkait posisi gerbong wanita. Fokus utama saat ini adalah evaluasi keselamatan dan memastikan seluruh rangkaian kereta memiliki standar perlindungan yang sama bagi seluruh penumpang. [Suara.com/Alfian Winanto]

Load More