Foto / News
Kamis, 02 Juli 2026 | 07:00 WIB
Warga melarung gitik (sesaji) ke laut pada prosesi ritual Petik Laut di Perairan Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur, Rabu (1/7/2026). [ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/YU]
Sejumlah warga mengikuti prosesi ritual Petik Laut menggunakan kapal slerek yang dihias di Perairan Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur, Rabu (1/7/2026). [ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/YU]
Sejumlah warga mengikuti prosesi ritual Petik Laut menggunakan kapal slerek yang dihias di Perairan Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur, Rabu (1/7/2026). [ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/YU]
Kru kapal mengoperasikan mesin kapal saat prosesi ritual Petik Laut di Perairan Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur, Rabu (1/7/2026). [ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/YU]
Nelayan menarik jaring yang dicuci pada prosesi ritual Petik Laut di Perairan Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur, Rabu (1/7/2026). [ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/YU]

Suara.com - Warga melarung gitik (sesaji) ke laut pada prosesi ritual Petik Laut di Perairan Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur, Rabu (1/7/2026). Tradisi tahunan tersebut digelar sebagai ungkapan rasa syukur para nelayan atas hasil tangkapan sekaligus memohon keselamatan saat melaut.

Tradisi Petik Laut Muncar telah diwariskan secara turun-temurun sejak awal abad ke-20 dan menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat pesisir Banyuwangi. Prosesi ini digelar setiap bulan Suro sebagai bentuk sedekah laut.

Rangkaian ritual diawali dengan arak-arakan gitik berisi sesaji yang kemudian diiringi puluhan kapal nelayan menuju laut lepas untuk dilarung. Prosesi tersebut menjadi puncak perayaan yang diikuti masyarakat dan nelayan.

Selain menjaga tradisi, Petik Laut juga menjadi penggerak ekonomi lokal melalui aktivitas perdagangan dan jasa wisata. Ritual tahunan itu turut memperkuat pelestarian budaya maritim yang diwariskan dari generasi ke generasi. [ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/YU]

Load More