Fresh.suara.com - Marshanda baru-baru ini membeberkan nasib malangnya masuk ke fasilitas perawatan orang dengan gangguan jiwa alias rumah sakit jiwa (RSJ) Amerika Serikat. Dalam video terbaru yang diunggah ke kanal YouTube-nya, Marshanda menceritakan panjang lebar saat dirinya menjalani perawatan di RSJ.
Semua berawal saat kedua teman Marshanda, pasangan suami istri Sheila dan David, menghubungi panggilan darurat 911 lantaran kesulitan menghubungi Marshanda yang tak diketahui keberadaanya. Padahal, Marshanda memang sengaja meninggalkan ponsel untuk ‘menghilang’ sejenak.
Suatu ketika, ia dijemput ambulans yang dipanggil Sheila dan David. Mengacu pada obat-obatan bipolar yang ia miliki, Marshanda pun dirujuk ke rumah sakit jiwa. Saat itulah dimulai pengalaman mengerikan Marshanda yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.
1. Marshanda menyebut RSJ di AS lebih buruk dari penjara
Menurut Marshanda, perlakuan di RSJ tak ubahnya perlakuan di penjara, hanya saja di penjara menurutnya masih lebih baik.
“Gue itu selama di mental health facility, gue menyebutnya kamp. Kamp konsentrasi gue nyebutnya. Orang di penjara itu di treat lebih baik dari pada orang di rumah sakit jiwa, karena orang di penjara itu masih dianggap waras. Orang di rumah sakit jiwa dianggap gak waras,” tutur Marshanda.
2. Diringkus dan dijatuhkan oleh petugas
Lantaran meyakini bahwa di AS kebebasan dan hak asasi manusia dijunjung tinggi, Marshanda mengaku mencoba bertindak keras untuk menuntut haknya. Namun, apa daya, dia harus berhadapan dengan sistem rumah sakit yang tegas dan tak pandang bulu.
“Gue itu sempat lho kaya teriak teriak gue bilang gue menolak untuk minum obat ini karena gue menggunakan hak asasi manusia gue untuk melawan diktator-diktator apa melawan perintah kalian pas gue ngomong gitu apa, tangan gue di kebelakangin gue di jatuhin ke kasur karena gue dianggap udah over reactive dan gue di jatuhin ke kasurnya itu yg bukan yang kasar gitu ... Yang kaya cowok ama cewek gitu sampe gue disuntik. Karena gue udah dianggep harsh, gue udah dianggep agresif dan itu .. Itu bener bener kaya.. Gila gue pikir.. Padahal mereka itu ngomong ada di buku cetaknya mereka. Mereka punya buku yg dicetak yang lo tu bisa kalau lo mau refuse dan menggunakan hak lo. Lo tinggal ngomong gini dan lo tinggal telpon ke no ini dan lo punya hak untuk begini tapi itu cuman cetakan doang jadi pada kenyataannya emang ... Ya itulah yang gue ngomong tadi..” kisah Marshanda.
3. Terpaksa makan makanan yang buruk
Marshanda menyangka dirinya bakal disuguhi makanan sehat. Namun ia harus menerima kenyataan bahwa makanan yang diberikan kepada pasien adalah makanan yang amat buruk.
“Gue gak tau lah kenapa itu terjadi tapi itu sempat terjadi sama gue dan akhirnya gue nurut aja selalu sama obat yang mereka kasih terus makan yang mereka kasih pun juga bukan makanan yang sehat yang gue tadinya.. ya Allah makannya sehat banget akhirnya gue bisa kurus kan… dikasihnya sama mereka itu setiap hari bener-bener makanan yang udah gak enak banget lah, udah shit banget yang bener bener, aaa udahlah tapi gue makan aja,” lanjut Marshanda.
Baca Juga: Terlibat Ricuh dengan Wartawan, Bonge Citayam Akhirnya Minta Maaf
4. Konsultasi dengan dokter hanya berlangsung singkat
Marshanda pun kembali terkejut karena jatah konsultasi dengan psikiater teramat singkat.
“Gue nurut dengan obat mereka ketemu dokternya pun juga gue cuman 3 menit . . psikiater nya... yang dari mereka,” keluh Marshanda.
5. Pemerintah setempat kurang peduli dengan para perawat pasien dengan gangguan mental
Marshanda juga terkejut saat tahu bahwa ternyata di negara maju seperti AS, profesi perawat orang dengan gangguan jiwa tak terlalu dipandang oleh pemerintah.
“Even ketika di grup session aja, kan ada grup session di mana kita bisa share perasaan kita kaya kita bisa sharing dan ada leader-nya di situ kita baru dianggap manusialah. Nah itu aja tu yang leader of the grup aja bilang.. Pemerintah tu di sini di Amerika pun gak menghargai profesi kita sebagai nurse untuk orang orang yg mentally unstable . Jd gue mengerti knp kita di treat kayak gitu. Negara semaju Amerika aja pekerja untuk orang orang yang mentaly un stable itu gak di hargain secara apapun gak sesuai gak semestinya gak seperti yg semestinya,” tutur Marshanda.
6. Berteman dengan sesama pasien
Marshanda mengaku berteman dengan sejumlah pasien di rumah sakit jiwa tersebut. Ia bahkan sampai bertukar nomor telepon dan email dengan mereka.
“Iya terus lama lama gue jadi berteman nih sama orang-orang yang berasal di camp itu. Di rumah sakit jiwa itu gue berteman gue catet... Ada bukunya ada jurnalnya mana ya.. Pokoknya gue ampe punya jurnal... Kan gue dikasih kertas sama pensil. Itu gue nulis puisi tiap hari. Terus udah gt gue minta semua nama no tlpn atau email temen temen gue yang ada di situ. Terus ada yang nyerahin diri .. Ada yang cuman punya anger management issue ... Ada yang ada masalah dengan transgender LGBTQ blabla gitu deh ... Terus kaya ada orang macem-macem rasnya seru banget dan gue jadi berteman sama mereka gue karena kita saling memanusiakan satu sama lainnya,” tutur Marshanda.
7. Marshanda berusaha tetap patuh agar bisa segera keluar
Marshanda berupaya dirinya tetap tenang dan patuh pada peraturan di RSJ tersebut agar bisa segera dipulangkan.
“Terus gue jadi dikenal yang awalnya gue sempet digini-giniin (memperagakan saat diiket kedua tangannya -cerita awal-) ditengkurepin sampai disuntik itu gue jadi yang paling nurut karena apa? Ini bukan pertama kalinya gue harus masuk ke mental healh facility. Pas gue cerai pas gue buka jilbab kan gue terpaksa masuk tapi di situ gue masih ketemu sama keluarga gue. Kali ini gue. Gak ada satupun orang yang jenguk dan gue bingung harus gimana jadi gue cuman mikir otak gue jalanin aja semakin lo obidient semakin lo patuh lo akan semakin cepat keluar dr sini…” ujar Marshanda
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- 6 Shio yang Menarik Keberuntungan 14 Juli 2026, Banyak Teka-teki Akhirnya Terjawab
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Potensi Menang Praperadilan: Siasat Redam Konflik Polri-Kejagung
Pilihan
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
Terkini
-
Eks Jampidsus Tersangka, Penasihat Khusus Presiden Bicara soal Komitmen Prabowo Berantas Korupsi
-
Resmi! Semua Member NCT 127 Perpanjang Kontrak dengan SM Entertainment
-
Apakah Flek Hitam Bisa Hilang dengan Retinol? Ini 3 Moisturizer Retinol Lokal Lengkap Review Pembeli
-
Wapres Gibran Dijadwalkan ke Jembatan Musi V Palembang, Agenda Mendadak Ditunda
-
DPR RI Luncurkan SIMASLEG, Publik Kini Bisa Pantau Proses Pembentukan UU Secara Digital
-
Gus Ipul Jamin Prabowo Tak Cawe-Cawe dalam Muktamar ke-35 PBNU
-
Teringat Rekan Kerja Cantik yang Selalu Menunduk: Pahitnya Menjadi Target Catcalling
-
Danamon Rayakan HUT ke-70, Yuk Nikmati Promo di Berbagai Merchant Favorit di Pekanbaru
-
Resmi! PSM Makassar Kembali Tunjuk Darije Kalezic Sebagai Pelatih
-
Kupas Tuntas RANS Milik Raffi Ahmad, Seberapa Menarik Prospek Sahamnya?