SUARA GARUT - Belakangan ini publik dihebohkan oleh sebuah terobosan baru yang digagas Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Nadim Makarim.
Penggunaan diksi marketplace oleh Menteri Nadim dalam solusi penyelesaian guru honorer, malah menuai kontroversi, baik kalangan legislatif, honorer, hingga para ahli pemerhati pendidikan.
Bagaimana tidak penggunaan diksi marketplace untuk guru, dinilai berbagai kalangan memiliki konotasi negatif.
Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G), khawatir penggunaan diksi marketplace bisa mendegradasi guru sekadar barang dagangan.
Akibatnya dengan penggunaan marketplace, membuat kedudukan guru dinilai menjadi makin kurang terhormat.
"Khawatir penggunaan diksi marketplace mendegradasi guru menjadi sekadar barang dagangan, kedudukan makin tidak terhotmat," kata Kabid Advokasi P2G, Iman Zanatul Haeri dikutip dari Republika.
Sementara itu, seorang ahli bernama Apriadi menjelaskan, marketplace adalah sebuah wadah pemasaran produk secara elektronik yang dipertemukan banyak penjual dan pembeli secara online.
Jadi marketplace itu, sebuah tempat untuk berjualan online.
Marketplice dalam persepsi penuntasan honorer, calon guru ASN adalah penjualnya, sedangkan Kepala Sekolah selaku pembelinya.
Baca Juga: Iniesta Lagi Nganggur, Persib Minat Transfer Eks Barcelona?
P2G masih berbaik sangka pembentukan marketplace alias loka pasar atau tempat jual beli online, mungkin dibentuk sebagai upaya pemangkasan alur birokrasi.
Seleksi guru PPPK alur birokrasi yang ada saat ini membuat guru lulusan passing grade P1 terlunta-lunta nasibnya.
"Berbaik sangka saja, mungkin marketplace yang dimakasud pe Menteri memangkas alur birokrasi yang kini membuat lulusan passing grade terlunta-lunta nasibnya," kata Iman dikutip dari Republika.
Menurut Iman, pembentukan lokapasar atau markrtplace kemendikbudristek makin platform oriented.
P2g khawatir solusi persoalan kebijakan pendidikan berupa aplikasi tambahan justru tidak menyelesaikan masalah.
Mendikbud mestinya mempertimbangkan fakta lapangan bahwa guru sudah sangat pusing dengan aplikasi yang begitu banyak.
Mereka harus menggunakan banyak aplikasi, mulai dari keperluan soal mengajar hingga sekedar melaporkan pembelajaran.
"Para guru sudah overcapacity dengan aplikasi yang begitu banyak dari soal mengajar bahkan melaporkan pembelajaran," katanya. (*)
Berita Terkait
-
Honorer Akan Ditarik Kepusat, Ternyata Ini Enam Poin Penting RPP Manajeman ASN, Simak Jangan Sampai Gagal Fokus
-
Solusi Penuntasan Honorer Terjawab, Pemerintah Akan Ubah Pola Rekrutmen ASN dengan Kebijakan Ini
-
Sekolah Akan Diberi Otoritas Perekrutan ASN PPPK Tanpa Menunggu Formasi Daerah, Begini Mekanismenya Menurut Menteri Nadim Makarim
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Mosi Tidak Percaya! Jajaran Wakasek dan Guru SMPN di Subang Mundur Massal
-
Lolos ke Final Usai Singkirkan Persija, Lucho Keluhkan Lapangan Dipta yang Keras dan Kering
-
Singkirkan Arema FC, Persebaya Tantang Persib di Final Piala Presiden 2026
-
Apa Itu Registration Ban FIFA? Ini Penyebab Klub Sriwijaya FC Bisa Dilarang Daftar Pemain
-
Jejak Kasus Haji Halim Ali, Dari Pengusaha Besar hingga Ahli Waris Kembalikan Rp127 Miliar
-
Modus Penimbun Pertalite Terbongkar, Isi BBM Berulang Pakai Barcode Berbeda di SPBU
-
Geger Temuan Mayat Mutilasi dalam Karung Beras di Pancoran Mas Depok
-
Jelang HUT ke-81 RI, Masjid Indonesia Pertama di Kanada Barat Resmi Berdiri
-
Diduga Bawa Kabur Kamera Rp200 Juta, DJ Wanita dan Suaminya Dipolisikan di Bogor
-
5 Perubahan Contact Center di Era Generative AI, Tak Lagi Sekadar Layanan Pengaduan