Suara.com - Studi terkini menyebutkan bahwa sarapan protein sangat baik bagi penderita diabetes tipe dua yang kesulitan mengendalikan gula darah.
Dalam studi yang dilakukan para peneliti dari Universitas Missouri (MU) itu diketahui, konsumsi protein saat sarapan mampu mengurangi lonjakan gula darah baik saat sarapan dan waktu makan siang.
"Orang sering berasumsi respon glukosa mereka saat sarapan akan sama di waktu makan lainnya, tapi bukan hal itu. Kita tahu, apa yang dimakan dan waktu makan membuat sebuah perbedaan. Jika penderita diabetes melewatkan sarapan, justru gula darah akan melonjak saat makan siang," kata profesor dari departemen nutrisi dan olahraga fisiologi MU, Jill Kanaley.
Ia juga mengatakan bahwa dalam penelitiannya itu ditemukan bahwa mereka yang sarapan lebih banyak protein, respon glukosanya normal setelah makan siang.
Kesimpulan ini didapat setelah Kanaley dan koleganya mengamati tingkat glukosa penderita diabetes tipe dua, insulin dan sejumlah hormon lainnya (yang membantu mengatur respon insulin), setelah mereka sarapan dan makan siang.
Mereka menemukan bahwa konsumsi lebih banyak protein saat sarapan menurunkan level glukosa. Tingkat insulin yang meningkat setelah makan siang bekerja sebagaimana mestinya untuk mengatur tingkat gula darah.
"Sarapan mendorong sel-sel meningkatkan konsentrasi insulin pada waktu makan berikutnya. Ini bagus karena tubuh bisa bekerja sebagaimana mestinya untuk mengatur level glukosa," jelas Kanaley.
Meski demikian, menurut dia, penting bagi penderita diabetes tipe dua memahami kalau jenis makanan berbeda dapat berpengaruh berbeda pula pada mereka.
"Untuk memahami bagaimana tubuh mereka merespon makanan, mereka harus konsisten mencatat level glukosa mereka," jelas Kanaley.
Sekalipun mampu menurunkan level gula darah, kata dia, tapi penderita diabetes tipe dua tap perlu mengonsumsi protein dalam jumlah berlebihan.
"Kami merekomendasikan mengkonsumsi 25 hingga 30 gram protein saat sarapan, sesuai rekomendasi badan pengawas obat dan makanan Amerika (FDA)," jelas Kanaley. (Science Daily)
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 HP Helio G99 Termurah di Awal Tahun 2026, Anti Lemot
- 6 Rekomendasi HP OPPO Murah dengan Performa Cepat, RAM 8 GB Mulai Rp2 Jutaan
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
Pilihan
-
Cek Fakta: Yaqut Cholil Qoumas Minta KPK Periksa Jokowi karena Uang Kuota Haji, Ini Faktanya
-
Kontroversi Grok AI dan Ancaman Kekerasan Berbasis Gender di Ruang Digital
-
Hasil Akhir: Kalahkan Persija, Persib Bandung Juara Paruh Musim
-
Babak Pertama: Beckham Putra Bawa Persib Bandung Unggul atas Persija
-
Untuk Pengingat! Ini Daftar Korban Tewas Persib vs Persija: Tak Ada Bola Seharga Nyawa
Terkini
-
Apa Beda Super Flu dengan Flu Biasa? Penyakitnya Sudah Ada di Indonesia
-
5 Obat Sakit Lutut Terbaik untuk Usia di Atas 50 Tahun, Harga Mulai Rp 13 Ribu
-
Kalimantan Utara Mulai Vaksinasi Dengue Massal, Kenapa Anak Jadi Sasaran Utama?
-
Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026
-
Ancaman Kuman dari Botol Susu dan Peralatan Makan Bayi yang Sering Diabaikan
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya