Suara.com - Fenomena "superflu" tengah memicu kekhawatiran di ruang publik dan media sosial sejak awal tahun 2026. Meskipun istilah ini terdengar seperti penyakit baru yang misterius, secara medis superflu sebenarnya merujuk pada lonjakan kasus Influenza A subtipe H3N2, khususnya varian subclade K.
Penyakit ini bukanlah jenis virus baru, melainkan mutasi dari virus influenza tipe A yang memang dikenal paling mudah berubah dan sering memicu peningkatan kasus secara global.
Di Indonesia, virus ini telah terdeteksi di sejumlah daerah dengan kelompok anak-anak dan perempuan sebagai penderita terbanyak.
Penyebutan "superflu" oleh masyarakat muncul karena varian ini cenderung memberikan dampak kesehatan yang lebih berat, durasi sakit yang lebih lama, hingga potensi terjadinya infeksi ganda dengan virus lainnya secara bersamaan.
Gejala Spesifik pada Dewasa dan Anak
Karakteristik utama dari superflu adalah kemunculan gejalanya yang terjadi secara tiba-tiba, biasanya dua hingga tiga hari pasca-kontak dengan virus.
Berbeda dengan flu biasa yang gejalanya cenderung ringan, superflu sering kali melumpuhkan aktivitas sehari-hari karena tingkat kelelahan yang ekstrem.
Pada orang dewasa, gejala yang patut diwaspadai meliputi demam tinggi yang bisa mencapai 40 derajat Celsius, batuk kering yang menetap, nyeri otot yang hebat, hingga sakit kepala intens.
Beberapa pasien juga melaporkan nyeri pada mata atau mata yang menjadi sangat sensitif terhadap cahaya.
Baca Juga: Apakah Vaksin Influenza Ampuh Cegah Superflu? Ini 4 Kelompok yang Jadi Prioritas
Sementara itu, gejala pada anak-anak sering kali lebih kompleks dan sulit dideteksi secara spesifik. Selain demam, anak yang terinfeksi superflu cenderung menjadi sangat rewel, mengalami nyeri telinga, sakit perut, hingga gangguan pencernaan seperti muntah dan diare.
Orang tua diimbau segera membawa anak ke dokter jika gejala tidak membaik dalam kurun waktu 7 hingga 10 hari.
Beda Super Flu dengan Flu Biasa
Meski sekilas mirip, ada perbedaan mendasar antara superflu dan flu biasa (common cold). Flu biasa umumnya hanya menyerang saluran pernapasan atas dengan gejala yang masih memungkinkan penderitanya melakukan aktivitas ringan.
Sebaliknya, superflu memiliki tingkat penularan yang jauh lebih agresif, di mana satu pasien dapat menularkan virus ke lebih dari dua orang dengan sangat cepat.
Selain itu, tingkat keparahan gejala menjadi pembeda utama. Superflu dapat memicu kelelahan yang luar biasa dan demam yang sulit turun meski sudah diberikan obat penurun panas biasa.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 HP Helio G99 Termurah di Awal Tahun 2026, Anti Lemot
- 6 Rekomendasi HP OPPO Murah dengan Performa Cepat, RAM 8 GB Mulai Rp2 Jutaan
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
Pilihan
-
Cek Fakta: Yaqut Cholil Qoumas Minta KPK Periksa Jokowi karena Uang Kuota Haji, Ini Faktanya
-
Kontroversi Grok AI dan Ancaman Kekerasan Berbasis Gender di Ruang Digital
-
Hasil Akhir: Kalahkan Persija, Persib Bandung Juara Paruh Musim
-
Babak Pertama: Beckham Putra Bawa Persib Bandung Unggul atas Persija
-
Untuk Pengingat! Ini Daftar Korban Tewas Persib vs Persija: Tak Ada Bola Seharga Nyawa
Terkini
-
5 Obat Sakit Lutut Terbaik untuk Usia di Atas 50 Tahun, Harga Mulai Rp 13 Ribu
-
Kalimantan Utara Mulai Vaksinasi Dengue Massal, Kenapa Anak Jadi Sasaran Utama?
-
Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026
-
Ancaman Kuman dari Botol Susu dan Peralatan Makan Bayi yang Sering Diabaikan
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya
-
Lebih dari Separuh Anak Terdampak Gempa Poso Alami Kecemasan, Ini Pentingnya Dukungan Psikososial