Suara.com - Tubuh manusia memerlukan asupan gula seperti fruktosa, glukosa dan galaktosa. Namun asupannya harus disesuaikan dengan kebutuhan setiap orang. Jika berlebihan maka akan mudah memicu risiko berbagai penyakit.
Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bagaimana fruktosa dan glukosa memiliki efek yang berbeda pada respon psikologis dan perilaku seseorang terhadap suatu makanan.
Untuk menilai efek yang berbeda dari dua jenis gula terhadap respon rasa lapar di otak, Kathleen A. Page dan rekannya melakukan scan MRI kepada 24 orang yang telah diberi minuman dengan tambahan fruktosa pada hari pertama dan tambahan glukosa pada hari lainnya.
Selanjutnya responden akan diperlihatkan beberapa gambar makanan, mulai dari makanan berkalori tinggi sampai makanan dengan tingkat kandungan gula yang tinggi.
Hasilnya, setelah mengonsumsi air minum yang mengandung fruktosa, otak responden cenderung merespon lebih besar sehingga rasa lapar yang luar biasa akan muncul. Sedangkan untuk glukosa ternyata tidak terlalu memberikan reaksi yang berlebihan.
Studi ini juga menemukan bahwa fruktosa dapat menghasilkan respon insulin plasma lebih kecil dari glukosa. Akibatnya adalah fruktosa tidak dapat memberikan rasa kenyang yang sama seperti glukosa.
Dengan adanya perbedaan dalam metabolisme ini, fruktosa dapat meningkatkan nilai makanan yang berkalori tinggi untuk dikonsumsi, jika dibandingkan dengan glukosa. (Zeenews)
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- Daripada Nyicil BeAT: Ini 5 Motor Keren Murah Bertenaga untuk Pelajar, Harga Mulai 5 Jutaan Saja
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Beroperasi Bertahun-tahun Tanpa Izin Resmi, Pabrik Pengolahan Oli Bekas di Tangerang Resmi Ditutup
- Suzuki Burgman 15 Sudah Ada di Dealer, Skutik Penantang NMAX dengan Layar TFT dan Traction Control
Pilihan
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Resmi! Roy Suryo dan Dokter Tifa Tak Ditahan Jaksa, Ini Syarat yang Harus Dipenuhi
-
Sudewo Tolak Dakwaan Gabungan Kasus DJKA dan Perangkat Desa, Kuasa Hukum Sebut Langgar KUHAP!
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
Terkini
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?
-
Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak
-
Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh
-
Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi
-
Mata Merah dan Buram Tak Boleh Dianggap Sepele, Bisa Jadi Tanda Kerusakan Kornea
-
Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat