- Donald Trump menolak kendaraan listrik di Las Vegas karena infrastruktur kurang dan cadangan bensin melimpah.
- Prabowo Subianto menyusun strategi nasional untuk mengelektrifikasi seluruh armada Indonesia menggunakan tenaga surya demi kemandirian energi.
- Kebijakan energi kedua pemimpin ini menunjukkan perbedaan pandangan yang sangat kontras terkait masa depan kendaraan listrik.
Suara.com - Perdebatan seputar masa depan kendaraan listrik (EV) kini semakin memanas dengan adanya dua pandangan ekstrem yang saling bertolak belakang dari mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Presiden Indonesia, Prabowo Subianto.
Saat Trump terus melancarkan serangan verbal yang tidak biasa terhadap pengemudi EV, Prabowo justru sedang menyusun strategi radikal untuk mengelektrifikasi seluruh armada jalanan di Indonesia menggunakan tenaga surya.
Donald Trump secara terbuka menolak keras transisi cepat ke kendaraan listrik di negaranya.
Di sisi lain, Presiden Prabowo Subianto justru menunjukkan optimisme tinggi untuk membangun ekosistem mobil dan motor listrik baru yang mandiri.
Perbedaan pandangan ini memperlihatkan pertarungan narasi kebijakan energi yang sangat kontras antara dua pemimpin negara.
Kritik pedas Trump mengemuka baru-baru ini saat ia berbicara di hadapan pendukungnya di Red Rock Resort, Las Vegas.
Ia menyoroti fenomena "range anxiety" atau kecemasan pengendara akan daya baterai yang terbatas dan menyebut kecemasan itu sebagai penyakit, menurut NDTV Profit (6/8/2026).
“Pernah lihat tanda-tanda orang mengendarai mobil listrik, mereka seperti punya penyakit... Mereka menyadari baterainya mulai menipis dan sudah cemas padahal masih tiga perempat penuh.” sindir Trump dengan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos.
Alasan Trump menolak transisi cepat ini didasari oleh pragmatisme infrastruktur dan ketersediaan sumber daya minyak bumi AS yang melimpah.
Trump menilai tidak masuk akal memaksa konsumen membeli mobil listrik jika mereka kesulitan menemukan stasiun pengisian daya di jalan raya. Ia juga sesumbar tentang cadangan energi fosil AS:
“Kita punya seribu tahun persediaan bensin dan itulah yang orang sukai,” sembari mengeklaim bahwa gabungan pasokan migas AS dan Venezuela mencakup 60 persen cadangan dunia.
Sebaliknya, Prabowo Subianto didorong oleh keinginan kuat untuk memutus rantai ketergantungan impor energi Indonesia.
Prabowo secara blak-blakan menyoroti lambatnya pabrikan otomotif raksasa dalam beralih ke listrik.
"Saya ingin total listrik... dan saya ingin listriknya itu dari matahari," ungkap Prabowo dalam acara Presiden Prabowo Menjawab di kediaman pribadinya di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Maret lalu.
Bagi Prabowo, terus menggunakan kendaraan berbahan bakar fosil hanya akan membebani keuangan negara: