Suara.com - Anjuran mengonsumsi air minimal 2 liter sehari memang terus digalakkan. Tapi tak sedikit pula orang yang mengonsumsi air dalam jumlah berlebihan karena takut mengalami dehidrasi. Padahal kelebihan cairan tubuh atau yang disebut overhidrasi juga bisa membahayakan nyawa seseorang.
Menurut pakar fisiologi olahraga Departemen Fisiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr Ermita Ilyas, overhidrasi biasanya dialami oleh olahragawan untuk menghindari dehidrasi sehingga mengonsumsi air secara berlebihan dalam jangka waktu singkat.
"Kasus overhidrasi dialami seorang pelari Boston Marathon 2002 lalu karena terlalu banyak cairan pada tubuhnya sehingga elektrolit tubuh berkurang dan tubuh dan sel otak akan mengalami pembengkakan hingga akhirnya meninggal," terang dr Ermita pada temu media 'Kenali dan Pahami Overhidrasi' di Jakarta, Selasa, (5/5/2015).
Kurangnya elektrolit atau natrium dalam darah ini juga bisa dialami perempuan yang umumnya bertubuh kecil sehingga pengeluaran panas dan keringat lebih sedikit dibandingkan asupan yang masuk. Akibatnya banyak cairan yang tertahan dalam tubuh hingga memicu pembengkakan.
"Masih banyak kesalahpahaman yang berkembang, bahkan karena anjuran minum 2 liter itu banyak orang yang menenggak langsung beberapa botol air minum sekaligus. Padahal yang benar minumnya harus secara bertahap," imbuh dr Ermita.
Pada orang yang mengalami overhidrasi biasanya akan mengalami gejala seperti mual, perut terasa penuh, sakit kepala, tidak sadarkan diri, hingga akhirnya meninggal dunia.
"Sebaiknya seimbangkan asupan cairan yang masuk dan aktivitas yang akan dilakukan, suhu dan ukuran tubuh. Input dan output harus seimbang. Dan yang terpenting minum secara bertahap jangan sekaligus banyak dalam waktu singkat," terangnya.
Berita Terkait
-
Bukan Sekadar Liburan: Mengapa Medical Vacation Kini Jadi Tren Baru Masyarakat Urban?
-
Putus Hubungan dengan WHO, Amerika Serikat Berisiko Kehilangan Jejak Penyebaran Hantavirus
-
Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan di Tengah Krisis Iklim dan Bencana, Bagaimana Solusinya?
-
Bahaya Sepatu Kekecilan bagi Kesehatan Kaki dan Tips Memilih Ukuran Tepat
-
Hasil Investigasi KKI: 92% Konsumen Keluhkan Galon Tua, Ternyata Ini Dampak Buruknya bagi Tubuh
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Motor Eropa Siap Sikat CBR150R dan R15, Harganya Cuma Segini
- Promo Alfamart Hari Ini 6 Mei 2026, Serba Gratis hingga Tukar A-Poin dengan Produk Pilihan
- 5 Sepatu Lokal Versatile Mulai Rp100 Ribuan, Empuk Buat Kerja dan Jalan Jauh
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Bukan Sekadar Liburan: Mengapa Medical Vacation Kini Jadi Tren Baru Masyarakat Urban?
-
Heboh Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Bagaimana Perubahan Iklim Bisa Perparah Risiko?
-
Ratusan Ribu Kasus Stroke Terjadi Tiap Tahun, Penanganan Cepat Dinilai Sangat Krusial
-
Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan di Tengah Krisis Iklim dan Bencana, Bagaimana Solusinya?
-
Jangan Anggap Sepele Ruam dan Gangguan Cerna, Ini Pentingnya Deteksi Dini Alergi pada Anak
-
Pekan Imunisasi Dunia Jadi Pengingat, DBD Kini Mengancam Anak hingga Dewasa
-
Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak
-
Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?
-
Geger Hantavirus Menyebar di Kapal Pesiar, Tiga Orang Dilaporkan Meninggal Dunia
-
Hasil Investigasi KKI: 92% Konsumen Keluhkan Galon Tua, Ternyata Ini Dampak Buruknya bagi Tubuh