Suara.com - Belum lama ini, fenomena alam nan langka yaitu gerhana matahari total baru saja memukau jutaan orang di seluruh Amerika Serikat.
Hal ini mendapat sorotan yang begitu luas, karena fenomena gerhana matahari terakhir kali terjadi di Amerika Serikat hampir satu abad lalu.
Masyarakat lalu berharap jika langit akan tetap cerah agar pengalaman super langka tersebut dapat diabadikan melalui memori dan tangkapan lensa. Tak mengherankan pula jika jutaan masyarak Amerika berbondong-bondong ke berbagai lokasi yang strategis untuk menikmati kesempatan 'sekali seumur hidup' tersebut.
Sayangnya, ada sedikit dari mereka yang memiliki pengalaman kurang bagus dan khawatir apakah mereka telah merusak mata saat menyaksikan gerhana matahari terjadi. Nah, para ahli mengatakan bahwa dibutuhkan setidaknya 12 jam untuk mendeteksi apakah seseorang telah merusak matanya saat menyaksikan gerhana matahari atau tidak.
Hal pertama yang akan terjadi dan dialami seseorang akibat gerhana matahari dilansir Zeenews, adanya perubahan dalam penglihatan. Maka, jika seseorang terbangun pada pagi berikutnya dan menyadari bahwa ia tidak dapat melihat dengan jelas, itu berarti ia telah merusak matanya.
Salah satu tandanya bisa berupa penglihatan kabur, di mana pada pusat penglihatan terlihat seperti memiliki spot, atau beberapa titik. Jadi, jika Anda pernah mengalami hal seperti ini, baiknya Anda segera temui dokter mata.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- Promo Alfamart Hari Ini 7 Mei 2026, Body Care Fair Diskon hingga 40 Persen
- 5 Pilihan HP Android Kamera Stabil untuk Hasil Video Minim Jitter Mei 2026, Terbaik di Kelasnya
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Anak Aktif Rentan Lecet? Ini Tips Perlindungan Luka agar Cepat Pulih dan Tetap Nyaman
-
Bukan Sekadar Liburan: Mengapa Medical Vacation Kini Jadi Tren Baru Masyarakat Urban?
-
Heboh Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Bagaimana Perubahan Iklim Bisa Perparah Risiko?
-
Ratusan Ribu Kasus Stroke Terjadi Tiap Tahun, Penanganan Cepat Dinilai Sangat Krusial
-
Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan di Tengah Krisis Iklim dan Bencana, Bagaimana Solusinya?
-
Jangan Anggap Sepele Ruam dan Gangguan Cerna, Ini Pentingnya Deteksi Dini Alergi pada Anak
-
Pekan Imunisasi Dunia Jadi Pengingat, DBD Kini Mengancam Anak hingga Dewasa
-
Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak
-
Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?
-
Geger Hantavirus Menyebar di Kapal Pesiar, Tiga Orang Dilaporkan Meninggal Dunia