Suara.com - Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan Elizabeth Jane Soepardi mengatakan agar masyarakat jangan mencemaskan lagi penularan penyakit difteri bila sudah diimunisasi difteri secara lengkap.
"Yang penting itu riwayat imunisasinya. Imunisasi itu bisa mencegah difteri. Kalau sudah imunisasi kan sudah kebal," kata Elizabeth dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Sabtu.
Dia mengingatkan pentingnya imunisasi secara lengkap terkait adanya isu tentang penularan difteri melalui terompet atau tiupan terompet serta penggunaan alat makan secara bersamaan.
Elizabeth menjelaskan bahwa masyarakat tidak diperbolehkan untuk bergantian menggunakan peralatan makan dengan penderita difteri. Hal yang sama juga dengan penggunaan terompet tahun baru.
Kementerian Kesehatan menyarankan agar satu terompet diperuntukkan hanya untuk satu orang dan tidak untuk ditiup secara bergantian.
"Menularnya paling kalau digunakan berpindah bergantian. Ya, itu bisa, karena ludah kita menempel di mulut terompet. Penderita difteri kan tidak boleh tukar menukar peralatan makan, sama saja kan salah satu penyebarannya bisa lewat air liur," Elizabeth menerangkan.
Namun dia menggarisbawahi bahwa perlu ada penelitian untuk dapat membuktikan apakah benar bahwa kuman difteri bisa menular dengan cepat dari semburan ujung terompet.
Menurut Elizabeth, difteri merupakan penyakit yang mudah menular dengan atau tanpa media terompet sekalipun.
"Penyebaran kuman penyebab difteri ini sangat mudah, bisa melalui bicara atau bersin yang tidak ditutup, bisa sejauh tujuh meter. Tidak perlu bantuan terompet," jelas dia.
Elizabeth mengingatkan kepada masyarakat untuk tetap menjaga kebersihan dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, menggunakan masker bila sedang sakit, dan upayakan tidak melakukan kontak dengan penderita difteri. [Antara]
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 HP 5G Terbaru Paling Murah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Jempolan
- Aksi Ngamen di Jalan Viral, Pinkan Mambo Ngaku Bertarif Fantastis Setara BLACKPINK
- Proyek 3 Triliun Dimulai: Makassar Bakal Kebanjiran 200 Ton Sampah dari Maros dan Gowa Setiap Hari
- Berapa Gaji Pratama Arhan? Kini Dikabarkan Bakal Balik ke Liga 1
- Banyak Banget, Intip Hampers Tedak Siten Anak Erika Carlina
Pilihan
-
Hizbullah Klaim Hancurkan Kapal Militer Israel Sebelum Serang Lebanon
-
Jusuf Kalla Mau Laporkan Rismon Sianipar ke Polisi! Ini Masalahnya
-
Di Balik Lahan Hindoli, Seperti Apa Perkebunan yang Jadi Lokasi 11 Sumur Minyak Ilegal?
-
Traumatik Mendalam Jemaat POUK Tesalonika Tangerang: Kebebasan Beribadah Belum Terjamin?
-
'Ayah, Ayah!' Tangis Histeris Keluarga Pecah saat Jenazah 3 Prajurit TNI Gugur Tiba di Tanah Air
Terkini
-
17.500 Paket Gizi untuk Masa Depan: Langkah Konkret Melawan Stunting di Bekasi
-
Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran
-
Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit
-
Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata
-
Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia
-
Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien
-
Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia
-
Apakah Alat Traksi Leher Aman? Ini Penjelasan Medis dan Cara Menggunakannya
-
Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya
-
Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin