Health / Konsultasi
Kamis, 02 Juli 2026 | 15:18 WIB
Indonesia Catat Sejarah Baru dengan Operasi Saluran Cerna Robotik Pertama (dok. BIH)
Baca 10 detik
  • Bali International Hospital berhasil melakukan operasi saluran cerna robotik pertama di Indonesia pada 29 Juni 2026.
  • Prosedur ini dilakukan menggunakan sistem robotik canggih untuk meningkatkan presisi medis dan mempercepat pemulihan pasien pascaoperasi.
  • Pencapaian tersebut bertujuan memperkuat ekosistem layanan kesehatan serta memposisikan Bali sebagai destinasi wisata medis kelas dunia.

Suara.com - Bali International Hospital (BIH) mencatat sejarah baru dalam dunia kesehatan Indonesia dengan berhasil melakukan serangkaian operasi saluran cerna berbantuan robot. Pencapaian ini sekaligus menjadi tonggak penting dalam pengembangan bedah minimal invasif di Tanah Air.

Operasi robotik pertama dilakukan pada 29 Juni 2026 oleh dr. I Made Mulyawan, MD, PhD, Dokter Spesialis Bedah Umum Konsultan Bedah Digestif BIH. Ia berhasil melakukan robotic-assisted cholecystectomy, yaitu prosedur pengangkatan kantong empedu menggunakan sistem bedah robotik. Tindakan ini menjadi operasi robotik saluran cerna pertama di Bali dan Indonesia Timur.

Sehari kemudian, Prof. Iswanto Sucandy, MD, FACS, ahli bedah digestif BIH yang juga berpraktik di Amerika Serikat, melakukan kombinasi robotic-assisted cholecystectomy dan adrenalectomy dalam satu kali operasi. Menurut BIH, prosedur tersebut menjadi yang pertama dilakukan di Indonesia.

Kedua operasi itu merupakan bagian dari Bali Robotic Surgery Symposium, forum ilmiah yang mempertemukan dokter bedah, gastroenterolog, akademisi, dan tenaga kesehatan untuk membahas perkembangan teknologi bedah robotik sekaligus menyaksikan demonstrasi operasi secara langsung.

President Director & CEO Bali International Hospital, Dr. Noel Yeo, mengatakan pencapaian tersebut bukan sekadar demonstrasi teknologi, melainkan langkah penting dalam memperkuat layanan kesehatan Indonesia.

"Keberhasilan prosedur robotik ini menjadi tonggak penting bagi Bali International Hospital, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan Sanur, serta ekosistem layanan kesehatan Indonesia. Pencapaian ini menunjukkan pentingnya kolaborasi internasional, pendidikan klinis, dan alih teknologi dalam meningkatkan kapabilitas layanan kesehatan di Indonesia," ujarnya.

Menurut BIH, teknologi bedah robotik menawarkan visualisasi tiga dimensi berdefinisi tinggi, pergerakan instrumen yang lebih fleksibel, dan tingkat presisi yang lebih baik dibandingkan teknik konvensional.

Pada pasien yang sesuai dengan indikasi medis, teknologi ini berpotensi memberikan sejumlah manfaat, mulai dari sayatan yang lebih kecil, perdarahan yang lebih minim, nyeri pascaoperasi yang lebih ringan, hingga masa rawat inap dan pemulihan yang lebih singkat.

Pelaksanaan operasi ini merupakan hasil kolaborasi Bali International Hospital dengan idsMED Indonesia dan Edge Medical. Dalam kesempatan tersebut, diperkenalkan sistem Edge® MP1000 Multi-port Endoscopic Robotic Surgical System yang digunakan untuk mendukung demonstrasi operasi robotik.

Baca Juga: Minta Pendidikan Dokter Spesialis Ditambah, Prabowo: Jangan Terhimpit Aturan Kuno

Prof. Iswanto Sucandy menilai teknologi robotik telah mengubah cara dokter menangani berbagai operasi saluran cerna yang kompleks.

"Teknologi ini memberikan fleksibilitas, presisi, dan kontrol yang lebih baik sehingga membantu dokter melakukan tindakan yang lebih aman, meningkatkan luaran klinis, sekaligus memberikan kualitas perawatan yang lebih optimal bagi pasien," katanya.

Sementara itu, dr. I Made Mulyawan menilai kehadiran operasi robotik di Bali juga membuka peluang lebih besar bagi dokter Indonesia untuk meningkatkan kompetensi melalui kolaborasi internasional dan transfer pengetahuan.

Melalui pencapaian ini, Bali International Hospital berharap dapat mempercepat adopsi teknologi bedah robotik di Indonesia sekaligus memperkuat posisi Bali sebagai salah satu destinasi layanan kesehatan dan wisata medis di kawasan Asia-Pasifik.

Load More