Suara.com - Orang yang tidak pernah belajar membaca dan menulis alias buta huruf mungkin berisiko lebih tinggi untuk mengalami demensia. Hal ini dibuktikan dalam sebuah penelitian yang dilakukan pada 983 orang dewasa berusia 65 tahun ke atas.
Dilansir dari New York Times, diketahui mereka memiliki masa sekolah empat tahun atau lebih sedikit dan 90% responden berasal dari Republik Dominika, di mana kesempatan untuk bersekolah terbatas.
Meski begitu, banyak di antara mereka yang melanjutkan belajar membaca di luar sekolah, tetapi sebanyak 237 tidak bisa membaca atau menulis.
Para peserta pun secara berkala mengikuti tes memori, bahasa dan penalaran dalam kurun waktu tiga setengah tahun.
Hasilnya, orang dewasa yang buta huruf 2,65 kali lebih mungkin mengalami demensia pada awal penelitian daripada mereka yang melek huruf. Kondisi ini diketahui mungkin dapat berkembang menjadi dua kali lipatnya pada akhir penelitian.
Artinya, seiring berjalannya waktu seseorang yang buta huruf memiliki kemungkinan lebih besar dalam mengembangkan demensia.
Namun, orang yang buta huruf tidak menunjukkan tingkat penurunan keterampilan daripada mereka yang bisa membaca dan menulis.
"Paparan dan peluang sosial pada kehidupan awal memiliki dampak terhadap kehidupan selanjutnya," kata penulis senior, Jennifer J. Manly, seorang profesor neuropsikologi di Columbia.
Menurutnya, ini adalah hal yang perlu digarisbawahi.
Baca Juga: Peneliti Ungkap Tes Mental Usia Dini Bisa Prediksi Risiko Demensia Masa Tua
"Kami ingin memperluas penelitian ini ke populasi lain. Hipotesis kami adalah ini relevan dan hasilnya akan sama di seluruh populasi orang dewasa yang buta huruf," sambungnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Motor Listrik Paling Kuat di Tanjakan 2026, Anti Ngeden dan Tetap Bertenaga
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- Therese Halasa, Perempuan Palestina yang Tembak Benjamin Netanyahu
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
Pilihan
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
-
Regime Change! Kongres AS Usul Donald Trump dan Menteri Perang Dicopot Pekan Depan
-
Kebakaran di Gedung Satreskrim Polres Jakarta Barat, 13 Mobil Damkar Dikerahkan
Terkini
-
Berat Badan Anak Susah Naik? Waspadai Gejala Penyakit Jantung Bawaan yang Sering Tak Disadari
-
Tes Genetik Makin Terjangkau, Indonesia Targetkan 200 Ribu Sequencing DNA untuk Deteksi Penyakit
-
Kenali Ragam Penyakit Ginjal dan Pilihan Pengobatan Terbaiknya
-
Solusi Membasmi Polusi Kekinian ala Panasonic
-
Gaya Hidup Modern Picu Asam Urat, Ini Solusi Alami yang Mulai Direkomendasikan
-
Memahami Autisme dari Dekat: Kenapa Dukungan Lingkungan Itu Penting untuk Anak ASD
-
17.500 Paket Gizi untuk Masa Depan: Langkah Konkret Melawan Stunting di Bekasi
-
Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran
-
Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit
-
Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata