Suara.com - Semakin meningkatnya jumlah pasien terinfeksi virus corona atau Covid-19, kini dokter mesti memilih untuk memprioritaskan pasien yang punya kemungkinan bertahan hidup.
Saran itu dibuat oleh British Medical Association (BMA). Dokumen itu mengatakan bahwa para profesional kesehatan dapat dipaksa untuk membuat 'keputusan serius' jika rumah sakit kewalahan dengan pasien.
Dokumen tersebut memperingatkan bahwa keputusan terkait kebutuhan medis yang langka, seperti ventilator, dapat menentukan apakah sejumlah besar pasien akan menerima perawatan yang menyelamatkan jiwa atau tidak.
Panduan baru BMA itu bertujuan untuk memastikan dokter memiliki dukungan yang jelas dan etis seandainya mereka harus membuat keputusan sulit terkait perawatan pasien selama pandemi.
"Melihat ke depan untuk beberapa minggu mendatang, jika pilihan sulit diperlukan, kami tahu mereka akan diperebutkan. Akan ada kemarahan dan rasa sakit," ujar ketua komite etika medis, BMA Dr John Chisholm, seperti dilansir dari Metro.co.uk.
Ia melanjutkan, orang-orang yang, dalam keadaan normal, akan menerima perawatan yang keras akan dapat diberikan paliasi untuk mendukung mereka yang memiliki kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan manfaat.
“Tidak ada yang ingin membuat keputusan ini, tetapi jika melampaui sumber daya, keputusan ini harus dibuat.” kata dia.
Pedoman BMA menyatakan bahwa selama puncak pandemi, dokter mungkin harus menilai kelayakan seseorang untuk perawatan berdasarkan pada 'kapasitas untuk mendapat manfaat dengan cepat.
Profesional kesehatan mungkin berkewajiban untuk menarik pengobatan dari beberapa pasien untuk memungkinkan perawatan pasien lain dengan probabilitas kelangsungan hidup yang lebih tinggi.
Baca Juga: Aksi Nekat Pasien Corona Gigit Wajah Perawat
“Ini mungkin akan membuat mereka melakukan penarikan pengobatan dari individu yang stabil atau bahkan membaik tetapi penilaian objektifnya menunjukkan prognosis yang lebih buruk daripada pasien lain yang membutuhkan sumber daya yang sama," kata Chisholm.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- 5 Lipstik Rekomendasi Fuji yang Tahan Lama, Tidak Kering dan Anti Pecah-Pecah
Pilihan
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
Terkini
-
Kolesterol Tinggi Sering Tanpa Gejala, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini sejak Usia 20 Tahun
-
Dokter Bantah Mitos Obat Kolesterol dan Diabetes Rusak Ginjal, Ini Penjelasannya
-
Anak Sering Ruam atau Diare Setelah Minum Susu? Bisa Jadi Tanda Alergi Susu Sapi
-
Metoo Hadirkan Senyum di Tengah Mobilitas Jakarta lewat Aktivasi Interaktif di CSW
-
Dorong Pola Makan Seimbang, Konsumsi Buah dan Sayur Masih Jadi Tantangan di Indonesia
-
Saat Lambung Mulai Sensitif, Ini Pilihan Makanan yang Lebih Ramah di Perut
-
Quinn Salman Selalu Sempatkan Waktu Bermain Bersama Keluarga, Ternyata Manfaatnya Bagus Banget?
-
Mobilitas Tinggi Bikin Kulit Lebih Rentan Terpapar Kuman, Kapan Perlu Antiseptik?
-
Ancaman Tak Terlihat bagi Lingkungan Perairan: Residu Antidepresan Meningkat di Sungai
-
Layanan Ortopedi Dalam Negeri Kian Dekat dengan Standar Internasional