Health / Men
Jum'at, 27 Februari 2026 | 05:16 WIB
Ilustrasi Puasa (Unsplash)

Suara.com - Selama berabad-abad, puasa dominan dipraktikkan sebagai ritual keagamaan dan spiritual. Namun, dalam sepuluh tahun terakhir, paradigma medis mulai bergeser.

Puasa kini diakui sebagai intervensi terapeutik yang kuat bagi tubuh manusia. Penelitian klinis menunjukkan bahwa ketika asupan makanan dihentikan sementara, tubuh tidak hanya berdiam diri dalam kelaparan, melainkan mengaktifkan mode perbaikan sistemik yang sangat kompleks.

Berikut adalah empat mekanisme biologis utama yang terjadi saat tubuh berada dalam kondisi puasa menurut studi medis terbaru:

1. Autofagi: Sistem Pembersihan Sel Otomatis

Landasan ilmiah mengenai puasa diperkuat oleh temuan ilmuwan Jepang, Yoshinori Ohsumi, yang memenangkan Hadiah Nobel Kedokteran pada 2016.

Ia membedah fenomena Autofagi, yang secara harfiah berarti "memakan diri sendiri".

Saat tidak ada energi masuk, sel-sel tubuh secara cerdas mulai mengidentifikasi komponen yang rusak, protein yang cacat, atau sel yang tidak berfungsi.

Sel-sel ini kemudian dihancurkan dan didaur ulang menjadi unit energi baru yang lebih bersih. Mekanisme detoksifikasi internal ini sangat krusial dalam meminimalisir risiko penyakit degeneratif saraf, termasuk Alzheimer dan Parkinson.

2. Pergeseran Metabolik: Membakar Lemak Menjadi Energi

Baca Juga: Wajib Tutup Selama Ramadan? Ini Daftar Tempat Hiburan Malam di Jaksel yang Disegel Pemprov DKI

Sebuah laporan dalam The New England Journal of Medicine (2019) menyoroti fenomena bernama "Metabolic Switching" atau peralihan metabolisme. Secara normal, tubuh mengandalkan glukosa (gula) sebagai bensin utama.

Namun, setelah memasuki fase 12 jam tanpa makanan, cadangan gula di hati akan menipis. Pada titik inilah tubuh melakukan "saklar" energi dengan membakar lemak dan mengubahnya menjadi Keton.

Lebih dari sekadar bahan bakar alternatif, keton berperan sebagai molekul pemberi sinyal yang memerintahkan sel untuk memperkuat proteksi terhadap stres oksidatif serta mempercepat pemulihan struktur DNA yang rusak.

3. Pemulihan Sensitivitas terhadap Insulin

Puasa merupakan metode alami yang sangat efektif untuk mengatasi resistensi insulin, sebuah masalah utama pada masyarakat modern.

Riset yang dimuat dalam World Journal of Diabetes (2017) mengungkapkan bahwa jeda makan secara rutin mampu menekan kadar insulin dalam darah secara signifikan.

Dampaknya bersifat ganda:

  • Pembakaran Lemak: Penurunan kadar insulin memicu tubuh untuk lebih mudah mengakses dan membakar simpanan lemak jahat.
  • Stabilitas Gula Darah: Proses ini menciptakan keseimbangan gula darah jangka panjang, yang menjadi garda terdepan dalam pencegahan maupun penanganan diabetes tipe 2.

4. Efek Neuroprotektif: Nutrisi bagi Kecerdasan Otak

Dampak puasa ternyata melampaui kesehatan fisik hingga menyentuh fungsi kognitif. Mark Mattson, pakar neurosains dari Johns Hopkins University, menemukan bahwa puasa merangsang produksi protein BDNF (Brain-Derived Neurotrophic Factor).

"BDNF kerap dianalogikan sebagai 'pupuk' bagi otak. Protein ini bertanggung jawab memacu pertumbuhan neuron baru dan mempererat koneksi antar-sel saraf (sinapsis)."

Peningkatan kadar BDNF inilah yang memberikan sensasi kejernihan pikiran (mental clarity) dan fokus yang lebih tajam bagi mereka yang telah terbiasa dengan pola puasa.

Sains modern membuktikan bahwa kesehatan yang optimal sering kali tidak dicapai dengan menambahkan zat luar seperti obat atau suplemen secara berlebihan.

Sebaliknya, pemulihan sejati terjadi saat kita memberikan tubuh kesempatan untuk beristirahat. Puasa memberikan waktu bagi mesin biologis kita untuk menjalankan fungsi alaminya: menyembuhkan dan meregenerasi diri sendiri.

Kontributor : Rizqi Amalia

Load More