- Pengobatan kanker bertransformasi menuju pendekatan presisi, minim invasif, dan personal melalui teknologi robotik dan terapi proton.
- IHH Healthcare Singapore mengintegrasikan bedah robotik, terapi proton, dan pengujian genomik di fasilitas mereka di Singapura.
- Pengujian genomik menganalisis profil genetik tumor untuk memandu pemilihan terapi yang paling efektif bagi pasien.
Suara.com - Diagnosis kanker tak lagi identik dengan pendekatan terapi yang seragam. Perkembangan teknologi medis dalam satu dekade terakhir mendorong transformasi besar dalam penanganan kanker: dari tindakan yang bersifat umum menjadi terapi yang presisi, minim invasif, dan semakin personal.
Momentum Hari Kanker Sedunia setiap Februari menjadi pengingat bahwa tujuan pengobatan bukan semata memperpanjang usia, tetapi juga menjaga kualitas hidup pasien. Di Asia Tenggara, tren ini semakin terlihat melalui pemanfaatan bedah robotik, terapi proton, hingga pengujian genomik untuk menentukan terapi yang paling sesuai dengan karakter biologis tumor.
IHH Healthcare Singapore, bagian dari jaringan global IHH Healthcare, menjadi salah satu penyedia layanan yang mengintegrasikan ketiga pendekatan tersebut dalam ekosistem perawatan kanker di Mount Elizabeth Hospitals dan Gleneagles Hospital Singapore.
Bedah Robotik: Presisi Tinggi, Trauma Lebih Rendah
Pendekatan minimal invasif kini semakin berkembang lewat penggunaan sistem bedah robotik seperti Da Vinci. Teknologi ini memungkinkan dokter melakukan operasi melalui sayatan kecil dengan visualisasi tiga dimensi yang diperbesar serta instrumen yang bergerak lebih stabil dan presisi dibandingkan tangan manusia.
Menurut Dr. Eugene Yeo, ahli bedah robotik spesialis kanker kolorektal di Mount Elizabeth Hospital, pendekatan ini membantu menjaga kualitas hidup pasien pascaoperasi.
“Operasi dengan teknologi robotik memberi kami kemampuan mengobati penyakit secara agresif sekaligus merawat pasien dengan lebih lembut. Tujuan kami bukan hanya mengangkat kanker, tetapi juga melindungi bagaimana pasien hidup setelahnya,” ujar Dr. Eugene.
Sejumlah studi menunjukkan bedah robotik berpotensi menurunkan risiko komplikasi, mengurangi perdarahan, serta mempercepat masa pemulihan. Bagi pasien, ini berarti waktu rawat inap yang lebih singkat dan fungsi organ yang lebih terjaga.
Terapi Proton: Radiasi yang Lebih Terarah
Baca Juga: Lebih dari Sekadar Sembuh: Ini Rahasia Pemulihan Total Pasien Kanker Anak Setelah Terapi
Radioterapi selama ini menjadi pilar penting dalam pengobatan kanker. Namun, paparan radiasi konvensional dapat berdampak pada jaringan sehat di sekitar tumor. Terapi proton hadir sebagai alternatif yang lebih presisi karena partikel proton dapat “berhenti” tepat di lokasi tumor, sehingga meminimalkan paparan ke organ sekitarnya.
Mount Elizabeth Proton Therapy Centre menjadi salah satu fasilitas terapi proton di kawasan Asia Tenggara. Teknologi ini dinilai bermanfaat terutama untuk tumor yang berada dekat organ vital atau pada pasien anak.
Dr. Grace Kusumawidjaja, Dokter Onkologi Radiasi di Mount Elizabeth Hospitals dan Gleneagles Hospital Singapore, menjelaskan, “Terapi proton memungkinkan kami menargetkan tumor dengan lebih akurat sambil menjaga jaringan sehat sebanyak mungkin. Bagi pasien dengan tumor agresif atau sulit dijangkau, ini dapat berarti efek samping yang lebih ringan dan kualitas hidup yang lebih baik selama maupun setelah terapi.”
Bagi pasien Indonesia, akses ke teknologi ini kini relatif lebih dekat secara geografis dibanding harus bepergian ke Eropa atau Amerika Serikat.
Onkologi Presisi Berbasis Genomik
Selain teknologi bedah dan radiasi, perkembangan signifikan juga terjadi pada ranah diagnostik melalui pengujian genomik. Pendekatan ini menganalisis profil genetik tumor untuk membantu dokter memilih terapi yang paling tepat dan efektif.
Berita Terkait
Terpopuler
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Terpopuler: Lipstik Tahan Lama untuk Bibir Hitam, Sepatu New Balance Tanpa Tali untuk Jalan Jauh
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
Pilihan
-
Rambah Cempaka: Perempuan yang Bersemayam di Batu Lumpang
-
Jay Idzes Tercoret! Ini Daftar Pemain Timnas Indonesia Hadapi FIFA Matchday
-
Evaluasi Besar-besaran: 8.182 SPPG Pernah Ditangguhkan, 2.213 Masih Berstatus Suspend
-
Kabar Duka, Eks Menhan Jenderal Ryamizard Ryacudu Meninggal Dunia di RSPAD
-
Strategi Berani John Herdman: Mengapa Piala AFF 2026 Jadi Panggung Khusus Pemain Domestik?
Terkini
-
Waspada! Ini Tanda Kelebihan Vitamin B6, dari Kesemutan hingga Kerusakan Saraf
-
Fakta Kanker Payudara yang Jarang Dibahas: Harapan Baru dan Pentingnya Skrining
-
Perempuan Hadapi Dampak Lebih Besar dari Gelombang Panas Ekstrem
-
Cara Memilih Susu Formula, Ini 5 Kriteria yang Perlu Diperhatikan Orang Tua
-
Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?
-
Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak
-
Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian
-
Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI