Health / Konsultasi
Sabtu, 28 Februari 2026 | 08:40 WIB
Ilustrasi kanker (pixabay)
Baca 10 detik
  • Pengobatan kanker bertransformasi menuju pendekatan presisi, minim invasif, dan personal melalui teknologi robotik dan terapi proton.
  • IHH Healthcare Singapore mengintegrasikan bedah robotik, terapi proton, dan pengujian genomik di fasilitas mereka di Singapura.
  • Pengujian genomik menganalisis profil genetik tumor untuk memandu pemilihan terapi yang paling efektif bagi pasien.

Suara.com - Diagnosis kanker tak lagi identik dengan pendekatan terapi yang seragam. Perkembangan teknologi medis dalam satu dekade terakhir mendorong transformasi besar dalam penanganan kanker: dari tindakan yang bersifat umum menjadi terapi yang presisi, minim invasif, dan semakin personal.

Momentum Hari Kanker Sedunia setiap Februari menjadi pengingat bahwa tujuan pengobatan bukan semata memperpanjang usia, tetapi juga menjaga kualitas hidup pasien. Di Asia Tenggara, tren ini semakin terlihat melalui pemanfaatan bedah robotik, terapi proton, hingga pengujian genomik untuk menentukan terapi yang paling sesuai dengan karakter biologis tumor.

IHH Healthcare Singapore, bagian dari jaringan global IHH Healthcare, menjadi salah satu penyedia layanan yang mengintegrasikan ketiga pendekatan tersebut dalam ekosistem perawatan kanker di Mount Elizabeth Hospitals dan Gleneagles Hospital Singapore.

Bedah Robotik: Presisi Tinggi, Trauma Lebih Rendah

Pendekatan minimal invasif kini semakin berkembang lewat penggunaan sistem bedah robotik seperti Da Vinci. Teknologi ini memungkinkan dokter melakukan operasi melalui sayatan kecil dengan visualisasi tiga dimensi yang diperbesar serta instrumen yang bergerak lebih stabil dan presisi dibandingkan tangan manusia.

Menurut Dr. Eugene Yeo, ahli bedah robotik spesialis kanker kolorektal di Mount Elizabeth Hospital, pendekatan ini membantu menjaga kualitas hidup pasien pascaoperasi.

“Operasi dengan teknologi robotik memberi kami kemampuan mengobati penyakit secara agresif sekaligus merawat pasien dengan lebih lembut. Tujuan kami bukan hanya mengangkat kanker, tetapi juga melindungi bagaimana pasien hidup setelahnya,” ujar Dr. Eugene.

Sejumlah studi menunjukkan bedah robotik berpotensi menurunkan risiko komplikasi, mengurangi perdarahan, serta mempercepat masa pemulihan. Bagi pasien, ini berarti waktu rawat inap yang lebih singkat dan fungsi organ yang lebih terjaga.

Terapi Proton: Radiasi yang Lebih Terarah

Baca Juga: Lebih dari Sekadar Sembuh: Ini Rahasia Pemulihan Total Pasien Kanker Anak Setelah Terapi

Radioterapi selama ini menjadi pilar penting dalam pengobatan kanker. Namun, paparan radiasi konvensional dapat berdampak pada jaringan sehat di sekitar tumor. Terapi proton hadir sebagai alternatif yang lebih presisi karena partikel proton dapat “berhenti” tepat di lokasi tumor, sehingga meminimalkan paparan ke organ sekitarnya.

Mount Elizabeth Proton Therapy Centre menjadi salah satu fasilitas terapi proton di kawasan Asia Tenggara. Teknologi ini dinilai bermanfaat terutama untuk tumor yang berada dekat organ vital atau pada pasien anak.

Dr. Grace Kusumawidjaja, Dokter Onkologi Radiasi di Mount Elizabeth Hospitals dan Gleneagles Hospital Singapore, menjelaskan, “Terapi proton memungkinkan kami menargetkan tumor dengan lebih akurat sambil menjaga jaringan sehat sebanyak mungkin. Bagi pasien dengan tumor agresif atau sulit dijangkau, ini dapat berarti efek samping yang lebih ringan dan kualitas hidup yang lebih baik selama maupun setelah terapi.”

Bagi pasien Indonesia, akses ke teknologi ini kini relatif lebih dekat secara geografis dibanding harus bepergian ke Eropa atau Amerika Serikat.

Onkologi Presisi Berbasis Genomik

Selain teknologi bedah dan radiasi, perkembangan signifikan juga terjadi pada ranah diagnostik melalui pengujian genomik. Pendekatan ini menganalisis profil genetik tumor untuk membantu dokter memilih terapi yang paling tepat dan efektif.

Di Mount Elizabeth Novena Centre for Genomic Health, pengujian genomik digunakan untuk memahami karakter biologis kanker secara lebih mendalam.

Dr. Lynette Ngo, Direktur Utama di pusat tersebut, menegaskan pentingnya pendekatan personal dalam onkologi modern.

“Teknologi yang kami miliki mencerminkan komitmen untuk mengobati bukan hanya sel kanker, tetapi juga individunya. Pengujian genetik membantu menjelaskan mengapa kanker berkembang dan memandu pilihan terapi yang lebih aman dan sesuai dengan biologi masing-masing pasien,” jelasnya.

Pendekatan ini juga dapat memberikan informasi bagi anggota keluarga terkait risiko genetik dan langkah pencegahan di masa depan.

Lebih dari Sekadar Teknologi

Meski kemajuan teknologi menjadi sorotan utama, aspek pendampingan emosional dan dukungan keluarga tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan pengobatan. Hal ini dirasakan oleh Stephen, penyintas kanker nasofaring yang menjalani terapi proton.

“Ketika menghadapi kanker, pasien tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi juga keluarga. Saya ingin melakukan semua yang saya bisa, bukan hanya untuk saya, tetapi juga untuk orang-orang yang bergantung pada saya,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya komunikasi dokter yang hangat dan suportif selama proses terapi.

Transformasi perawatan kanker saat ini menunjukkan bahwa masa depan onkologi bergerak menuju presisi, personalisasi, dan kualitas hidup yang lebih baik. Dengan integrasi bedah robotik, terapi proton, serta pengujian genomik, IHH Healthcare Singapore mencerminkan arah perkembangan layanan kanker modern di kawasan — di mana pengobatan tidak lagi sekadar tentang bertahan hidup, tetapi tentang tetap menjalani hidup dengan bermakna.

Load More