Suara.com - Daus Mini dan istrinya, Shelvie Hana Wijaya, mengaku sedang menjalani program kehamilan. Agar berhasil, Daus sampai berkonsultasi dengan Dokter Boyke Dian Nugraha.
"Nambah ilmu lagi dari dokter Boyke gitu, yang artinya sebagai lelaki nggak boleh namanya stres, capek. Perempuan pun sama. Jadi ya itu tidak membuahkan hasil," kata Daus Mini, saat ditemui di kawasan Jalan Kapten P Tendean, Jakarta Selatan, Rabu (10/6/2020).
Walau demikian, pria 33 tahun ini mengatakan menjalaninya secara santai. Selain mengikuti program kehamilan, Daus dan istri juga berusaha berikhtiar dalam mendapatkan buah hati.
Berdasarkan saran dari sang dokter, Daus dikatakan harus menghindari kondisi yang membuatnya stres dan kelelahan.
Hal ini didukung oleh sebuah penelitian yang menunjukkan stres dapat menurunkan kualitas sperma dan air mani, yang dapat berimplikasi pada kesuburan pria.
Menurut American Society for Reproductive Medicine, pada sekitar 40% pasangan infertil, pasangan pria adalah satu-satunya penyebab atau penyebab utama infertilitas.
Penyebab utama infertilitas pria adalah kelainan sperma, termasuk produksi sperma yang rendah atau cacat atau sperma yang tidak bergerak.
Dilansir dari Medical News Today, hasil penelitian yang terbit pada jurnal Fertility and Sterility ini menunjukkan pria yang mengalami dua atau lebih peristiwa kehidupan yang penuh tekanan dalam satu tahun terakhir memiliki persentase motilitas sperma yang lebih rendah.
Mereka mencatat temuan ini tetap, bahkan setelah memperhitungkan faktor-faktor lain yang dapat memengaruhi kualitas semen, seperti usia, masalah kesehatan lainnya dan riwayat masalah kesehatan reproduksi.
Baca Juga: Stres Karena Pandemi Virus Corona Covid-19? Redakan dengan 5 Makanan Ini!
Meski stres di tempat kerja tidak secara langsung memengaruhi kualitas semen, tetapi mereka ini memiliki kadar hormon testosteron yang lebih rendah dalam air mani mereka, yang dapat memengaruhi kesehatan reproduksi.
Selain itu, mereka menemukan bahwa terlepas dari tingkat stres yang dialami, pria menganggur memiliki kualitas semen yang lebih rendah daripada mereka yang bekerja.
Berita Terkait
Terpopuler
- Jaksa Skakmat Nadiem: Mau Putus Konflik Kepentingan, Kok Saham Gojek Tak Dijual?
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
Pilihan
-
Harry de Fretes Bagikan Kabar Haji Bolot Meninggal, Keluarga: Hoaks, Itu Orang Kurang Kerjaan
-
Prediksi Meksiko vs Afrika Selatan: Head to Head, Susunan Pemain dan Fakta Menarik
-
Rekor Gila ARMY Indonesia! Belum Genap Sejam, Ratusan Ribu Tiket Konser OT7 BTS Ludes Tanpa Sisa
-
PTBA Kembangkan 500 Itik Petelur di Muara Enim, Hasilkan 200 Telur Omega per Hari
-
Raffi Ahmad Terseret Kasus Suap Impor, Padahal Cuma Basa-basi Titip Barang ke PT Blueray
Terkini
-
Metoo Hadirkan Senyum di Tengah Mobilitas Jakarta lewat Aktivasi Interaktif di CSW
-
Dorong Pola Makan Seimbang, Konsumsi Buah dan Sayur Masih Jadi Tantangan di Indonesia
-
Saat Lambung Mulai Sensitif, Ini Pilihan Makanan yang Lebih Ramah di Perut
-
Quinn Salman Selalu Sempatkan Waktu Bermain Bersama Keluarga, Ternyata Manfaatnya Bagus Banget?
-
Mobilitas Tinggi Bikin Kulit Lebih Rentan Terpapar Kuman, Kapan Perlu Antiseptik?
-
Ancaman Tak Terlihat bagi Lingkungan Perairan: Residu Antidepresan Meningkat di Sungai
-
Layanan Ortopedi Dalam Negeri Kian Dekat dengan Standar Internasional
-
Pengembangan Vaksin Dalam Negeri Kian Maju, Perlindungan terhadap HPV Jadi Fokus
-
Mikroplastik Ada di Makanan, Minuman, hingga Udara: Seberapa Besar Risikonya bagi Kesehatan?
-
Memilih Susu Anak Tak Cukup Lihat Kandungan DHA, Orang Tua Perlu Cermati Komposisi Utamanya