Suara.com - Zaskia Adya Mecca baru saja melahirkan anak kelima yang diberi nama Bhaj Kama Bamantyo. Di tengah kebahagiannya, Tapi sayang, ada yang membuat istri sutradara Hanung Bramantyo itu bersedih usai persalinannya, karena sempat selama berjam-jam ia tidak bisa bertemu anaknya lantaran gangguan napas yang dialaminya.
Kondisi Kama dinilai sempat tidak bagus karena napasnya sangat cepat, seolah terengah-engah. Oleh karenanya, tim dokter tengah mengobservasi sang bayi untuk memantau kondisi anak keenam dari Hanung Bramantyo itu.
Jadi penasaran, apa yang membuat bayi bernapas cepat?
Melansir Hello Sehat, Sabtu (4/6/2020) memang bayi kerap memiliki pernapasan yang berbeda dengan orang dewasa. Ini karena struktur organ pernapasan bayi yang belum bekerja dengan sempurna. Dibanding orang dewasa saluran napas bayi lebih kecil dan sempit. Apalagi ditambah dada bayi masih terdiri dari tulang yang masih rawan.
Itulah mengapa pernapasan bayi terdengar lebih cepat, bahkan ia terlihat seolah mengambil jeda sebelum bernapas kembali, terkadang ada pula bunyi-bunyi yang tidak wajar saat ia bernapas. Jika benar-benar sangat tidak wajar, baik orangtua maupun dokter memang harus waspada.
Berikut 3 gangguan napas pada bayi yang membuat ia seperti bernapas dengan cepat:
1. Takipnea transien
Kondisi ini terjadi karena masih adanya sisa cairan di dalam paru-paru bayi. Seperti yang diketahui, saat di dalam kandungan, paru-paru bayi memang berisi cairan atau air ketuban. Normalnya, setelah lahir, cairan itu akan habis terserap saat sistem limfatik dan pembuluh darah bayi bekerja ketika ia terlahir.
Biasanya kondisi ini akan terjadi sementara waktu dan akan menghilang dengan sendirinya saat bayi tumbuh. Oleh karenanya, perlu diamati dan diobservasi dokter.
Baca Juga: Happy Hypoxia, Sesak Napas Pasien Covid-19 yang Bisa Sebabkan Kematian
2. Croup
Ini adalah sejenis infeksi virus yang menyebabkan peradangan di trakea dan laring pada paru-paru bayi. Kondisi inilah yang menyebabkan sesak napas pada bayi.
3. Wheezing (berdenging)
Kondisi ini ditandai dengan adanya bunyi siulan saat bayi bernapas. Biasanya sebabnya karena bayi menderita penyakit lain, seperti pneumonia sejak lahir, asma, atau terjadi alergi bawaan.
4. Stridor
Kondisi ini mirip dengan wheezing, adanya stridor yang menyebabkan sesak napas pada bayi diikuti dengan suara berdenging tinggi. Penyebab paling umum terjadi karena laringomalasia atau kondisi penyempitan pada saluran napas.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Kaki Masih Pegal Setelah Lari? Ini 5 Sepatu Recovery Run Lokal dengan Review Terbaik
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
Pilihan
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
Terkini
-
Rekomendasi Dokter Richard, Ini Solusi Praktis Redakan Wasir dengan Cara Alami
-
Kolesterol Tinggi Sering Tanpa Gejala, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini sejak Usia 20 Tahun
-
Dokter Bantah Mitos Obat Kolesterol dan Diabetes Rusak Ginjal, Ini Penjelasannya
-
Anak Sering Ruam atau Diare Setelah Minum Susu? Bisa Jadi Tanda Alergi Susu Sapi
-
Metoo Hadirkan Senyum di Tengah Mobilitas Jakarta lewat Aktivasi Interaktif di CSW
-
Dorong Pola Makan Seimbang, Konsumsi Buah dan Sayur Masih Jadi Tantangan di Indonesia
-
Saat Lambung Mulai Sensitif, Ini Pilihan Makanan yang Lebih Ramah di Perut
-
Quinn Salman Selalu Sempatkan Waktu Bermain Bersama Keluarga, Ternyata Manfaatnya Bagus Banget?
-
Mobilitas Tinggi Bikin Kulit Lebih Rentan Terpapar Kuman, Kapan Perlu Antiseptik?
-
Ancaman Tak Terlihat bagi Lingkungan Perairan: Residu Antidepresan Meningkat di Sungai