Suara.com - Hari Anak Nasional selalu dirayakan setian 23 Juli di setiap tahunnya. Di tengah pandemi Covid-19 seperti sekarang, perayaan Hari Anak Nasional atau HAN akan menjadi sangat berbeda.
Masalah anak di Indonesia sendiri ada beragam banyaknya. Salah satunya adalah masalah pemenuhan gizi anak yang menjadi hak anak dan kewajiban bagi orangtua.
Pada Hari Anak Nasional 2011 lalu, Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi dan Lembaga Kajian Kesehatan dan Pembangunan (LKKP) menyelenggarakan diskusi bertajuk: “Gizi Salah, Otak Kosong, Bangsa Sakit, Siapa yang Bertanggung Jawab?”
Dari diskusi tersebut, munculah lima rekomendasi bagi pemenuhan gizi anak yang masih relevan sampai sekarang. Apa lima rekomendasi tersebut? Berikut Suara.com kembali sajikan untuk Anda.
Pertama, pemerintah yang merupakan mandatori Negara menjamin “keadilan pangan” (food justice) serta wajib menjamin ketersediaan dan akses untuk pemenuhan hak dasar anak dan ibu hamil dalam rangka memerangi gizi kurang serta memasukkannya dalam skema Jaminan Sosial Kesehatan yang bersifat universal.
Kedua, mencegah meningkatnya gangguan kesehatan pada anak-anak akibat gizi lebih dengan memfasilitasi dan mendorong terbentuknya regulasi.
Regulasi yang dimaksud adalah mengatur pembatasan gula pada makanan bayi dan anak, termasuk memasukkan pendidikan gizi ke dalam kurikulum sekolah.
Dengan begitu, anak Indonesia dapat terpapar sejak dini mengenai pola hidup sehat, cara memilih jajanan yang bergizi seimbang, hingga kebiasaan membaca label informasi gizi pada kemasan makanan.
Ketiga, melakukan fasilitasi terbentuknya teman sebaya “anak sadar gizi” dan merevitalisasi kantin atau warung sehat di sekolah dengan menu jajanan gizi seimbang.
Baca Juga: Rayakan Hari Anak Nasional, Naura Resmi Rilis Lagu Baru
Keempat melakukan pemberdayaan kaum ibu dan keluarha lewat kemandirian ekonomi sehingga dapat mengelola keuangan rumah tangganya secara mandiri.
Selain itu keluarga juga diharapkan memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk melakukan pola asuh yang baik, memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk mengolah makanan secara bervariasi sesuai takaran porsi.
Keluarga juga harus memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk memilih bahan makanan dan mengutamakan bahan yang bersumber lokal yang masih segar dengan kandungan gizi terjamin, mudah, murah, serta halal.
Kelima, membudayakan gerakan kearifan mengkonsumsi sumber gizi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Jangan Anggap Sepele Ruam dan Gangguan Cerna, Ini Pentingnya Deteksi Dini Alergi pada Anak
-
Pekan Imunisasi Dunia Jadi Pengingat, DBD Kini Mengancam Anak hingga Dewasa
-
Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak
-
Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?
-
Geger Hantavirus Menyebar di Kapal Pesiar, Tiga Orang Dilaporkan Meninggal Dunia
-
Hasil Investigasi KKI: 92% Konsumen Keluhkan Galon Tua, Ternyata Ini Dampak Buruknya bagi Tubuh
-
Tips Memilih Susu Berkualitas, Nutrisionis: Perhatikan Sumber dan Kandungannya
-
Pemulihan Optimal Setelah Operasi Dimulai dari Asupan Nutrisi yang Tepat
-
Diet Vegan Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Hingga 55 Persen, Apa Buktinya?
-
Lebih dari Sekadar Nutrisi, Protein Jadi Kunci Hidup Aktif dan Sehat