Suara.com - Seorang dokter asal Florida, Gregory Michael, meninggal beberapa minggu setelah menerima vaksin Covid-19. Namun, hingga kini belum dipastikan apakah vaksin adalah penyebab kematiannya.
Melansir USA Today, dokter berusia 56 tahun tersebut merupakan seorang obgyn di Mount Sinai Medical Center, Miami.
Sang dokter meninggal setelah mengalami stroke hemoragik akibat kekurangan trombosit.
Departemen Kesehatan Florida mengatakan bahwa pemeriksa medis Miami sedang menyelidiki kematiannya,.
"Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) dan BPOM AS (AS) bertanggung jawab untuk meninjau data keamanan vaksin Covid-19," kata direktur komunikasi Jason Mahon.
Ia juga mengatakan bahwa mereka akan terus memberikan informasi yang tersedia kepada CDC untuk penyelidikan.
Di sisi lain, CDC mengonfirmasi bahwa ia menerima laporan kematian tersebut.
"Kami mendapat laporan kematian di Florida, seseorang yang menerima vaksin Pfizer-BioNTech Covid-19 sekitar dua minggu sebelum meninggal," kata juru bicara CDC pada Rabu (6/1/2021), dilansir CNN.
Michael diketahui mendapat vaksin sekitar tanggal 19 Desember 2020 dan meninggal pada 4 Januari 2021.
Baca Juga: CDC: Satu dari 100 Ribu Penerima Vaksin Pfizer Alami Reaksi Alergi Parah
Direktur operasi di kantor pemeriksa medis Miami, Darren Caprara, mengatakan bahwa pihak Pfizer juga sedang menyelidiki.
Menurut Pfizer dalam pernyataannya, kasus klinis seperti trombositopenia parah, kondisi yang menurunkan kemampuan tubuh untuk membekukan darah dan menghentikan pendarahan internal, sangat tidak biasa terjadi.
"Kami secara aktif menyelidiki kasus ini, tetapi saat ini kami tidak yakin bahwa ada hubungan langsung dengan vaksin tersebut," kata perusahaan itu dalam pernyataan.
Pejabat CDC mengatakan bahwa pihaknya belum melihat adanya dampak parah mengkhawatirkan di luar kasus alergi pada 29 penerima vaksin.
"Manfaat yang diketahui dan potensial dari vaksin Covid-19 saat ini lebih besar daripada risiko yang diketahui dan potensial," jelas direktur Pusat Nasional untuk Imunisasi dan Penyakit Pernapasan CDC, Nancy Messonnier.
Messonnier mengatakan bahwa hal itu bukan berarti CDC tidak dapat melihat potensi kejadian kesehatan serius di masa depan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- Link Gratis Baca Buku Broken Strings, Memoar Pilu Aurelie Moeremans yang Viral
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
Pilihan
-
Gurita Bisnis Adik Prabowo, Kini Kuasai Blok Gas di Natuna
-
Klaim "Anti Banjir" PIK2 Jebol, Saham PANI Milik Aguan Langsung Anjlok Hampir 6 Persen
-
Profil Beckham Putra, King Etam Perobek Gawang Persija di Stadion GBLA
-
4 HP Snapdragon RAM 8 GB Paling Murah untuk Gaming, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terancam Tembus Rp17.000
Terkini
-
Perawatan Kulit Personal Berbasis Medis, Solusi Praktis di Tengah Rutinitas
-
Implan Gigi Jadi Solusi Modern Atasi Masalah Gigi Hilang, Ini Penjelasan Ahli
-
Apa Beda Super Flu dengan Flu Biasa? Penyakitnya Sudah Ada di Indonesia
-
5 Obat Sakit Lutut Terbaik untuk Usia di Atas 50 Tahun, Harga Mulai Rp 13 Ribu
-
Kalimantan Utara Mulai Vaksinasi Dengue Massal, Kenapa Anak Jadi Sasaran Utama?
-
Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026