Suara.com - Varian baru virus corona Covid-19 yang ditemukan di Inggris (B.1.1.7) dan Afrika Selatan (B.1.351) telah terbukti cepat menyebar di seluruh dunia. Kini, semakin banyak varian baru virus corona yang menyusul muncul.
Tapi, para ilmuwan masih mencoba untuk mengumpulkan semua bukti klinis mengenai varian baru virus corona tersebut, termasuk potensi penularannya yang tinggi, mudah dan kebal terhadap antibodi dari vaksin Covid-19.
Sejauh ini, banyak orang melaporkan gejala yang berbeda antara varian baru virus corona dengan varian sebelumnya. Tetapi juga, terlihat bahwa varian tersebut memperlihatkan kelompok usia yang lebih rendah dan dianggap relatif aman justru menjadi berisiko tinggi.
Laporan itu dilansir dari Times of India, juga memperlihatkan bahwa varian baru virus corona bisa meningkatkan jumlah kematian yang relatif lebih tinggi.
Jadi, apakah varian baru virus corona ini lebih mematikan? Para ilmuwan mengonfirmasi bahwa varian baru virus corona yang pertama kali diidentifikasi di Inggris menyebar lebih cepat dan menambah beban kasus.
Penelitian baru dan temuan awal dari London School of Hygiene and Tropical Medicine (LSHTM) juga telah mengidentifikasi bahwa varian baru virus corona juga bisa meningkatkan risiko kematian akibat penyakit hingga 33 persen.
Saat ini masih banyak penelitian tentang varian baru virus corona yang masih dilakukan, salah satu penyebab varian baru virus corona ini mampu menyerang tubuh lebih cepat dan sangat menular adalah protein lonjakan yang ada di permukaan.
Protein lonjakan varian baru virus corona ini bisa melampaui antibodi pelindung dan garis pertahanan tubuh lebih cepat.
Hal ini juga menjadi penyebab banyak orang merasa vaksin Covid-19 yang telah disetujui mungkin tidak cukup efektif melawannya atau membutuhkan dosis lebih kuat.
Baca Juga: Sembuh dari Virus Corona B117, 2 TKI Boleh Pulang ke Rumah di Karawang
Penyebab lain yang membuat varian baru virus corona lebih menular dan komplikasinya lebih serius adalah tes virus corona yang salah. Tes PCR adalah standar pengujian virus corona, tapi varian baru ini hanya bisa dikonfirmasi melalui pengurutan genetik yang lebih sulit dan butuh waktu lama.
Karena, varian baru virus corona juga mampu menimbulkan gejala baru atau menimbulkan gejala berbeda dari varian sebelumnya.
Kelompok orang yang paling berisiko mengalami komplikasi dan meninggal dunia akibat varian baru virus ini ini adalah orang dengan kekebalan lemah, memiliki penyakit penyerta dan penyakit terkait usia.
Menurut penelitian, pria berusia antara 70-84 tahun memiliki risiko 5 persen lebih tinggi meninggal dunia dan mereka yang berusia di atas 85 tahun memiliki risiko kematian 7 persen lebih tinggi.
Berita Terkait
-
Novel Ziarah, Sebuah Perenungan tentang Hidup dan Kematian
-
Australia Panas, Ratusan Warga Ngamuk Buntut Kematian Kumanjayi Little Baby, Siapa Dia?
-
Misteri Kematian WNA di Imigrasi Depok, Ditemukan Tewas di Toilet: Ini 7 Faktanya
-
Konvoi Mobil Menteri Israel Tabrak Mati Bocah Palestina yang Lagi Naik Sepeda ke Sekolah
-
Dari Rayuan ke Kematian: Drama Korea Paling Gelap Sirens Kiss
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Promo Alfamart Hari Ini 7 Mei 2026, Body Care Fair Diskon hingga 40 Persen
- 5 Pilihan HP Android Kamera Stabil untuk Hasil Video Minim Jitter Mei 2026, Terbaik di Kelasnya
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Anak Aktif Rentan Lecet? Ini Tips Perlindungan Luka agar Cepat Pulih dan Tetap Nyaman
-
Bukan Sekadar Liburan: Mengapa Medical Vacation Kini Jadi Tren Baru Masyarakat Urban?
-
Heboh Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Bagaimana Perubahan Iklim Bisa Perparah Risiko?
-
Ratusan Ribu Kasus Stroke Terjadi Tiap Tahun, Penanganan Cepat Dinilai Sangat Krusial
-
Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan di Tengah Krisis Iklim dan Bencana, Bagaimana Solusinya?
-
Jangan Anggap Sepele Ruam dan Gangguan Cerna, Ini Pentingnya Deteksi Dini Alergi pada Anak
-
Pekan Imunisasi Dunia Jadi Pengingat, DBD Kini Mengancam Anak hingga Dewasa
-
Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak
-
Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?
-
Geger Hantavirus Menyebar di Kapal Pesiar, Tiga Orang Dilaporkan Meninggal Dunia