Suara.com - Libur panjang seperti Idulfitri cenderung menciptakan mobilitas di tengah pandemi COVID-19 seperti sekarang.
Karena itu, pemerintah terus mengeluarkan kebijakan untuk mengendalikan penularan COVID-19, salah satunya larangan mudik libur Ramadhan dan Idulfitri 2021.
Hal ini diungkap oleh Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas COVID-19, Dr. Sonny Harmadi.
"Libur panjang cenderung menciptakan mobilitas. Biasanya peningkatan ini diikuti penurunan kepatuhan protokol kesehatan, yang akhirnya kasus COVID-19 juga melonjak," ungkapnya dalam Dialog Produktif, bertema ‘Mudik Ditiadakan, PPKM Dilanjutkan, Selasa (27/4/2021).
Ia mengatakan, sejak minggu ketiga Januari 2021 kasus infeksi Covid-19 membaik yakni dari 15,43 persen menjadi 6,12 persen berkat PPKM jilid enam.
"Nantinya di tanggal 4-17 Mei 202,1 kita akan mendorong pemberlakuan PPKM Mikro tahap tujuh. Karena terbukti efektif mengendalikan kasus nasional dan juga daerah," paparnya.
Selain itu, pengetatan protokol COVID-19 juga terjadi di Sumatera Barat, yang berhasil menurunkan kasus penularan.
"Kini zona merah sudah tidak ada lagi di Sumatera Barat. Positivity rate kini 8,32 persen, dan skor kita sudah berada di risiko sedang secara nasional," ungkap Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah.
Mahyeldi menilai ini semua berkat dukungan dan kepedulian masyarakat di Sumatera Barat, yang peduli dan membantu pemerintah di daerahnya.
Baca Juga: Mudik Lebaran Dilarang, Polda Jateng Antisipasi Kendaraan Travel Gelap
"Sumatera Barat sudah melaksanakan PPKM Mikro lebih awal, seperti di Kota Padang yang sudah mengerahkan kongsi COVID-19 di tingkat RT/RW,” terang Mahyeldi.
Dr. Sonny Harmadi mengatakan, meski Indonesia sudah melaksanakan program vaksinasi secara nasional, masyarakat perlu belajar dari kasus lonjakan COVID-19 yang saat ini terjadi di India.
"India sebetulnya sudah menurunkan kasus COVID-19 dengan baik lewat tingkat vaksinasi 3 juta orang per hari. Tapi melonggarkan berbagai acara pertemuan dan keagamaan, sehingga peniadaan protokol kesehatan membuat program vaksinasi kurang efektif," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lipstik Warna Apa yang Cocok di Usia 50-an? Ini 5 Pilihan agar Terlihat Fresh dan Lebih Muda
- 5 Rekomendasi Sampo Kemiri Penghitam Rambut dan Penghilang Uban, Mulai Rp10 Ribuan
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 5 Cat Rambut yang Tahan Lama untuk Tutupi Uban, Harga Mulai Rp17 Ribuan
Pilihan
-
Untuk Pengingat! Ini Daftar Korban Tewas Persib vs Persija: Tak Ada Bola Seharga Nyawa
-
Kriminalisasi Rasa Tersinggung: Mengadili Komedi 'Mens Rea' Pandji Pragiwaksono
-
Duduk Perkara Ribut Diego Simeone dengan Vinicius Jr di Laga Derby Madrid
-
5 HP Xiaomi RAM 8GB Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
Terkini
-
Kalimantan Utara Mulai Vaksinasi Dengue Massal, Kenapa Anak Jadi Sasaran Utama?
-
Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026
-
Ancaman Kuman dari Botol Susu dan Peralatan Makan Bayi yang Sering Diabaikan
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya
-
Lebih dari Separuh Anak Terdampak Gempa Poso Alami Kecemasan, Ini Pentingnya Dukungan Psikososial
-
Pakar Ungkap Cara Memilih Popok Bayi yang Sesuai dengan Fase Pertumbuhannya