- Rupiah Jumat ditutup di Rp16.819, melemah 0,13% akibat dolar AS menguat & sentimen domestik.
- Penurunan kepercayaan konsumen & defisit APBN jadi beban utama fundamental rupiah.
- Analis prediksi rupiah pekan depan di rentang Rp16.650 - Rp16.900 per dolar AS.
Suara.com - Mata uang Garuda belum mampu lepas dari jerat pelemahan hingga akhir pekan. Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah pada perdagangan Jumat (9/1/2026) resmi ditutup pada level Rp16.819 per dolar Amerika Serikat (AS).
Sepanjang pekan ini, rupiah terus menunjukkan tren negatif. Mata uang Indonesia ini tercatat melemah 0,13 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya di level Rp16.798 per dolar AS. Sejalan dengan itu, kurs referensi Jisdor Bank Indonesia juga berada di level yang cukup rendah, yakni Rp16.834 per dolar AS.
Pelemahan rupiah kali ini tidak hanya dipengaruhi oleh keperkasaan dolar AS secara global, namun juga diperburuk oleh sentimen negatif dari dalam negeri.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengungkapkan bahwa melemahnya indeks kepercayaan konsumen Indonesia di bulan Desember menjadi pemicu keraguan investor.
"Survei yang menunjukkan penurunan pada kepercayaan konsumen Indonesia ikut menekan rupiah. Selain itu, prospek pemangkasan suku bunga BI serta defisit APBN juga masih membebani pergerakan mata uang kita," ujar Lukman saat dihubungi Suara.com.
Lukman menambahkan bahwa fundamental ekonomi yang belum solid membuat rupiah sulit untuk bangkit dalam waktu dekat. Ia memprediksi tekanan ini masih akan berlanjut hingga pekan depan.
Rupiah tidak sendirian di zona merah. Pergerakan mata uang Asia hari ini cenderung bervariasi dengan kecenderungan melemah:
- Won Korea Selatan: Melemah terdalam sebesar 0,45 persen.
- Yen Jepang: Tertekan 0,42 persen.
- Ringgit Malaysia: Anjlok 0,26 persen.
- Rupee India: Terdepresiasi 0,19 persen.
- Dolar Singapura: Terkoreksi 0,15 persen.
Mengingat fundamental yang masih tertekan, rupiah diprediksi akan bergerak di rentang Rp16.650 hingga Rp16.900. Investor kini tengah bersikap waspada sambil menanti rilis data ekonomi krusial pekan depan, termasuk angka inflasi AS dan data penjualan ritel di Indonesia yang akan menjadi penentu arah pasar selanjutnya.
Baca Juga: Dolar AS Ganas, Rupiah Terus Merosot ke Level Rp16.832
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sampo Penghitam Rambut di Indomaret, Hempas Uban Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Kecil Bekas yang Nyaman untuk Lansia, Legroom Lega dan Irit BBM
- 7 Mobil Bekas untuk Grab, Mulai Rp50 Jutaan: Nyaman, Irit dan Tahan Lama!
- 5 Mobil Suzuki dengan Pajak Paling Ringan, Aman buat Kantong Pekerja
- 5 Mobil Bekas Rekomendasi di Bawah 100 Juta: Multiguna dan Irit Bensin, Cocok Buat Anak Muda
Pilihan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kala Semangkok Indomie Jadi Simbol Rakyat Miskin, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
-
Purbaya Merasa "Tertampar" Usai Kena Sindir Prabowo
-
Darurat Judi Online! OJK Blokir 31.382 Rekening Bank, Angka Terus Meroket di Awal 2026
Terkini
-
Swasembada Beras Sudah Sejak 2018, Apa yang Mau Dirayakan?
-
Kemenperin Adopsi Sistem Pendidikan Vokasi Swiss untuk Kembangkan SDM
-
Dukung Ekonomi Kerakyatan, Bank Mandiri Salurkan KUR Rp 41 Triliun hingga Desember 2025
-
Realisasi Konsumsi Listrik 2025 Tembus 108,2 Persen dari Target
-
Kementerian PU Percepat Pembangunan Huntara di Aceh Tamiang, 7 Blok Rampung untuk 84 KK
-
Purbaya Yakin MBG Paling Cepat Habiskan Anggaran di Awal 2026
-
Beban Impor LPG Capai 8,4 Juta Ton, DME Diharapkan Jadi Pengganti Efektif
-
Defisit APBN 2025 Hampir 3 Persen, Purbaya Singgung Danantara hingga Penurunan Pajak
-
Target IHSG Tembus 10.000, OJK: Bukan Tak Mungkin untuk Dicapai
-
Krisis Air Bersih Jadi Rem Pemulihan Ekonomi Pascabanjir Sumatera