Suara.com - Seorang ahli terkemuka memperingatkan kuku Covid-19 bisa menjadi gejala lain dari orang yang terinfeksi virus corona Covid-19. Semua orang harus mewaspadai garis putih bening pada kukunya.
Profesor Tim Spector, yang memimpin aplikasi Zoe Symptom Study, mengatakan gejala kuku Covid-19 ini biasanya terjadi setelah orang pulih dari infeksi virus corona Covid-19.
Kondisi ini meninggalkan garis putih bening di kuku yang cukup jelas. Bahkan gejala ini bisa terjadi tanpa adanya ruam kulit dan biasanya tidak berbahaya.
Ia pun mengunggah penampakan kuku seorang wanita yang memiliki garis horizontal di atasnya. Garis pada kuku itu timbul dalam 6 bulan setelah wanita itu terinfeksi virus corona.
Menurut Healthline, kelainan kuku biasanya terjadi akibat trauma pada kuku atau kekurangan vitamin. Karena kuku dibuat oleh sel-sel kulit di jari, tonjolan di kuku bisa jadi akibat kondisi kulit seperti eksim.
Tapi dilansir dari The Sun, Prof Spector mengatakan beberapa penderita virus corona Covid-19 mengalami gejala berupa garis-garis di kukunya, meskipun mereka tidak memiliki tanda-tanda ruam kulit.
Dalam kasus yang lebih serius, garis, tonjolan atau perubahan bentuk apapun pada kuku bisa disebabkan oleh kondisi serius. Menurut NHS, penyakit tiroid, diabetes atau anemia defisiensi besi bisa menjadi akar masalah.
Prof Spector telah menandai tanda-tanda aneh virus corona Covid-19 selama pandemi dengan bantuan jutaan orang Inggris. Orang-orang yang menggunakan aplikasi ZOE ketika melaporkan gejala virus corona, membantu para peneliti di King's College London, menganalisis munculnya penyakit tersebut.
Selain kuku, bagian tubuh lain yang bisa menandakan gejala virus corona Covid-19, termasuk lidah Covid-19. Tanda lidah Covid-19 yang harus diwaspadai adalah sariawan.
Baca Juga: Waspada 3 Varian Baru Virus Corona, Satu Sudah Masuk Kepri
Sebuah studi baru-baru ini menemukan bahwa masalah pada mata, seperti rasa gatal dan kepekaan terhadap cahaya adalah tanda lain dari Covid-19.
Sementara itu, gejala virus corona Covid-19 Panjang terus bertambah. Rambut rontok, kelelahan dan sakit kepala nampaknya menjadi beberapa masalah yang paling umum. Sedangkan penyakit kesehatan mental, diabetes dan mata merah nampaknya menjadi beberapa efek samping yang lebih spesifik.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- Work to Run: 5 Sepatu Lari Hitam Polos yang Tetap Rapi di Kantor dan Nyaman Dipakai Lari
- 5 HP Redmi RAM 8 GB Memori 256 GB Termurah di Bawah Rp1,5 Juta, Spek Juara
Pilihan
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
-
Serangan Mematikan Rusia Jelang Gencatan Senjata, 26 Warga Ukraina Tewas
-
Bejatnya Kiai Cabul Ashari di Pati: Ngaku Keturunan Nabi hingga Istri Orang Bebas Dicium
-
Mengungkap Jejak Pelarian Kiai Cabul Pati: Terendus Ritual di Kudus, Kini Raib Bak Ditelan Bumi
Terkini
-
Diet Vegan Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Hingga 55 Persen, Apa Buktinya?
-
Lebih dari Sekadar Nutrisi, Protein Jadi Kunci Hidup Aktif dan Sehat
-
Kisah Dera Bantu Suami Melawan Penyakit GERD Melalui Pendekatan Holistik
-
Dari Antre Panjang ke Serba Cepat, Smart Hospital Ubah Cara Rumah Sakit Layani Pasien
-
Berat Badan Tak Kunjung Naik? Susu Flyon Jadi Salah Satu Solusi yang Dilirik
-
Lebih Banyak Belum Tentu Lebih Baik: Fakta Mengejutkan di Balik Kebiasaan Konsumsi Suplemen Anda
-
Nyeri Lutut pada Perempuan Tak Boleh Dianggap Sepele, Mesti Waspada Hal Ini
-
Olahraga Bukan Hanya Soal Kompetisi bagi Anak: Bisa Jadi Cara Seru Membangun Gaya Hidup Aktif
-
Studi Ungkap Mikroplastik Ditemukan di Dalam Tubuh Manusia, Bisa Picu Gangguan Pencernaan
-
Kebutuhannya Berbeda dengan Dewasa, Ini 5 Alasan Si Kecil Perlu ke Dokter Gigi Anak