Suara.com - Seorang wanita usia 35 tahun meninggal dunia karena stroke setelah suntik vaksin AstraZeneca. Dua orang lainnya dengan usia yang sama juga menderita komplikasi tersebut tetapi bisa terselematkan.
Seorang dokter London mengatakan tanda-tanda yang harusnya diwaspadai agar tidak kejadian seperti wanita 35 tahun itu adalah kelemahan pada wajah, lengan, kaki, sakit kepala dan gangguan bicara.
Masalah pembekuan darah langka setelah suntik vaksin AstraZeneca telah dikaitkan dengan penyakit stroke, terutama pada orang yang masih berusia muda.
Sampai sekarang, masalah pembekuan darah ini diperkirakan mempengaruhi vena tertentu yang memasok otak dan perut. Tapi, studi kasus ini menunjukkan pembekuan darah juga bisa mempengaruhi arteri utama yang menyebabkan stroke.
Para ahli menekankan bahwa kasus stroke dan pembekuan darah sangat jarang terjadi. Hal itu terjadi karena orang Inggris yang usianya lebih muda dari 40 tahun tidak lagi diberi suntikan vaksin AstraZeneca.
Karena dilansir dari The Sun, vaksin AstraZeneca dinilai lebih berisiko bagi orang usia di bawah 40 tahun. Sebaliknya, mereka akan diberi vaksin Pfizer atau vaksin Moderna untuk meminimalkan risiko efek samping yang serius.
Sementara itu, para ahli dari Rumah Sakit Nasional untuk Neurologi dan Bedah Saraf di UCL, merinci 3 kasus stroke yang terjadi di Inggris. Wanita usia 35 tahun yang meninggal dunia, mengalami sakit kepala intermiten di sisi kanan dan sekitar matanya selama 6 hari setelah vaksinasi.
Setelah 5 hari, ia sempat terbangun dengan rasa kantuk dan kelemahan pada wajah, lengan dan kakinya. Ia pun menjalani operasi otak untuk mengurangi tekanan di tengkoraknya bersamaan dengan perawatan medis lainnya.
Pasien kedua, seorang wanita kulit putih usia 37 tahun, menderita sakit kepala, kebingungan, kelemahan di lengan kiri dan kehilangan penglihatan di sisi kiri wajah selama 12 hari setelah vaksinasi. Tapi, ia selamat setelah menjalani perawatan medis.
Baca Juga: CDC Selidiki Masalah Jantung Langka setelah Vaksin Covid-19 pada Anak
Pasien ketiga, seorang pria usia 43 tahun yang dirawat di rumah sakit 3 minggu setelah vaksinasi karena masalah berbicara dan memahami bahasa. Ia sempat menjalani transfuse trombosit dan plasma bersamaan dengan pengobatan lain, tetapi selamat dan tetap stabil.
Dalam semua kasus, pasien mengalami stroke iskemik yang disebabkan oleh penyumbatan arteri besar untuk memasok darah ke otak. Stroke iskemik adalah jenis stroke paling umum yang terjadi pada orang usia 55 tahun ke atas.
Ketiga kasus ini pertama kalinya dilaporkan setelah suntik vaksin Covid-19 AstraZeneca. Menurut laporan Journal of Neurology Neurosurgery & Psychiatry, ketiga pasien juga memiliki jumlah trombosit yang rendah.
Gumpalan darah dengan jumlah trombosit rendah setelah vaksinasi disebut trombosis dan trombositopenia yang diinduksi oleh vaksin (VITT). Mereka biasanya terlihat di pembuluh darah yang lebih kecil dan biasanya mengalirkan darah dari otak.
"Studi kami menunjukkan bahwa stroke iskemik jauh lebih umum, karena trombosis arteri yang menghalangi aliran darah ke bagian otak mungkin juga dari trombosis yang diinduksi oleh vaksin," jelas David Werring, profesor neurologi klinis di UCL.
Ian Douglas, seorang profesor farmakoepidemiologi di London School of Hygiene & Tropical Medicine, mengaku sudah memiliki beberapa bukti bahwa jenis pembuluh darah yang terkena, termasuk arteri dan vena.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apakah Habis Pakai Cushion Perlu Pakai Bedak? Ini 5 Rekomendasi Cushion SPF 50
- Mulai Tahun Ini Warga RI Mulai Frustasi Hadapi Kondisi Ekonomi, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
- 34 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 20 Januari: Sikat TOTY 115-117 dan 20.000 Gems
- Deretan Mobil Bekas 80 Jutaan Punya Mesin Awet dan Bandel untuk Pemakaian Lama
- Jadwal M7 Mobile Legends Knockout Terbaru: AE di Upper, ONIC Cuma Punya 1 Nyawa
Pilihan
-
Ekonomi Tak Jelas, Gaji Rendah, Warga Jogja Berjuang untuk Hidup
-
Rebut Hadiah Berlimpah! Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel Jadi Penggerak Potensi Daerah
-
ASEAN Para Games 2025: Nurfendi Persembahkan Emas Pertama untuk Indonesia
-
Perbedaan Jaring-jaring Kubus dan Balok, Lengkap dengan Gambar
-
Rupiah Loyo, Modal Asing Kabur Rp 27 Triliun Sejak Awal Tahun
Terkini
-
Fokus Turunkan Stunting, PERSAGI Dorong Edukasi Anak Sekolah tentang Pola Makan Bergizi
-
Bukan Mistis, Ini Rahasia di Balik Kejang Epilepsi: Gangguan Listrik Otak yang Sering Terabaikan
-
Ramadan dan Tubuh yang Beradaptasi: Mengapa Keluhan Kesehatan Selalu Datang di Awal Puasa?
-
Rahasia Energi "Anti-Loyo" Anak Aktif: Lebih dari Sekadar Susu, Ini Soal Nutrisi yang Tepat!
-
Sinergi Medis Indonesia - India: Langkah Besar Kurangi Ketergantungan Berobat ke Luar Negeri
-
Maia Estianty Gaungkan Ageing Gracefully, Ajak Dewasa Aktif Waspada Bahaya Cacar Api
-
Kolesterol Tinggi, Risiko Diam-Diam yang Bisa Berujung Stroke dan Serangan Jantung
-
Telapak Kaki Datar pada Anak, Normal atau Perlu Diperiksa?
-
4 Rekomendasi Minuman Diabetes untuk Konsumsi Harian, Mana yang Lebih Aman?
-
Apa Itu Food Genomics, Diet Berbasis DNA yang Lagi Tren