Suara.com - Menurut para ilmuwan dari University College London, Inggris, yang meluncurkan Proyek Kebahagiaan, kunci untuk menjadi bahagia adalah menurunkan ekspektasi terhadap apa pun.
Proyek tersebut adalah sebuah pencarian persamaan sederhana untuk menjelaskan apa yang membuat kita bahagia.
Untuk menentukan tingkat kebahagiaan, mereka meluncurkan aplikasi seluler yang mendorong pengguna membuat keputusan berisiko dan mengatakan bagaimana kinerja mereka menurut penggunanya sendiri.
Lebih dari 18 ribu orang memainkan permainan tersebut, memberikan peneliti wawasan tentang hubungan antara kinerja, ekspektasi, dan tingkat kebahagiaan pengguna.
Peneliti memasangkan temuan dari aplikasi dengan pemindaian MRI untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam.
Hasilnya, studi ini menunjukkan bahwa kebahagiaan berkaitan dengan ekspektasi. Menurut peneliti, menurunkan ekspektasi meningkatkan kemungkinan kejutan yang positif, lapor Daily Mail.
Tetapi, menurunkannya lebih lagi justu akan membuat orang tidak bahagia, karena cenderung menjadi pesimis. Jadi, ini tentang menemukan keseimbangan yang tepat.
Para peneliti mengatakan orang-orang harus memperlakukan kebahagiaan sebagai 'alat' daripada 'tujuan' dalam diri sendiri, untuk memberi wawasan tentang tugas yang diberikan dan mengarahkan tindakan berdasarkan perasaan.
Menurut peneliti, hal itu bisa menjadi alat untuk memberi tahu orang-orang bahwa segala sesuatunya berjalan dengan baik, memotivasi di saat penting, dan membantu untuk mengubah apa yang dilakukan.
Baca Juga: Rias Pengantin Tak Sesuai Ekspektasi, Kena Azab Mata Bintitan
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Warna Pakaian yang Dipercaya Bawa Keberuntungan untuk Shio di Tahun Kuda Api 2026
- Jokowi Sembuh dan Siap Keliling Indonesia, Pengamat: Misi Utamanya Loloskan PSI ke Senayan!
- 5 HP Xiaomi RAM Besar Termurah, Baterai Awet untuk Multitasking Harian
- 5 Lipstik Wardah Tahan Lama dan Tidak Luntur Saat Makan, Cocok untuk Daily hingga Kondangan
- 5 HP Xiaomi Paling Murah 2026, Mulai Rp1 Juta Spesifikasi Mantap untuk Harian
Pilihan
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
Terkini
-
Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus
-
Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar
-
Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?
-
Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan
-
Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis
-
Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat
-
Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi
-
Kasus Hantavirus Ada di Provinsi Indonesia Mana Saja? Korban Meninggal Capai 3 Orang
-
Hantavirus Ada Sejak Kapan? Menilik Sejarah dan Munculnya Kasus di Indonesia
-
Gejala Awal Mirip Flu, Apa Perbedaan Hantavirus dan Corona?