Beras Fortifikasi Jadi Pelarian Produsen Akibat Melonjaknya Harga Gabah

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 23:00 WIB
Produsen beras mengalihkan sebagian produksinya ke beras fortifikasi akibat semakin melonjaknya harga gabah. [Antara]
  • Harga gabah yang melonjak memicu tekanan biaya produksi beras.
  • Produsen beras mengalihkan sebagian produksinya ke beras fortifikasi guna menghindari batasan harga eceran tertinggi beras medium dan premium.
  • Volume produksi beras fortifikasi masih relatif kecil dan membutuhkan data penjualan pasti untuk mengetahui pengaruhnya terhadap harga nasional.

Suara.com - Sebagian produsen beras mulai mengalihkan sebagian produksinya ke beras fortifikasi di tengah tekanan harga eceran tertinggi (HET) beras medium dan premium akibat tingginya harga gabah.

Pengamat pertanian Khudori mengungkapkan harga gabah di tingkat petani saat ini telah melampaui Rp8.000 per kilogram, jauh di atas harga pembelian pemerintah (HPP) gabah kering panen (GKP) sebesar Rp6.500 per kilogram.

Kondisi tersebut membuat biaya produksi beras meningkat, sementara produsen tetap menghadapi batasan HET ketika menjual beras medium dan premium di pasar.

β€œHET adalah batas yang tidak boleh dilanggar. HET disusun dengan asumsi harga gabah tidak jauh dari HPP. Ketika harga gabah jauh di atas HPP, HET beras bakal terlampaui,” kata Khudori di Jakarta, Sabtu (15/8/2026).

Ia mengatakan tekanan tersebut mendorong sebagian produsen mencari ruang usaha melalui produksi beras khusus, termasuk beras fortifikasi yang tidak dikenakan HET seperti beras medium dan premium.

Meski demikian, ia mengatakan produksi beras fortifikasi yang mulai banyak ditemui di ritel modern dalam dua hingga tiga bulan terakhir tidak serta-merta menunjukkan bahwa produsen beralih sepenuhnya dari beras premium.

Beras fortifikasi merupakan salah satu dari sembilan kategori beras khusus berdasarkan Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 2 Tahun 2023. Beras tersebut diperkaya dengan vitamin dan mineral tertentu sehingga memiliki nilai tambah dan harga jual lebih tinggi.

Khudori memperkirakan volume beras fortifikasi masih relatif kecil dibandingkan produksi beras nasional. Untuk itu, menurut dia, diperlukan data mengenai volume produksi dan penjualan untuk memastikan sejauh mana peningkatan beras fortifikasi mempengaruhi harga beras secara keseluruhan.

Ia juga mengingatkan bahwa tidak semua penggilingan dan produsen memiliki kemampuan untuk mengalihkan produksi ke beras fortifikasi karena membutuhkan tambahan modal dan memiliki risiko pasar tersendiri.
"Untuk mendapatkan angka pasti berapa sebenarnya volume beras fortifikasi dari total produksi beras nasional, setidaknya dapat ditelusuri dengan melacak transaksi atau penjualan para produsen," katanya.

Menurut Khudori, persoalan utama yang perlu diperhatikan adalah tekanan biaya produksi akibat tingginya harga gabah, sementara produsen beras medium dan premium masih dibatasi HET.

Ia menilai kondisi tersebut perlu dievaluasi agar kebijakan harga beras tidak justru mendorong produsen mengurangi produksi beras yang dibutuhkan masyarakat atau keluar dari pasar.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com