Suara.com - Beberapa orang yang sudah sembuh dari Covid-19, yakni dengan persentase 10 hingga 30 persen, masih menderita gejala persisten yang dikenal dengan Long Covid-19.
Gejala paling umum yang dialami penyintas Covid-19 adalah kelelahan, sesak napas, nyeri dada, jantung berdebar, sakit kepala, brain fog, nyeri otot, dan gangguan tidur.
Tetapi beberapa orang juga masih mengalami hilangnya kemampuan indera penciuman dan pengecapan, depresi, serta ketidakmampuan untuk bekerja dan berinteraksi dengan masyarakat, menurut Associate Professor dan Psikiater di Universitas Melbourne Alex Holmes.
"Terlepas dari gejala spesifiknya, banyak pasien kami khawatir akan infeksi dan kerusakan yang terus terjadi, bersama dengan ketakutan dan frustasi jika kondisi mereka tidak membaik," kata Holmes, dilansir Science Alert.
Sayangnya, penyebab dari Long Covid belum diketahui secara pasti. Sebab, kondisi ini juga dialami oleh penyintas yang dulunya sakit Covid-19 ringan.
Namun, ada beberapa teori yang telah dikemukakan oleh peneliti dari seluruh dunia.
Salah satu gagasannya bahwa Long Covid merupakan dampak dari sistem kekebalan yang salah 'menyasar' sel dan masih bekerja memperbaiki kondisi tubuh setelah infeksi hilang.
Teori ini didukung dengan fakta beberapa penyintas mengaku gejala Long Covid mereka membaik setelah divaksin. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi long Covid berkaitan dengan sistem kekebalan tubuh.
Jadi, ada kemungkinan vaksin Covid-19 membantu mengarahkan sistem kekebalan kembali ke 'jalurnya', dengan secara langsung mengaktifkan sel-sel kekebalan tertentu, misalnya sel T atau sel kekebalan bawaan yang memperbaiki 'salah sasaran' tersebut.
Baca Juga: Bilang Satgas Covid-19 Goblok, Pemuda di Batam Akhirnya Minta Maaf
Sel T ini bertugas membantu merangsang produksi antibodi dan membunuh sel yang terinfeksi virus corona.
Teori lainnya, penyintas Covid-19 masih memiliki reservoir virus kecil dan persisten tersembunyi yang tidak dapat dideteksi oleh tes diagnostik, atau sisa fragmen virus kecil yang belum ditangani oleh tubuh.
Reservoir ini tidak menular, tetapi dapat secara konsisten mengaktifkan sistem kekebalan tubuh. Vaksin Covid-19 mungkin membantu mengarahkan sistem kekebalan itu ke tempat yang tepat untuk membersihkan sisa virus.
"Atau mungkin long Covid adalah kombinasi keduanya, atau banyak faktor berbeda," sambung rekan penulis Louis Irving, Associate Professor Fisiologi di Universitas Melbourne.
Intinya, kata Louis, masih diperlukan penelitian lebih lanjut karena masih tahap awal meski pandemi virus corona sudah berjalan satu tahun lebih.
"Belum ada obatnya (untuk Long Covid) tetapi kami bisa membantu mengelola gejalanya dan kami mendorong semua orang untuk melakukan vaksinasi Covid-19," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Aliansi BEM Bersatu: Mobil Fortuner Tiyo Ardianto Tercatat Milik Adik Letjen Purn Setyo Sularso
- Jadwal Pemadaman Listrik PLN Kamis 18 Juni 2026 Wilayah Jogja Jateng, Cek Daftar Lokasinya
- 6 Sepatu Adidas Samba Lagi Diskon 50 Persen di Website Resmi, Kesempatan Langka Separuh Harga
- Struktur Kuno Muncul Kembali di Sendang Kamulyan Trenggalek
- 7 Sunscreen Flek Hitam untuk Usia 50 Tahun ke Atas sesuai Review dan Harga
Pilihan
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
-
Ketegangan Memuncak di Hotel Sultan: Eksekusi Lahan Jadi Arena Perlawanan
-
'Sempurna Hanya Milik Allah!' Massa Gelar Aksi Damai Minta MBG Lanjut dan Sikat Koruptornya!
-
Link Live Streaming Portugal vs Kongo: Panggung Sesungguhnya CR7?
Terkini
-
Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat
-
Tren Sport Nutrition, Ini Peran Asupan Energi dalam Olahraga Endurance
-
Notarace 2026 Siap Digelar, Ajang Lari yang Padukan Olahraga dan Wawasan Hukum
-
Rekomendasi Dokter Richard, Ini Solusi Praktis Redakan Wasir dengan Cara Alami
-
Kolesterol Tinggi Sering Tanpa Gejala, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini sejak Usia 20 Tahun
-
Dokter Bantah Mitos Obat Kolesterol dan Diabetes Rusak Ginjal, Ini Penjelasannya
-
Anak Sering Ruam atau Diare Setelah Minum Susu? Bisa Jadi Tanda Alergi Susu Sapi
-
Metoo Hadirkan Senyum di Tengah Mobilitas Jakarta lewat Aktivasi Interaktif di CSW
-
Dorong Pola Makan Seimbang, Konsumsi Buah dan Sayur Masih Jadi Tantangan di Indonesia
-
Saat Lambung Mulai Sensitif, Ini Pilihan Makanan yang Lebih Ramah di Perut