Suara.com - Penyiar, komedian, sekaligus YouTuber Gofar Hilman sedang menjadi sorotan karena diduga pernah menjadi pelaku pelecehan seksual beberapa tahun yang lalu. Hal ini diketahui setelah cuitan seorang gadis, yang mengaku sebagai korban, viral.
Dalam cuitan tersebut, sang gadis mengaku pernah menjadi salah satu korban pelecehan seksual Gofar sekitar tiga tahun yang lalu, tepatnya pada Agustus 2018.
"Gue pakai dress selutut, tangan Gofar tiba-tiba masuk ke baju gue. Satu tangan dari atas, satu lagi dari bawah. Gue shock," cuit pemilik akun, Rabu (8/6/2021).
Hal yang membuat gadis ini kecewa adalah beberapa orang di sekitarnya yang tidak membantu, tetapi justru menertawakannya.
"Memang jijik dengan kelakuan Gofar, tapi lebih jijik dengan kerumunan orang-orang yang saut-sautan 'dienakin kok gamau' dan 'yaaahhh' itu sambil ketawa-tawa," sambungnya.
Atas kejadian tersebut, akun dengan username Nyelaras ini mengaku sempat trauma dengan keramaian. Ia juga sempat takut untuk mengungkapkan pengalaman buruknya karena sejumlah alasan hingga akhirnya ia mendapat banyak dukungan.
Apabila pernyataan Nyelaras benar, artinya korban pelecehan seksual di Indonesia semakin bertambah.
Berdasarkan Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan 2020, kasus pelecehan seksual terhadap perempuan di ruang publik yang diadukan mencapai 181 kasus, dengan kasus terbanyak adalah kekerasan seksual yakni sebesar 962 kasus tercatat.
Dari pengalaman ini, mengapa korban pelecehan seksual, khususnya perempuan, perlu menunggu untuk 'berbicara' ke publik?
Baca Juga: Perempuan Lain Ngaku Korban Gofar Hilman Mulai Bermunculan
"Hanya karena seorang korban tidak segera melapor tentang kekerasan seksual tidak berarti tuduhan itu tidak benar," tutur Yolanda Moses, konsultan/pelatih untuk mencegah pelecehan seksual dan kekerasan seksual di Riverside, Californa.
Menurut Moses, masyarakat cenderung menyalahkan korban atas apa yang terjadi pada mereka. Hal seperti itu menunjukkan bahwa masih ada sifat yang tidak seimbang dalam masyarakat dan perempuan masih direndahkan.
"Ada juga kepercayaan budaya yang sudah ketinggalan zaman bahwa, 'wanita baik tidak diperkosa'," sambungnya, dilansir Live Science.
Keyakinan seperti itu dapat membuat korban berpikir bahwa serangan seksual itu mungkin kesalahan mereka sendiri. Pertanyaan memojokkan yang diajukan kepada korban juga dapat mengalihkan kesalahan kepada korban daripada pelakunya.
"Selain itu, berbicara tentang kasus pelecehannya biasa sangat menyakitkan dan menyebabkan rasa malu pribadi," lanjutnya.
"Ketika korban berbicara, dia harus 'menghidupkan' kembali peristiwa itu berulang kali, dengan menceritakan kisah penyerangan kepada petugas polisi dan hakim, misalnya," tambah Moses.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 HP Helio G99 Termurah di Awal Tahun 2026, Anti Lemot
- 6 Rekomendasi HP OPPO Murah dengan Performa Cepat, RAM 8 GB Mulai Rp2 Jutaan
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
Pilihan
-
Cek Fakta: Yaqut Cholil Qoumas Minta KPK Periksa Jokowi karena Uang Kuota Haji, Ini Faktanya
-
Kontroversi Grok AI dan Ancaman Kekerasan Berbasis Gender di Ruang Digital
-
Hasil Akhir: Kalahkan Persija, Persib Bandung Juara Paruh Musim
-
Babak Pertama: Beckham Putra Bawa Persib Bandung Unggul atas Persija
-
Untuk Pengingat! Ini Daftar Korban Tewas Persib vs Persija: Tak Ada Bola Seharga Nyawa
Terkini
-
Apa Beda Super Flu dengan Flu Biasa? Penyakitnya Sudah Ada di Indonesia
-
5 Obat Sakit Lutut Terbaik untuk Usia di Atas 50 Tahun, Harga Mulai Rp 13 Ribu
-
Kalimantan Utara Mulai Vaksinasi Dengue Massal, Kenapa Anak Jadi Sasaran Utama?
-
Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026
-
Ancaman Kuman dari Botol Susu dan Peralatan Makan Bayi yang Sering Diabaikan
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya