Suara.com - Donor plasma konvalesen untuk pasien Covid-19 masih menjadi salah satu cara perawatan yang diberikan di Indonesia. Bahkan, belakangan kebutuhan akan plasma konvalesen meningkat seiring terus naiknya kasus Covid-19 di Indonesia.
Tapi, ada satu kesalahpahaman dalam pemberian donor plasma konvalesen untuk pasien Covid-19. Ternyata tidak semua pasein Covid-19 bisa menerima donor plasma konvalesen.
Lantas, apa kriteria pasien Covid-19 yang bisa menerima donor darah plasma konvalesen?
"Fungsi atau prinsip dasar dari TPK ini antibodi di dalam plasma berfungsi untuk membunuh virusnya, itulah sebabnya kenapa pemberian ini sebaiknya pada kondisi sedang atau atau ringan ke sedang Terutama pada pasien komorbid," ujar Inisiator Terapi Plasma Konvalesen (TPK) Dr dr Theresia Monica Rahardjo SpAn KIC MSi, kepada Suara.com, Rabu, (21/7/2021).
Dokter Monica menjelaskan, bahwa antibodi plasma konvalesen sendiri adalah untuk membunuh virus yang telah masuk ke dalam tubuh, dan bukan untuk memperbaiki kerusakan organ.
"Inilah kesalahpahaman yang sering terjadi pada tenaga medis atau masyarakat awam. mereka berpikir plasma segala-galanya. Bisa membuat pasien pasien yang berat di ventilator, sudah bisa sembuh. Tidak begitu. Jadi plasma untuk membasmi virusnya," ujar Monica.
Monica menjelaskan, bahwa jika plasma konvalesen diberikan pada pasien yang telah menggunakan ventilator, mengalami kerusakan ginjal dan jantung, hal itu tidak akan bisa memperbaiki dampak yang terjadi.
"Memang diberikan plasma virusnya hilang. Tapi kerusakan organnya tetap ada, dan pasien tetap meninggal. Makanya banyak orang bilang, sudah dikasih plasma tapi tetap meninggal, ya karena cara pemakaiannya salah," kata Monica.
Ia mengatakan, bahwa pemakaian yang salah menyebabkan manfaat yang didapat tidak maksimal. Bahkan, kesalahan itu juga banyak dilakukan oleh tenaga kesehatan.
Baca Juga: Kabar Baik! Pasien Covid-19 RSD Wisma Atlet Terus Berkurang, Keterisian Turun Jadi 62%
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Honor X7d Resmi Meluncur di Indonesia, HP Tangguh 512GB, Baterai Awet 6500mAh, Harga Rp4 Jutaan
- 7 Parfum Tahan Lama di Indomaret, Wangi Mewah tapi Harga Ramah
- Anggota DPR Habiburokhman sampai Turun Tangan Komentari Kasus Erin Taulany vs eks ART
- 5 Cushion Anti Longsor 24 Jam, Makeup Tahan Lama Meski Cuaca Panas
- 8 Sepatu Skechers yang Diskon di MAPCLUB, Bisa Hemat hingga Rp700 Ribu
Pilihan
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
Terkini
-
Studi Baru Temukan Mikroplastik di Udara Kota, Dua Pertiganya Berasal dari Sumber Tak Terduga
-
Ibu Hamil Rentan Cemas, Meditasi Disebut Bisa Bantu Jaga Kesehatan Mental
-
Apa Itu Patah Tulang Selangka? Cedera Ngeri Alex Marquez di MotoGP Catalunya 2026
-
Obat Diabetes dan Obesitas Bentuk Pil Makin Diminati, Pasien Dinilai Lebih Mau Berobat
-
Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus
-
Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar
-
Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?
-
Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan
-
Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis
-
Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat