Suara.com - Hingga kini, operasi kelamin saat masih bayi atau anak usia dini masih menjadi pilihan untuk 'mengatasi' kondisi interseks. Masa ketika seseorang terlalu kecil untuk memberi consent (persetujuan seksual) atas dirinya.
Diperkirakan 1,7% hingga 4% orang di seluruh dunia adalah interseks, yang artinya mereka tidak cocok dengan norma khas untuk wanita maupun pria.
Orang interkseks memiliki perbedaan karakteristik seks yang bisa terjadi secara alami pada tingkat kromosom, hormon, dan/atau anatomi, lapor Medical Xpress.
Misalnya, hipospadia. Kondisi yang umum terjadi pada hipospadia adalah adanya lubang uretra di bawah penis. Kondisi ini dialami salah satu atlet voli Indonesia, Aprilia Manganang, yang sekarang berganti nama menjadi Aprilio Perkasa Manganang.
Meski hipospadia bukan masalah kesehatan, banyak orang mengubah penampilan hipospadik ini dengan operasi kelamin.
Padahal, operasi ini dapat ditunda sampai anak-anak lebih besar dan mampu memberikan atau menolak consent.
Tidak ada dasar biomedis yang jelas untuk operasi semacam ini. Prosedur ini juga tidak menyelematkan nyawa dan menempatkan anak pada beberapa risiko yang muncul setelahnya.
Pembedahan pada anak-anak dengan genital yang bervariasi (seperti hipospadia) mungkin tampak meningkatkan kesejahteraan.
Tetapi penelitian mendapati adanya efek berbahaya dari setiap operasi yang dimaksudkan untuk menunjukkan penampilan yang lebih 'laki-laki' atau 'perempuan' ini.
Baca Juga: Nadiem Makarim Janji Hapus Kekerasan Seksual di Dunia Pendidikan, Bagaimana Caranya?
Human Rights Watch dalam lamannya mengatakan praktisi semakin menyadari penderitaan pasien interseks yang menjalani operasi tanpa persetujuan mereka.
Operasi kelamin pada anak-anak interseks bisa menimbulkan risiko penentuan jenis kelamin yang salah. Selain itu, prosedur ini juga bisa memengaruhi kesuburan sang anak, menyebabkan kebutuhan akan terapi hormon seumur hidup.
Namun, ada juga beberapa dokter menentang untuk melakukan operasi dini yang tidak perlu dalam kondisi seperti ini.
Terlepas dari perkembangan yang menjanjikan dalam perawatan untuk orang interseks, bidang ini tetap penuh dengan standar perawatan yang tidak merata dan tidak memadai.
Pada akhirnya, HRW mengatakan bahwa operasi seperti ini merusak banyak hak anak interseks atas integritas tubuh dan kesehatan sang anak.
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 Bulan di Laut, 4000 Marinir di Kapal Induk USS Gerald Ford Harus Ngantri Buat BAB
- 7 Bedak Compact Powder Anti Luntur Bikin Glowing Seharian, Cocok Buat Kegiatan Outdoor
- Kecewa Warga Kaltim hingga Demo 21 April, Akademisi Ingatkan soal Kejadian Pati
- 7 Rekomendasi Lipstik Terbaik untuk Kondangan, Tetap On Point Dibawa Makan dan Minum
- Cari Mobil Bekas untuk Wanita? Ini 3 City Car Irit dan Nyaman untuk Harian
Pilihan
-
Perang AS vs Iran: Trump Perpanjang Gencatan Senjata Tanpa Batas Waktu
-
Gempa 7,5 M Guncang Jepang, Peringatan Tsunami hingga 3 Meter Dikeluarkan
-
Respons Santai Jokowi Soal Pernyataan JK: Saya Orang Kampung!
-
Pemainnya Jadi Korban Tendangan Kungfu, Bos Dewa United Tempuh Jalur Hukum
-
Penembakan Massal Louisiana Tewaskan 8 Anak, Tragedi Paling Berdarah Sejak Awal Tahun 2024
Terkini
-
DBD Menular atau Tidak Lewat Sentuhan? Simak Fakta-faktanya
-
AI Masuk Dunia Wellness: Kursi Pijat Canggih Ini Bisa Baca Stres dan Sesuaikan Relaksasi
-
Penelitian Baru: Salinitas Air Minum Berkontribusi pada Risiko Hipertensi
-
Lawan PTM dari Rumah: Mengapa Kampanye Generasi Bersih Sehat Vital Bagi Masa Depan Kita?
-
Mengakhiri Ketergantungan Rujukan, Standar Lab Internasional Kini Tersedia Langsung di Makassar
-
Neuropati Perifer pada Diabetes Banyak Tak Terdeteksi, Pedoman Baru Dorong Peran Aktif Apoteker
-
Transformasi Operasi Lutut: Teknologi Robotik hingga Protokol ERAS Dorong Pemulihan Lebih Cepat
-
Konflik Global Memanas, Menkes Dorong Ketahanan Farmasi Nasional dan Stabilitas Harga Obat
-
Rahasia Produk Kesehatan Laris di Marketplace: Review Positif Jadi Penentu Utama
-
Ini Bahaya Tersembunyi Ikan Sapu-Sapu yang Mengancam Ekosistem Jakarta