Suara.com - Orang yang belum divaksinasi Covid-19 lengkap dilarang masuk ke kafe, restoran dan salon di Austria. Keputusan itu diambil di tengah meningkatnya kasus virus corona di negara tersebut.
Dilansir dari France24, 64 persen populasi Austria telah mendapat vaksinasi Covid-19 lengkap, seperti rata-rata Uni Eropa. Namun, negara itu disebut sebagai salah satu tingkat terendah di Eropa barat.
Banyak orang Austria skeptis tentang vaksin, seperti halnya Partai Kebebasan sayap kanan, partai terbesar ketiga di parlemen.
Infeksi baru telah melonjak dan pada hari Jumat naik menjadi 9.388, mendekati rekor 9.586 yang ditetapkan tahun lalu, ketika penguncian nasional kedua dari tiga diberlakukan.
"Evolusi luar biasa dan hunian tempat tidur perawatan meningkat secara signifikan lebih cepat dari yang kami harapkan," kata Kanselir Alexander Schallenberg belum lama ini.
Mereka yang belum divaksinasi Covid-19 juga dilarang untuk masuk ke hotel dan acara yang dihadiri lebih dari 25 orang.
Akan ada masa transisi empat minggu di mana vaksinasi pertama ditambah tes PCR akan memberikan izin masuk ke tempat-tempat di mana yang tidak akan divaksinasi akan dilarang.
Setelah itu, hanya mereka yang divaksinasi dan mereka yang baru saja pulih dari infeksi virus corona yang akan diizinkan masuk.
Pengumuman itu atang setelah langkah serupa oleh Kota Wina yang dipimpin oleh Sosial Demokrat, yang memiliki tingkat infeksi terendah di antara sembilan provinsi Austria tetapi persentase tertinggi tempat tidur perawatan ditempati oleh pasien Covid-19. sebesar 20 persen.
The New York Times melaporkan Jumat bahwa kota Wina akan membantu memvaksinasi anak-anak berusia lima tahun Covid-19 tanpa persetujuan resmi UE dalam apa yang menurut surat kabar itu merupakan program inokulasi sistematis UE untuk anak-anak yang dikelola oleh pemerintah.
Baca Juga: Ruang Rawat Covid-19 di RSUP Sanglah Denpasar Kini Kembali Untuk Pasien Umum
Sementara regulator AS telah menyetujui Pfizer untuk anak berusia lima hingga 11 tahun, memulai inokulasi untuk kelompok tersebut di Amerika Serikat minggu ini, keputusan Badan Obat Eropa tentang masalah tersebut masih berlanjut.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 5 HP Realme RAM 12 GB dan Kamera Jernih Paling Murah Mulai Rp2 Jutaan
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian
-
Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI
-
Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien
-
Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia
-
Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif
-
Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19
-
Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?
-
Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai
-
Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien