- Indonesia menghadapi lebih dari 400.000 kasus kanker baru per tahun dengan tingginya angka kematian akibat keterlambatan diagnosis.
- AstraZeneca dan Prudential Indonesia menandatangani MoU untuk memperkuat edukasi pasien dan literasi kesehatan terkait kanker.
- Kolaborasi ini berfokus pada penyebaran pengetahuan medis, peningkatan literasi keuangan, serta dukungan asuransi bagi pasien onkologi.
Suara.com - Penanganan kanker bukan hanya soal pengobatan medis, tetapi juga membutuhkan pendekatan yang menyeluruh, mulai dari literasi kesehatan, deteksi dini, hingga pemahaman pasien terhadap perjalanan perawatan yang harus dijalani. Tanpa edukasi yang memadai, banyak pasien baru mengetahui penyakitnya saat sudah memasuki stadium lanjut, yang berdampak pada kompleksitas terapi serta menurunnya peluang kesembuhan.
Di Indonesia, tantangan penanganan kanker masih cukup besar. Data Globocan 2022 mencatat lebih dari 400.000 kasus kanker baru dengan angka kematian mencapai sekitar 240.000 kasus. Kanker payudara, paru, dan hati menjadi jenis kanker dengan prevalensi tertinggi. Bahkan, jumlah kasus diperkirakan dapat meningkat lebih dari 70 persen pada 2050 jika tidak diimbangi dengan deteksi dini dan penanganan yang tepat.
Selain keterlambatan diagnosis, hambatan lain juga datang dari keterbatasan akses terhadap pengobatan inovatif, baik dari sisi ketersediaan maupun keterjangkauan biaya. Di sisi lain, kanker juga membawa dampak multidimensi—tidak hanya fisik, tetapi juga emosional dan finansial bagi pasien serta keluarga.
Melihat kompleksitas tersebut, pendekatan kolaboratif lintas sektor menjadi semakin penting. Dalam rangka memperingati Hari Kanker Sedunia, AstraZeneca Indonesia dan PT Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia) resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) untuk memperkuat edukasi pasien kanker sekaligus meningkatkan literasi kesehatan masyarakat.
Penandatanganan MoU dilakukan oleh Presiden Direktur PT AstraZeneca Indonesia Esra Erkomay bersama Chief Health Officer Prudential Indonesia Yosie William Iroth dan Chief Legal and Government Relations Officer Prudential Indonesia Mercy Francisca Sinaga.
Melalui kolaborasi ini, kedua pihak berkomitmen menjalankan berbagai inisiatif edukatif yang berfokus pada peningkatan kesadaran tentang kanker, penyebaran pengetahuan ilmiah dan panduan medis terkini secara non-promosional, serta peningkatan literasi keuangan, khususnya terkait perlindungan asuransi jiwa dan kesehatan. Kerja sama ini juga mencakup pertukaran wawasan mengenai jalur perawatan kanker serta diskusi dalam mendukung pengembangan perlindungan asuransi kesehatan bagi pasien onkologi.
Presiden Direktur AstraZeneca Indonesia, Esra Erkomay, menegaskan bahwa penanganan kanker membutuhkan pemahaman yang komprehensif, tidak hanya dari sisi terapi, tetapi juga perjalanan perawatan pasien secara keseluruhan. Sebagai perusahaan biofarmasi berbasis sains, AstraZeneca berkomitmen memperluas edukasi publik serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya diagnosis dini dan perawatan yang tepat.
Senada dengan hal tersebut, Chief Health Officer Prudential Indonesia, Yosie William Iroth, menyebut bahwa kanker memiliki dampak yang luas terhadap kehidupan pasien dan keluarga, termasuk tekanan emosional dan finansial. Karena itu, peningkatan pemahaman mengenai perlindungan kesehatan dan kesiapan finansial sejak dini dinilai penting agar masyarakat dapat mengambil keputusan yang lebih tepat dalam menghadapi risiko kesehatan.
Kolaborasi ini juga melibatkan tenaga kesehatan, komunitas pasien, serta berbagai pemangku kepentingan dalam pelaksanaan program edukasi dan peningkatan kesadaran publik. Diharapkan, sinergi lintas sektor ini dapat memperkuat ekosistem kesehatan nasional dengan menempatkan edukasi pasien, kesadaran publik, dan kolaborasi sebagai fondasi untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia dalam menghadapi kanker.
Baca Juga: Dokter Ungkap Pentingnya Urea Breath Test untuk Cegah Kanker Lambung
Berita Terkait
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Bupati Kulon Progo Hapus Logo Geblek Renteng hingga Wajibkan Sekolah Pasang Foto Kepala Daerah
- Cerita Eks Real Madrid Masuk Islam di Ramadan 2026, Langsung Bersimpuh ke Baitullah
- Desa di Kebumen Ini Ubah Limbah Jadi Rupiah
- Sosok Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Diduga Langgar Aturan Pengabdian
Pilihan
-
22 Tanya Jawab Penjelasan Pemerintah soal Deal Dagang RI-AS: Tarif, Baju Bekas, hingga Miras
-
Zinedine Zidane Comeback! Sepakat Latih Timnas Prancis Usai Piala Dunia 2026
-
Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
-
Jadwal Buka Puasa Bandar Lampung 21 Februari 2026: Waktu Magrib & Salat Isya Hari Ini
-
Siswa Madrasah Tewas usai Diduga Dipukul Helm Oknum Brimob di Kota Tual Maluku
Terkini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga
-
Susu Kambing Etawa Indonesia Tembus Pameran Internasional: Etawanesia Unjuk Gigi di Expo Taiwan
-
Penanganan Penyintas Kanker Lansia Kini Fokus pada Kualitas Hidup, Bukan Sekadar Usia Panjang
-
Ini Rahasia Tubuh Tetap Bugar dan Kuat Menjalani Ramadan Optimal Tanpa Keluhan Tulang dan Sendi
-
Anak Sekolah Jadi Kelompok Rentan, Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue Diperluas di Palembang
-
Cuma Pakai Dua Jari, Dokter Ungkap Cara Deteksi Sakit Jantung dari Raba Nadi
-
Bukan Cuma Blokir, Ini Kunci Orang Tua Lindungi Anak di Ruang Digital
-
Sedih! Indonesia Krisis Perawat Onkologi, Cuma Ada Sekitar 60 Orang dari Ribuan Pasien Kanker