Suara.com - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyarankan pemerintah untuk meningkatkan kapasitas tes hepatitis, menyikapi maraknya kasus hepatitis misterius yang terjadi di dunia.
Hepatitis akut misterius ini, oleh Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, telah ditetapkan sebagai kejadian luar biasa atau KLB.
Dikatakan Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Gastro-Hepatologi IDAI, Dr. dr. Muzal Kadim, SpA(K) kapasitas tes hepatitis perlu ditingkatkan untuk mengantisipasi adanya lonjakan kasus.
"Jangan sampai nggak siap sejak awal, sejak awal buat rekomendasinya penapisan skrining awal maupun tata laksana, penapisan itu puskesmas dan primer," ujar Dr. Muzal dalam acara diskusi bersama awak media, Sabtu (7/5/2022).
Hepatitis adalah penyakit peradangan hati atau liver. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh berbagai hal seperti infeksi virus, infeksi cacing hati, kebiasaan minum alkohol, obat-obatan hingga penyakit komorbiditas seperti autoimun.
Ia mengatakan, tes hepatitis perlu segera dilakukan apabila ditemukan dengan dengan gejala seperti demam, muntah mual, sakit perut, kuning dan adanya peningkatan enzim transaminase lebih dari 500 unit per liter sebagai kerangka awal.
Enzim transminase adalah enzim yang biasa ditemukan pada hati atau liver jantung, otot, ginjal hingga otak.
"Jadi sebagai tanda awal, kalau ada gejala dan peningkatan enzim transminase, baru dilakukan tes hepatitis A, B, C, D, dan E," jelas Dr. Muzal.
Seperti diketahui, hepatitis yang jadi KLB ini disebut misterius karena pasien alami gejala hepatitis tapi dinyatakan negatif hepatitis A, B, C, D maupun hepatitis E.
"Jika semuanya negatif, maka masuk kasus probable atau suspek hepatitis akut misterius," jelasnya.
Meski begitu, ia memastikan IDAI sudah mengirimkan dan menyampaikan semua rekomendasi dan arahannya kepada seluruh dokter anak di Indonesia, sehingga bisa segera dilakukan penanganan.
"Saat ini sudah ada protapnya, dibagikan ke dokter anak, berjaga-jaga kalau ada kasus seperti itu," tutup Dr. Muzal.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sampo Penghitam Rambut di Indomaret, Hempas Uban Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Kecil Bekas yang Nyaman untuk Lansia, Legroom Lega dan Irit BBM
- 7 Mobil Bekas untuk Grab, Mulai Rp50 Jutaan: Nyaman, Irit dan Tahan Lama!
- 5 Mobil Suzuki dengan Pajak Paling Ringan, Aman buat Kantong Pekerja
- 5 Mobil Bekas Rekomendasi di Bawah 100 Juta: Multiguna dan Irit Bensin, Cocok Buat Anak Muda
Pilihan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kala Semangkok Indomie Jadi Simbol Rakyat Miskin, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
-
Purbaya Merasa "Tertampar" Usai Kena Sindir Prabowo
-
Darurat Judi Online! OJK Blokir 31.382 Rekening Bank, Angka Terus Meroket di Awal 2026
Terkini
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026
-
Ancaman Kuman dari Botol Susu dan Peralatan Makan Bayi yang Sering Diabaikan
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya
-
Lebih dari Separuh Anak Terdampak Gempa Poso Alami Kecemasan, Ini Pentingnya Dukungan Psikososial
-
Pakar Ungkap Cara Memilih Popok Bayi yang Sesuai dengan Fase Pertumbuhannya
-
Waspada Super Flu Subclade K, Siapa Kelompok Paling Rentan? Ini Kata Ahli
-
Asam Urat Bisa Datang Diam-Diam, Ini Manfaat Susu Kambing Etawa untuk Pencegahan