Suara.com - Fibrodysplasia Ossificans Progressiva (FOP) adalah penyakit langka yang menyebabkan tulang terbentuk di luar kerangka. Penyakit langka ini bisa mengubah kehidupan penderitanya.
Karena itu, seorang dokter terkemuka berusaha mempelajari Fibrodysplasia Ossificans Progressiva untuk mencari pengobatan yang lebih tepat.
Fibrodysplasia Ossificans Progressiva merupakan kondisi bawaan. Dr. Frederick Kaplan, Isaac dan Rose Nassau Profesor Penelitian Molekuler Ortopedi di Sekolah Perelman Universitas Pennsylvania Kedokteran mengatakan ini adalah kondisi progresif di mana pita, lembaran, dan pelat tulang akhirnya menggantikan otot dan jaringan ikat.
"Akhirnya, kondisi yang disebut sebagai flare-up membentuk kerangka kedua yang melumpuhkan semua tubuh dan membuat gerakan menjadi tidak mungkin," kata Kaplan dikutip dari News Week.
Kondisi ini hanya mempengaruhi 1 dari 2 orang per sejuta di dunia. Kondisi ini disebabkan ketika orang mewarisi salinan abnormal dari gen ACVR-1, yang terlibat dalam pembentukan tulang secara normal.
Anak-anak yang lahir dengan FOP dapat mewarisi salinan gen abnormal dari orang tua atau melalui mutasi spontan pada gen saat berkembang di dalam rahim.
Anak-anak yang lahir dengan FOP mungkin terlihat normal saat lahir dengan pengecualian malformasi jempol kaki, yang cenderung lebih pendek dan meruncing ke dalam.
Umumnya, sebagian besar orang dengan FOP antara usia 2 sampai 5 tahun mengalami pembengkakan di kepala, kulit kepala, leher atau punggung
Pada tahap awal, penyakit ini sering salah didiagnosis sebagai tumor agresif. Sebaliknya, itu adalah tulang normal yang terbentuk di tempat salah dan pada waktu salah.
Baca Juga: Obesitas dan Sulit Turun, Melly Goeslaw Pilih Jalani Operasi Bariatrik
Meskipun FOP tidak mempengaruhi organ dalam, FOP menekan dinding dada dan mencegahnya mengembang yang bisa menyebabkan deformitas tulang belakang. Akhirnya, dinding dada yang terbatas dapat menyebabkan gagal jantung.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
- PLTS 100 GW Diproyeksikan Serap 1,4 Juta Green Jobs, Energi Surya Jadi Mesin Ekonomi Baru
- 4 HP Motorola Harga Rp1 Jutaan, Baterai Jumbo hingga 7.000 mAh
- Usut Kematian Nizam Syafei yang Disiksa Ibu Tiri, Video di Ponsel Korban akan Diperiksa
Pilihan
-
Wafat di Usia 74 Tahun, Ini 7 Kontroversi Alex Noerdin: Kasus Korupsi hingga Dana Bagi Hasil Migas
-
Sadis! Pria di Bantul Tewas Ditebas Parang di Depan Anak Istri Saat Tertidur
-
Minta Restu Jokowi, Mantan Bupati Indramayu Nina Agustina Bachtiar Gabung PSI
-
Sumsel Berduka, Mantan Gubernur Alex Noerdin Meninggal Dunia
-
Debut Berujung Duka, Pemain Senegal Meninggal Dunia Usai Kolaps di Lapangan
Terkini
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga
-
Susu Kambing Etawa Indonesia Tembus Pameran Internasional: Etawanesia Unjuk Gigi di Expo Taiwan
-
Penanganan Penyintas Kanker Lansia Kini Fokus pada Kualitas Hidup, Bukan Sekadar Usia Panjang
-
Ini Rahasia Tubuh Tetap Bugar dan Kuat Menjalani Ramadan Optimal Tanpa Keluhan Tulang dan Sendi
-
Anak Sekolah Jadi Kelompok Rentan, Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue Diperluas di Palembang
-
Cuma Pakai Dua Jari, Dokter Ungkap Cara Deteksi Sakit Jantung dari Raba Nadi