Suara.com - Bertepatan dengan Hari Hipertensi Sedunia atau World Hypertension Day yang jatuh pada 17 Mei setiap tahunnya, Ketua Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia, dr. Eka Harmeiwaty, Sp.N memperingatkan 2 kesalahan jemaah haji dengan hipertensi yang berisiko mengancam nyawa.
Seperti diketahui saat ini nyaris di seluruh dunia sedang dilanda gelombang panas atau heatwave, sehingga udara yang terasa lebih panas dan menyengat dari pada biasanya. Kondisi ini juga terjadi di Mekkah, Arab Saudi padahal dalam waktu dekat bakal memasuki musim haji.
Heatwave adalah kenaikan suhu udara berkepanjangan hingga mencapai 5 derajat celcius dan dapat terjadi selama beberapa hari berturut-turut. Umumnya suhu panas akan sangat terasa bisa sudah mencapai kisaran 37 hingga 42 derajat celcius.
dr. Eka bercerita dirinya yang tahun lalu baru saja menyelesaikan ibadah haji di Tanah Suci Mekkah, kerap melakukan pendampingan terhadap jemaah haji yang sakit. Apalagi ia mendapati banyak jemaah haji yang sudah berusia lansia dan memiliki riwayat hipertensi.
Dokter spesialis saraf di RS Pusat Jantung Nasional Harapan Kita itu mengatakan kesalahan pertama jemaah haji yaitu banyak yang alami kekurangan cairan atau dehidrasi karena tidak cukup minum yang membuat kondisinya mudah drop. Apalagi suhu di Arab Saudi cenderung lebih panas dibanding di Indonesia.
"Saya ikut awasi teman-teman, kalau di sana itu konsumsi air, jangan minum tunggu haus," ujar dr. Eka dalam acara diskusi kampanye #BeatHypertension2024 Tropicana Slim di Jakarta Barat, Jumat (17/5/2024).
Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan kondisi ketika tekanan darah di atas batas normal (130/80 mmHg atau lebih)
Dokter yang juga jadi bagian dari Indonesia Society of Hypertension (InaSH) ini memahami banyak jemaah enggan minum dengan alasan khawatir harus bolak-balik ke toilet karena ingin buang air kecil sehingga menganggu proses ibadah haji.
Inilah sebabnya, dr. Eka menyarankan alih-alih minum banyak air sekaligus, lebih baik minum air dengan jumlah yang sedikit tapi rutin per satu jam sekali. Dengan cara ini dr. Eka meyakini, jemaah haji tidak akan terlalu sering pergi ke toilet.
Baca Juga: Kesaksian Jemaah Haji Makassar Usai Sempat Naik Pesawat Garuda yang Mesinnya Terbakar
Apalagi dr. Eka memahami jika jemaah haji reguler kerap kesulitan karena harus serba mengantri, dari mulai pergi ke toilet, mengambil makanan hingga mengambil stok air minum.
"Jadi palkng penting buat jamaah jangan minum pas haus aja, pokoknya reguler minum dikit-dikit, nggak akan kencing-kencing. Minum berkala itu agar terhidrasi, kemaren banyak yang meninggal karena dehidrasi," jelas dr. Eka.
Adapun kesalahan kedua jemaah haji, khususnya orang dengan hipertensi kerap abai saat berada di Tanah Suci Mekkah, salah satunya tidak patuh mengkonsumsi obat hipertensi. Atau bahkan kesalahan terbesarnya yaitu tidak membawa obat hipertensi saat persiapan berangkat ke Tanah Suci Mekkah.
"Kalau dia hipertensi merasa kalau pergi haji nggak perlu minum obat karena anggapan akan sembuh. Itu jamaah harus tahu, saya selalu bilang setiap akan berangkat obat nggak boleh berhenti, bawa obatnya hipertensi dan di sana nggak boleh capek," papar dr. Eka.
Berita Terkait
Terpopuler
- Jokowi Sembuh dan Siap Keliling Indonesia, Pengamat: Misi Utamanya Loloskan PSI ke Senayan!
- Promo Long Weekend Alfamart, Diskon Camilan untuk Liburan sampai 60 Persen
- 6 Warna Pakaian yang Dipercaya Bawa Keberuntungan untuk Shio di Tahun Kuda Api 2026
- 5 HP Xiaomi RAM Besar Termurah, Baterai Awet untuk Multitasking Harian
- Siapa Ayu Aulia? Bongkar Ciri-ciri Bupati R yang Membuatnya Kehilangan Rahim
Pilihan
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
Terkini
-
Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus
-
Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar
-
Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?
-
Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan
-
Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis
-
Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat
-
Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi
-
Kasus Hantavirus Ada di Provinsi Indonesia Mana Saja? Korban Meninggal Capai 3 Orang
-
Hantavirus Ada Sejak Kapan? Menilik Sejarah dan Munculnya Kasus di Indonesia
-
Gejala Awal Mirip Flu, Apa Perbedaan Hantavirus dan Corona?