Suara.com - Peningkatan suhu global akibat perubahan iklim telah menciptakan ancaman baru bagi ibu hamil di seluruh dunia. Sebuah laporan terbaru dari Climate Central mengungkapkan bahwa cuaca panas ekstrem kini berperan besar dalam meningkatkan risiko komplikasi kehamilan, terutama di negara-negara berkembang.
Selama periode 2020 hingga 2024, Climate Central menganalisis suhu harian di 247 negara dan lebih dari 900 kota. Hasilnya menunjukkan bahwa hampir sepertiga negara mengalami tambahan rata-rata satu bulan hari panas berisiko tinggi setiap tahun akibat perubahan iklim.
Sebagian besar dari negara-negara tersebut berada di wilayah Karibia, Amerika Latin, Asia Tenggara, Kepulauan Pasifik, dan Afrika sub-Sahara.
Hari panas berisiko didefinisikan sebagai hari dengan suhu maksimum lebih tinggi dari 95 persen suhu harian lainnya dalam sejarah wilayah tersebut. Suhu setinggi ini telah dikaitkan secara signifikan dengan peningkatan risiko kelahiran prematur, hipertensi dalam kehamilan, diabetes gestasional, bahkan lahir mati.
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) di Amerika Serikat, bahkan satu hari panas ekstrem selama kehamilan bisa memperbesar risiko komplikasi secara nyata.
Laporan ini tidak hanya menunjukkan tren suhu, tetapi juga ketimpangan dampaknya. Negara-negara yang paling terdampak panas ekstrem cenderung memiliki akses terbatas ke layanan kesehatan ibu dan anak.
"Banyak dari mereka juga tidak memiliki akses terhadap teknologi pendinginan yang memadai, seperti kipas angin atau AC. Kondisi ini memperbesar risiko yang harus dihadapi perempuan hamil, terutama dari kelompok masyarakat miskin," tulis mereka dalam laporannya.
Sebanyak 15 negara, hampir semuanya di wilayah Karibia, mengalami sedikitnya 60 hari tambahan hari panas kehamilan akibat perubahan iklim setiap tahun. Itu berarti sekitar seperlima dari total masa kehamilan rata-rata. Selain itu, ada 10 kota di dunia—mayoritas juga berada di Karibia—yang menghadapi lebih dari 70 hari panas kehamilan tambahan setiap tahunnya.
Climate Central menganalisis suhu global menggunakan data ERA5 beresolusi tinggi, lalu membandingkannya dengan suhu kontrafaktual—yakni suhu yang diperkirakan akan terjadi tanpa pengaruh perubahan iklim akibat ulah manusia. Suhu kontrafaktual dihitung menggunakan sistem Climate Shift Index (CSI), metode berbasis ilmu atribusi yang telah ditinjau sejawat.
Baca Juga: Siti Badriah Rela 'Puasa' 9 Bulan, Benarkah Ibu Hamil Tidak Boleh Makan Sashimi?
Analisis ini berfokus pada hari-hari ketika suhu maksimum melebihi 90%, 95%, dan 99% suhu harian lokal periode 1991–2020. Ketiga ambang ini digunakan untuk mengukur risiko panas terhadap kehamilan, khususnya kelahiran prematur. Laporan menitikberatkan pada hari di atas persentil ke-95, yang disebut sebagai hari berisiko panas kehamilan, merujuk pada studi seperti Wheeler et al., Bekkar et al., dan León-Depass & Sakala.
Analisis dilakukan terhadap 247 negara dan wilayah, serta 940 kota besar, dengan perincian khusus di negara besar seperti AS dan Kanada. Tujuannya untuk menghitung jumlah hari berisiko panas akibat perubahan iklim selama 2020–2024. Meski berbasis data presisi tinggi, hasilnya dibulatkan untuk keterbacaan tanpa mengurangi keakuratan keseluruhan.
Meskipun risiko ini meningkat secara global, laporan tersebut juga membuka ruang bagi solusi. Salah satunya adalah konsep "pendinginan yang adil", yaitu memastikan akses terhadap alat pendingin dan ruang aman bagi ibu hamil, terutama mereka yang tinggal di daerah rentan.
Klinik dan rumah sakit perlu dilengkapi dengan sistem ventilasi dan pendinginan hemat energi, agar tidak hanya menyelamatkan nyawa tetapi juga mengurangi beban biaya energi.
Selain itu, edukasi kepada masyarakat menjadi penting. Banyak perempuan hamil yang belum menyadari bahwa suhu tinggi bisa berdampak langsung pada kesehatan janin dan proses kelahiran. Kampanye publik tentang risiko panas dan pencegahannya bisa membantu menyelamatkan lebih banyak nyawa.
Laporan ini menjadi pengingat bahwa dampak perubahan iklim bukan hanya bencana besar atau peristiwa ekstrem yang kasat mata. Ia menyusup ke dalam kehidupan sehari-hari, bahkan sejak bayi masih dalam kandungan.
Di tengah krisis iklim global, perlindungan terhadap ibu hamil harus menjadi prioritas—bukan hanya sebagai bentuk tanggung jawab lingkungan, tetapi juga sebagai wujud keadilan sosial dan hak asasi manusia.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- 3 Klub Pemain Timnas Indonesia Berhasil Raih Tiket Promosi Musim Ini
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- HP Vivo yang Bagus Seri Apa? Ini Rekomendasi Seri X, V, dan Y Sesuai Kebutuhan
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
Terkini
-
Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien
-
Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia
-
Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif
-
Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19
-
Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?
-
Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai
-
Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien
-
Merasa Sehat Bisa Menipu, Cerita Iwet Ramadhan dan Dave Hendrik Jadi Peringatan Bahaya Hipertensi
-
Robekan Aorta Tingkatkan Risiko Kematian Tiap Jam, Layanan Terpadu Jadi Kunci Penyelamatan
-
Heboh Wanita Bekasi Tunjukkan Wajah Khas Gagal Ginjal, Waspadai Ciri-cirinya!