- Teknologi nyamuk Wolbachia terbukti efektif menurunkan kasus DBD di wilayah intervensi.
- Negara ASEAN berkolaborasi gunakan Wolbachia dan vaksinasi hadapi tantangan perubahan iklim.
- Bakteri Wolbachia alami mampu memblokir virus dengue berkembang di tubuh nyamuk.
Suara.com - Program nyamuk Wolbachia untuk pengendalian demam berdarah dengue (DBD) tidak hanya diterapkan di Indonesia, tetapi juga di sejumlah negara ASEAN yang masih berperang melawan dengue.
Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Prof. Asnawi Abdullah, Ph.D, mengatakan meski Indonesia belum berhasil mencapai nol kasus, inovasi nyamuk Wolbachia terbukti membantu menurunkan kasus dengue pada 2025 di beberapa wilayah yang mendapat intervensi.
"Penurunan angka kasus dengue hingga ke angka 57 per 100.000 penduduk pada 2025 bukanlah sebuah kebetulan. Ini adalah hasil nyata dari pergeseran strategi kita yang lebih proaktif dan adaptif terhadap perubahan iklim, terutama melalui perluasan teknologi Wolbachia dan penguatan cakupan vaksinasi," ujar Prof. Asnawi dalam forum regional pencegahan dan pengendalian dengue pada negara ASEAN di Jakarta, Selasa (13/2/2026).
Prof. Asnawi juga mengingatkan bahwa nyamuk Aedes aegypti tidak mengenal batas negara sehingga dapat berpindah mengikuti mobilitas manusia. Ditambah lagi, pencegahan dengue kini semakin menantang akibat perubahan iklim yang memengaruhi cuaca.
Karena itu, menurutnya, kekompakan negara-negara ASEAN penting dalam melawan dengue. Ia menekankan perlindungan masyarakat dapat tetap maksimal melalui inovasi seperti teknologi Wolbachia dan pemberian vaksin.
“Nyamuk itu tidak butuh paspor untuk pindah-pindah negara, jadi kita di ASEAN harus kompak melawannya. Kita memang tidak bisa mengatur cuaca atau menghentikan El Niño, tetapi kita bisa melindungi warga dengan cara-cara yang lebih cerdas, seperti menggunakan teknologi nyamuk Wolbachia dan memperluas vaksinasi,” papar Asnawi.
Di sisi lain, Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan, Prima Yosephine, mengatakan teknologi nyamuk Wolbachia menjadi salah satu cara untuk mengontrol lingkungan dari sisi vektor nyamuk. Cara kerjanya disebut menyerupai vaksin yang diberikan pada nyamuk Aedes aegypti agar tidak lagi membawa virus dengue.
"Kita harus mengontrol lingkungannya, vektor nyamuknya, dan manusianya melalui vaksin. Ketiganya harus berjalan bersamaan secara komprehensif. Jangan sampai kita bicara vaksin, tetapi lingkungannya dibiarkan kumuh," ungkap Prima di acara yang sama.
Perlu diketahui, Wolbachia adalah bakteri yang sangat umum dan muncul secara alami pada sekitar 50 persen spesies serangga, termasuk beberapa nyamuk, lalat buah, ngengat, capung, dan kupu-kupu.
Baca Juga: Anak Rentan DBD Sepanjang Tahun! Ini Jurus Ampuh Melindungi Keluarga
Bakteri ini mampu memblokir virus seperti dengue, chikungunya, dan Zika agar tidak berkembang di dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti.
Program nyamuk Wolbachia di Indonesia sendiri telah berjalan di lima kota. Hasil evaluasi penurunan kasus dengue di wilayah tersebut rencananya akan menjadi dasar perluasan program secara bertahap ke 20 hingga 100 kota di Indonesia.
Efektivitas nyamuk Wolbachia menjadi salah satu pembahasan dalam Forum Regional: Mendorong Aksi Kolektif dalam Pencegahan dan Pengendalian Dengue di Kawasan ASEAN/Asia Tenggara pada 9–10 Februari 2026.
Forum yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan RI bersama Koalisi Bersama (KOBAR) Lawan Dengue ini dihadiri sekitar 150 peserta dan panelis yang terdiri dari pembuat kebijakan, otoritas kesehatan, organisasi regional dan global, komunitas ilmiah, serta mitra pembangunan dari negara-negara ASEAN, termasuk perwakilan 10 dari 11 negara anggota.
Adapun sejak Januari hingga Maret 2025, lebih dari 1,4 juta kasus dengue dan lebih dari 400 kematian dilaporkan di 53 negara dan teritori dalam wilayah WHO. Secara global, lebih dari 3,9 miliar orang berisiko terinfeksi dengue, dengan estimasi sekitar 390 juta infeksi setiap tahun, di mana sekitar 96 juta kasus bersifat klinis.
WHO mencatat dengue kini menjadi salah satu penyakit tular vektor dengan pertumbuhan tercepat di dunia, dengan kawasan Asia Pasifik sebagai kontributor kasus terbesar.
Berita Terkait
Terpopuler
- Catat Tanggalnya! Ribuan Warga Badui Bakal Turun Gunung Temui Gubernur Banten Bulan April
- 5 Rekomendasi Smartwatch yang Bisa Balas WhatsApp, Mulai Rp400 Ribuan
- 7 Sepatu Lari Tahan Air Selevel Nike Vomero 18 GTX, Kualitas Top
- Donald Trump: Pangeran MBS Kini Mencium Pantat Saya
- Dua 'Pesawat Super' Milik AS Hancur, Kekuatan Militer Iran Kejutkan Dunia
Pilihan
-
Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
-
Petir Bikin Duel Kepulauan Solomon vs Saint Kitts and Nevis di Stadion GBK Ditunda
-
Sesaat Lagi! Ini Link Live Streaming Timnas Indonesia vs Bulgaria
-
Melihat 3 Pemain yang Bakal Jadi Senjata Utama Timnas Indonesia Hadapi Bulgaria
-
Profil Sertu Farizal Rhomadhon, Prajurit TNI asal Kulon Progo yang Gugur di Lebanon
Terkini
-
Lawan Risiko Penyakit Pascabanjir: Membangun Kembali Harapan Lewat Akses Air dan Nutrisi Sehat
-
Solusi Makan Nasi Lebih Sehat: Cara Kurangi Karbohidrat Tanpa Diet Ekstrem
-
Ketahui Manfaat Tak Terduga Bermain Busa Lembut Saat Mandi untuk Perkembangan Otak Si Kecil
-
Campak pada Orang Dewasa Apakah Menular? Ketahui Gejala, Pencegahan, dan Pengobatannya
-
2 Anak Harimau Mati karena Panleukopenia, Dokter Hewan: Lebih Mematikan dari Kucing Domestik
-
Transformasi Digital di Rumah Sakit: Bagaimana AI dan Sistem Integrasi Digunakan untuk Pasien
-
Standar Internasional Teruji, JEC Kembali Berjaya di Healthcare Asia Awards
-
Dokter Muda di Cianjur Meninggal Akibat Campak, Kemenkes Lakukan Penyelidikan Epidemiologi
-
Madu Herbal untuk Daya Tahan Tubuh: Kenali Manfaat dan Perannya bagi Kesehatan
-
Kenali Manfaat Injeksi Vitamin C untuk Daya Tahan dan Kesehatan Kulit