Informasi ilmiah mengenai kandungan gizi ikan sapu-sapu masih terbatas. Dibandingkan dengan ikan konsumsi umum seperti lele atau nila, data mengenai nilai protein, lemak, dan nutrisi lainnya belum banyak tersedia secara pasti.
5. Reaksi Alergi
Konsumsi ikan tertentu dapat memicu reaksi alergi pada sebagian orang. Ikan sapu-sapu yang tidak umum dikonsumsi, berpotensi menimbulkan reaksi yang belum banyak terdokumentasi, seperti gatal, ruam, atau gangguan pernapasan.
6. Struktur Tubuh yang Keras
Ikan sapu-sapu memiliki kulit keras dan bagian tubuh yang kasar. Kondisi ini dapat menimbulkan risiko luka saat proses pembersihan atau konsumsi, terutama jika terdapat bagian tajam atau serpihan keras yang tidak terolah dengan baik.
7. Akumulasi Zat Berbahaya dalam Jangka Panjang
Konsumsi ikan dari perairan tercemar secara berulang dapat meningkatkan kemungkinan akumulasi zat berbahaya dalam tubuh. Dalam jangka panjang, kondisi ini dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan kesehatan kronis.
Ikan sapu-sapu dikenal sebagai spesies yang hidup di lingkungan perairan yang cenderung kotor dan juga dikategorikan sebagai ikan invasif di beberapa wilayah.
Kondisi tersebut berkaitan dengan berbagai potensi risiko kesehatan, mulai dari paparan logam berat hingga kontaminasi mikroorganisme.
Baca Juga: Misteri Ikan Sapu-Sapu yang Tak Pernah Habis Dibasmi, Ternyata Biang Keroknya Kita Sendiri?
Meskipun belum bisa dikatakan berbahaya, namun ada baiknya untuk menghindari konsumsi ikan sapu- sapu dan menggantinya dengan konsumsi ikan penuh protein seperti salmon atau patin.
Kontributor : Dea Nabila
Berita Terkait
-
Misteri Ikan Sapu-Sapu yang Tak Pernah Habis Dibasmi, Ternyata Biang Keroknya Kita Sendiri?
-
Merusak Tanggul dan Ikan Lokal, Pramono Instruksikan Operasi Pembersihan Ikan Sapu-Sapu di Jakarta!
-
Pemkot Jakpus Bersihkan Ikan Sapu-sapu Perusak Turap di Kali Cideng
-
Siomay Sapu-Sapu: Antara Kreativitas Kuliner dan "Jebakan Batman" Kesehatan
-
Suara dari Sungai Ciliwung: Ketika Warga Menggantikan Peran Negara
Terpopuler
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Warga Kayumanis Bogor Tolak PSEL
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- 5 HP Baru 2026 Memori Besar dan Baterai Badak untuk Multitasking, Harga Rp2 Jutaan
Pilihan
-
Drama Final Liga Champions: Sakitnya Arsenal, PSG Back to Back Juara
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
Terkini
-
Fakta Kanker Payudara yang Jarang Dibahas: Harapan Baru dan Pentingnya Skrining
-
Perempuan Hadapi Dampak Lebih Besar dari Gelombang Panas Ekstrem
-
Cara Memilih Susu Formula, Ini 5 Kriteria yang Perlu Diperhatikan Orang Tua
-
Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?
-
Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak
-
Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian
-
Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI
-
Mengapa Lupus Lebih Banyak Menyerang Wanita?