Suara.com - Penyakit lupus menjadi salah satu gangguan autoimun yang cukup banyak dialami wanita, terutama pada usia produktif. Kondisi ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi tubuh dari infeksi justru menyerang jaringan dan organ tubuh sendiri. Akibatnya, penderita bisa mengalami peradangan pada kulit, sendi, ginjal, hingga organ vital lainnya.
Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Reumatologi, dr. Sandra Sinthya Langow, SpPD-KR mengungkapkan, wanita memiliki risiko jauh lebih tinggi terkena lupus dibandingkan pria. Bahkan, sekitar 9 dari 10 penderita lupus adalah perempuan, terutama pada usia produktif 15 hingga 45 tahun.
dr. Sandra menjelaskan, kondisi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, mulai dari hormon, genetik, hingga sistem imun tubuh wanita yang cenderung lebih aktif.
Pengaruh Hormon Estrogen
Salah satu alasan utama lupus lebih sering menyerang wanita adalah pengaruh hormon estrogen. Hormon ini berperan penting dalam sistem reproduksi perempuan, tetapi juga dapat mempengaruhi aktivitas sistem kekebalan tubuh.
Estrogen diketahui mampu meningkatkan respons imun tubuh. Di satu sisi hal ini membantu tubuh melawan infeksi lebih baik, namun di sisi lain juga membuat risiko terjadinya penyakit autoimun menjadi lebih tinggi. Karena itu, lupus sering muncul pada wanita usia 15 hingga 45 tahun, saat hormon estrogen berada pada tingkat aktif.
Selain itu, gejala lupus pada sebagian wanita juga dapat memburuk saat menstruasi, kehamilan, atau setelah melahirkan karena perubahan hormon yang terjadi dalam tubuh.
Faktor Genetik dan Riwayat Keluarga
Faktor keturunan juga memiliki peran besar dalam meningkatkan risiko lupus. Seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan penyakit autoimun cenderung memiliki peluang lebih tinggi mengalami kondisi serupa.
Baca Juga: Kenapa Penyakit Lupus Banyak Diidap Perempuan, Dokter Ungkap Sebabnya
Beberapa penelitian menunjukkan adanya gen tertentu yang berkaitan dengan lupus dan lebih banyak ditemukan pada wanita. Meski demikian, lupus bukan penyakit menular dan tidak selalu diwariskan secara langsung.
Sistem Imun Wanita Lebih Aktif
Secara alami, sistem imun wanita memang lebih kuat dibanding pria. Hal ini membuat perempuan lebih tahan terhadap beberapa jenis infeksi. Namun, sistem imun yang terlalu aktif juga dapat memicu tubuh salah mengenali sel sehat sebagai ancaman.
Ketika kondisi ini terjadi, tubuh mulai menyerang jaringan sendiri dan memicu peradangan kronis yang menjadi ciri khas lupus.
Faktor Lingkungan dan Gaya Hidup
Selain hormon dan genetik, lupus juga dapat dipicu oleh faktor lingkungan. Paparan sinar matahari berlebihan, stres berkepanjangan, kurang istirahat, infeksi tertentu, hingga penggunaan obat tertentu dapat memicu munculnya gejala lupus pada orang yang memiliki faktor risiko.
Tag
Berita Terkait
-
Gejala Beragam dan Sulit Terdeteksi, Ini Fakta tentang Autoimun
-
Dari Lupus hingga Kanker Tiroid: Perjuangan Niken di Buku Saya Bukan Dokter
-
Kasus Lupus di Jakarta Terus Naik, DKI Fokus Skrining Perempuan Usia 18 Tahun
-
10 Mei Hari Apa? Ternyata Banyak Perayaan dalam Sehari
-
Kabar Terkini Pemain Sinetron Lupus Milenia, Sinetron Remaja Populer di Tahun 2000-an
Terpopuler
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
- Danantara Sumberdaya Indonesia Batal Beroperasi Penuh, Pemerintah Mundurkan Skema Ekspor SDA di 2027
- Gugurkan Klaim Santriwati 'Hamil Tanpa Hubungan Badan', Polisi Tangkap Kiai di Pekalongan
Pilihan
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
-
Live 'Pocong Jadi-Jadian' Hebohkan Warga Sragen, 3 Pelajar Diamankan Polisi
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
Terkini
-
Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?
-
Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak
-
Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian
-
Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI
-
Hoops + Health Youth Basketball Festival 2026 Dorong Generasi Muda Hidup Sehat & Melek Finansial
-
Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien
-
Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia
-
Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif