Health / Konsultasi
Selasa, 26 Mei 2026 | 23:23 WIB
Manager Corcom & Media Relation Pertamedika IHC, Pertaonan Doly Pane (Kiri) dan Pemimpin Redaksi Suara.com, Suwarjono. (Suara.com/Dini Afrianti Efendi)
Baca 10 detik
  • Pertamedika IHC mengunjungi kantor Suara.com di Jakarta Barat pada Selasa, 26 Mei 2026.
  • Kedua pihak berupaya memerangi penyebaran hoaks kesehatan dengan menyediakan informasi valid dari narasumber dokter yang kompeten.
  • Kolaborasi ini bertujuan mengoptimalkan peran rumah sakit BUMN dalam memberikan edukasi kesehatan yang otoritatif untuk menyaingi dominasi informasi AI.

Suara.com - PT Arkadia Digital Media Tbk melalui anak usahanya, portal berita Suara.com, menerima kunjungan Pertamedika IHC (Indonesia Healthcare Corporation) untuk menjajaki potensi kerja sama edukasi kesehatan bagi masyarakat.

Pemimpin Redaksi Suara.com, Suwarjono, mengatakan masih banyak hoaks kesehatan yang menyesatkan dan meresahkan masyarakat. Karena itu, diperlukan penjelasan dari pakar hingga dokter yang kompeten untuk memberikan edukasi.

"Orang selalu mencari mana yang benar. Kalau isu kesehatan itu hoaks atau berita bohongnya cukup besar dan itu pentingnya memberikan kepastian informasi yang benar kepada masyarakat," ujar Suwarjono saat menerima kunjungan Pertamedika IHC di kantor Suara.com, Palmerah, Jakarta Barat, Selasa (26/5/2026).

Menanggapi hal itu, Manager Corcom & Media Relation Pertamedika IHC, Pertaonan Doly Pane, mengakui Indonesia masih terus berjuang melawan berita bohong atau hoaks, termasuk dalam isu kesehatan.

Kunjungan Pertamedika IHC (Indonesia Healthcare Corporation) di kantor Suara.com, Jakarta Barat, Selasa (26/5/2026).(Suara.com/Dini Afrianti Efendi)

Apalagi Indonesia memiliki cakupan wilayah yang luas, sehingga menurut Doly, keberadaan 36 rumah sakit BUMN yang tersebar di berbagai daerah bisa berkolaborasi dalam edukasi kesehatan.

"Kita punya beberapa rumah sakit yang tersebar. Paling banyak ada di Jawa Timur, seperti di Kediri, Palembang, Makassar, Balikpapan, butuh terlibat dengan media yang membutuhkan narasumber dokter untuk berkolaborasi," papar Doly.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Pemimpin Redaksi Suara.com, Reza Gunadha, mengatakan pentingnya otoritas dalam informasi kesehatan, yakni memastikan edukasi kepada masyarakat dilakukan oleh narasumber yang berwenang dari sisi keilmuan.

Hal ini karena masih banyak masyarakat yang belum bisa mengakses layanan telemedicine seperti Halodoc dan Alodokter sehingga memilih melakukan pencarian di Google dan media sosial dengan narasumber yang kredibilitasnya tidak dapat dibuktikan.

Sayangnya, saat ini laman pencarian seperti Google didominasi oleh mesin AI yang kerap menghasilkan informasi bukan berdasarkan penjelasan narasumber berkompeten.

Baca Juga: Jateng Media Summit 2026 Dorong Pemda Perkuat Strategi Digital untuk Tangkal Hoaks

Kunjungan Pertamedika IHC (Indonesia Healthcare Corporation) di kantor Suara.com, Jakarta Barat, Selasa (26/5/2026).(Suara.com/Dini Afrianti Efendi)

"Jadi sudah saatnya kita banjiri AI dengan edukasi. Termasuk memperbanyak artikel kesehatan yang otoritatif," ungkap Reza.

Sementara itu, Direktur Utama RS PELNI, dr. Laili Fathiyah, mengaku tidak mempermasalahkan penggunaan AI untuk meminta penjelasan awal. Namun, informasi tersebut tidak boleh ditelan mentah-mentah karena tetap harus divalidasi oleh dokter yang berkompeten.

dr. Laili juga mengakui bahwa saat ini masyarakat tidak bisa melawan perkembangan zaman, termasuk dari sisi AI. Namun, faktor sentuhan manusia dari sisi empati tenaga kesehatan tidak bisa digantikan mesin.

"Menarik di RS nggak semuanya dokter yang punya mindset AI dan ada yang belum. Industri kesehatan itu nggak bisa digantikan yaitu touch-nya," pungkas dr. Laili.

Pertemuan ini juga membahas strategi edukasi untuk mencegah pasien berobat ke luar negeri, mengingat rumah sakit di Indonesia memiliki pelayanan yang tidak kalah premium.

Load More