Anak Sering Ruam atau Diare Setelah Minum Susu? Bisa Jadi Tanda Alergi Susu Sapi

Jum'at, 12 Juni 2026 | 12:50 WIB
Ilustrasi Anak Sakit Perut atau Diare setelah Minum Susu Sapi. (Pexels)
  • Alergi protein susu sapi pada anak di Indonesia mencapai 7,5 persen dan sering disalahartikan sebagai gangguan pencernaan biasa.
  • Diagnosis dini oleh dokter sangat penting agar tumbuh kembang anak tidak terhambat akibat kekurangan nutrisi dan risiko stunting.
  • Penanganan alergi memerlukan pengawasan medis profesional dalam menentukan pilihan formula nutrisi yang sesuai dengan kondisi spesifik masing-masing anak.

Suara.com - Ruam yang tak kunjung hilang, diare berulang, muntah, perut kembung, atau anak tiba-tiba menjadi lebih rewel setelah minum susu sering kali dianggap sebagai gangguan pencernaan biasa. Padahal, pada sebagian anak, keluhan tersebut bisa menjadi tanda alergi protein susu sapi (APSS) yang membutuhkan penanganan berbeda.

Kondisi ini kerap membuat orang tua bingung karena gejalanya mirip dengan masalah kesehatan yang umum terjadi pada anak. Akibatnya, tidak sedikit yang mencoba mencari jawaban sendiri atau mengganti susu tanpa berkonsultasi dengan dokter. Padahal, diagnosis yang terlambat dapat berdampak pada kecukupan nutrisi dan tumbuh kembang anak.

Berdasarkan studi yang dipublikasikan dalam Asia Pacific Journal of Clinical Nutrition (2025), prevalensi alergi susu sapi di dunia berkisar antara 2 hingga 7,5 persen. Sementara itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat angka kejadiannya di Indonesia dapat mencapai 7,5 persen.

Dokter Spesialis Anak Konsultan Alergi Imunologi, dr. Molly Dumakuri Oktarina, Sp.A, Subsp.A.I (K), menjelaskan bahwa setiap anak memiliki kondisi yang berbeda sehingga penanganan alergi susu sapi tidak bisa disamaratakan.

"ASI tetap merupakan nutrisi terbaik bagi anak, termasuk pada anak dengan alergi protein susu sapi. Namun, ibu perlu menghindari konsumsi susu sapi dan produk turunannya sebagai bagian dari penanganan," ujar dr. Molly di acara World Allergy Week 2026, Jakarta.

Ia menjelaskan, formula terhidrolisa ekstensif (extensively hydrolyzed formula/eHF) umumnya direkomendasikan untuk anak dengan alergi ringan hingga sedang.

Sementara itu, formula berbasis asam amino (amino acid formula/AAF) diberikan pada anak dengan alergi yang lebih berat atau ketika gejala tidak membaik dengan eHF.

Adapun formula berbasis soya dapat menjadi alternatif pada kasus alergi ringan hingga sedang, terutama jika terdapat kendala biaya atau ketersediaan eHF.

Di sisi lain, susu terhidrolisat parsial (partially hydrolyzed formula/PHF) bukan merupakan pilihan terapi untuk alergi protein susu sapi.

"Karena tidak semua formula cocok untuk setiap anak, seluruh proses mulai dari diagnosis hingga pemilihan nutrisi perlu dilakukan di bawah pengawasan dokter anak agar kebutuhan nutrisi serta tumbuh kembang anak tetap terjaga," tambahnya.

Sejumlah studi menunjukkan bahwa formula terhidrolisa ekstensif, khususnya yang berbasis whey, memiliki tingkat toleransi yang tinggi dan rasa yang lebih mudah diterima anak sehingga dapat mendukung kepatuhan konsumsi. Sementara itu, formula berbasis asam amino diketahui mampu membantu meredakan gejala alergi dengan cepat dengan risiko reaksi alergi yang sangat minimal. Formula berbasis soya juga dapat menjadi alternatif, selama tetap memastikan kebutuhan nutrisi penting seperti omega-3 dan omega-6, AA, DHA, minyak ikan tuna, zat besi, serta vitamin C terpenuhi untuk mendukung tumbuh kembang optimal.

Sementara itu, Medical and Scientific Affairs Director Sarihusada, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, mengatakan alergi protein susu sapi tidak hanya berdampak pada kondisi fisik anak, tetapi juga dapat memengaruhi kualitas hidup secara menyeluruh jika tidak ditangani dengan tepat.

"Tata laksana alergi protein susu sapi yang tidak tepat dapat memengaruhi kecukupan asupan nutrisi yang dibutuhkan anak untuk tumbuh kembang optimal. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko stunting. Sejumlah studi bahkan menunjukkan risiko stunting dapat mencapai 24 persen pada anak dengan alergi protein susu sapi. Selain itu, dampaknya juga dapat dirasakan pada aspek psikologis, sosial, hingga finansial, sekaligus menjadi tantangan bagi keluarga dalam menjalani pengelolaan sehari-hari," ujar dr. Ray.

Menurutnya, orang tua perlu mengenali gejala alergi sejak dini dan menghindari melakukan diagnosis sendiri. Konsultasi dengan dokter spesialis anak menjadi langkah penting untuk memastikan diagnosis dan penanganan yang tepat, sekaligus menjaga agar kebutuhan nutrisi anak tetap terpenuhi.

"Melalui inisiatif SADAR Alergi, kami menghadirkan edukasi berbasis sains melalui berbagai kanal digital dan komunitas agar orang tua memperoleh informasi yang tepat. Kami juga mendukung pemenuhan kebutuhan nutrisi anak dengan alergi protein susu sapi melalui berbagai pilihan formula, mulai dari formula terhidrolisa ekstensif (eHF), formula berbasis asam amino (AAF), hingga formula berbasis soya yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan anak berdasarkan rekomendasi dokter. Selain itu, bersama para ahli kami juga mengembangkan alat bantu digital untuk membantu tenaga kesehatan mendeteksi gejala alergi protein susu sapi lebih dini dan lebih akurat," jelasnya.

Menyambut World Allergy Week 2026 yang mengusung tema Allergy Care is Essential Care, Sarihusada kembali memperkuat program SADAR Alergi (Skrining Awal dan Asupan Rekomendasi Alergi) untuk meningkatkan edukasi mengenai deteksi dini alergi susu sapi.

Hal ini karena menurut Healthcare Nutrition Director Sarihusada, Vera Saw, masih banyak orang tua yang belum menyadari gejala alergi susu sapi sehingga kerap melakukan self-diagnosis tanpa berkonsultasi dengan tenaga medis.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com